"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Minggu, 17 Mei 2015

Triawan Munaf Jelaskan Peran Didi Petet dalam World Expo Milan 2015 - via DetikNews

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews

Jakarta - Almarhum Didi Petet Widiatmoko meninggal dunia pada Jumat (15/5) lalu setelah mengikuti ajang World Expo Milan 2015 di Italia. Sebagai Ketua Koperasi Pelestarian Budaya Nasional (KPBN) Didi Petet sekaligus pula berperan sebagai Ketua panitia penyelenggara dari pavilion Indonesia.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Barekraf) Triawan Munaf kemudian memaparkan bagaimana peran Didi Petet dalam ajang terbesar ketiga setelah Piala Dunia dan Olimpiade tersebut. Menurut Triawan, sosok Didi Petet pantang menyerah demi ikutnya Indonesia di ajang itu.

"Pertama-tama, perlu saya jelaskan bahwa penyenggaraan Paviliun Indonesia di Milan ini sepenuhnya oleh swasta yaitu atas inisiatif almarhum Didi Petet sendiri dengan mengatasnamakan Koperasinya. Kira-kira mendekati akhir tahun 2014, saya dihubungi oleh Almarhum yang meminta saran-saran untuk dapat menghimpun sponsor-sponsor yang dibutuhkannya mengingat Expo di Milan ini akan dimulai beberapa bulan lagi tapi belum ada satu pun sponsor yang menyatakan bersedia berpartisipasi," tutur Triawan dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Minggu (17/5/2015).

Dia kemudian membandingkan dengan penyelenggaraan pameran sebelumnya di Shanghai, Tiongkok pada tahun 2010 pemerintah merogoh kocek APBN hingga Rp 250 - 300 miliar. Mahalnya biaya tersebut membuat pemerintah saat itu memutuskan untuk tak ikut ajang ini di tahun 2015, atau saat ini.

"Almarhum mengajukan diri (kepada Menteri Marie Pangestu waktu itu) untuk mengambil alih penyelenggaraan dan pendanaannya secara swasta," kata Triawan.

Melanjutkan penjelasannya, Triawan menyatakan bahwa banyak pekerjaan arsitektur dan konstruksi yang sudah kejar-kejaran dengan kondisi pendanaan yang hampir tidak ada. Di saat-saat kritis itu, seorang pengusaha swasta meminjamkan dana bridgingsebesar Rp 4 - 5 miliar, namun dana ini hanya mencukupi bagi pembiayaan awal saja. Sedangkan Expo Milan 2015 ini akan berjalan selama 6 bulan dari 1 Mei 2015 sampai 31 Oktober 2015, yang tentunya akan memerlukan banyak biaya untuk menjalankannya.

"Setelah itu saya tidak lagi mengikuti perkembangannya, tapi saya sempat diberitahu oleh almarhum sewaktu masih di Milan sebelum pulang ke Jakarta dalam kondisi sakit, bahwa dana yang terkumpul dari para sponsor dan sudah terpakai itu baru sebesar Rp 34 miliar dari sekitar minimal Rp 57 miliar yang dibutuhkan.
Hitung-hitungan almarhum pada awalnya diperkirakan dibutuhkan Rp 80 miliar," ungkap Triawan.
"Nah, dalam kondisi pendanaan yang cekak itu lah Expo Milan dibuka pada tanggal 1 Mei 2015 dengan segala keterbatasannya. Sejak awal saya selalu bilang kepada almarhum bahwa Expo Milan ini pekerjaan yang telalu besar dan rumit untuk dikerjakan seorang Didi Petet tanpa pendanaan yang jelas ataupun dari pemerintah. Saya selalu bilang 'Kang Dipet nekad'. Tapi karena merasa sudah merasa tidak bisa mundur lagi, Almarhum tetap saja melaksanakannya," lanjut ayah dari Sherina Munaf itu.

Tetapi Didi Petet tak lantas menyerah, kata Triawan. Dalam upayanya mencari sponsor, dia mendapat jawaban dari Kementerian Perdagangan RI dalam bentuk teknis dan Kemenko Kemaritiman yang akan mengirimkan ekspedisi kapalnya dalam rangka The World Ocean Day bulan September nanti di Milan.

Pernyataan Triawan ini sekaligus mengklarifikasi tulisan akun Derek Manangka di laman Facebook. Triawan menegaskan bahwa Didi Petet sama sekali tak memanfaatkan APBN dalam perannya di World Expo Milan.

"Jadi tidak benar bahwa ada uang negara maupun komitmen APBN yang digunakan oleh kepanitiaan almarhum Didi Petet, yang disebut dikorupsi dari dana sebesar 'Rp 80 miliar dan hanya separuhnya cair' itu. Sebelum almarhum wafat saya sempat meminta agar almarhum mengeluarkan statement untuk mengklarifikasi berita yang simpang-siur ini. Namun kondisi kesehatannya terus menurun hingga kita semua kehilangan seorang sahabat dan aktor besar ini dua hari yang lalu. Tentu saja almarhum merasa tertekan dengan kondisi ini. Apalagi almarhum membaca dan mendengar berita-berita di media sosial yang di antaranya menuduh adanya korupsi dan lain-lain," tutur Triawan.


by Facebook Comment

Sabtu, 09 Mei 2015

Indonesian Cinema Hadir di Cannes Film Festival 2015

Cannes Film Festival adalah festival film paling bergengsi dan terbesar. Dihadiri oleh pelaku industri dunia, festival ini menjadi barometer penting industri film kelas dunia. Karena itu kehadiran Indonesian Cinema menjadi penting. Festival ini akan berlangsung 13 sampai 24 Mei 2015 di Cannes, Perancis. 

Kehadiran Indonesian Cinema kali ini cukup unik. Pertama karena dikelola oleh swasta. Dikarenakan festival film biasanya berada di bawah Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif maka setelah dibentuk Badan Ekonomi Kreatif maka pengelolaan festival otomatis terlepas dari Kementrian Pariwisata. Sementara Bekraf masih dalam proses pembentukan, maka beberapa penggiat film bersama Badan Perfilman Indonesia berinisiatif untuk tetap menghadirkan Indonesian Cinema. Didukung oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Pariwisata, Bekraf, serta pihak swasta EFX - Equator Film Expo, XXI dan Torabika.

Kedua, kali ini yang dihadirkan tidak hanya film panjang tetapi juga rangkaian film pendek. Selain itu terdapat informasi seputar animator-animator Indonesia yang handal yang diharapkan mampu menggaet pelaku industri film dunia untuk bekerja sama. 

Ketiga, menyadari bahwa film dan pariwisata sebetulnya memiliki kaitan erat kami juga memperkenalkan keindahan alam Indonesia untuk produksi film dunia untuk tertarik datang dan suting di Indonesia.

Keempat, film Indonesia berhasil masuk ajang kompetisi bergengsi di Cannes, Critics Week. Ini merupakan kali kedua setelah Tjut Nyak Dien film Indonesia mampu menembus final seleksi ini. terpilih menjadi satu dari 10 film yang lolos dari sekitar 1400 yang ikut berkompetisi. “Fox Exploits the Tiger’s Might” karya Lucky Kuswandi produksi Babi Buta Film. 

Kelima, Marche du Film adalah salah satu acara utama Festival Cannes di luar kompetisi, yang melibatkan puluhan ribu praktisi industri film dari seluruh dunia, khususnya para distributor, pemasar dan pembeli hak edar. Disini film "Filosofi Kopi" karya Angga Dwimas Sasongko akan diputar membuka penampilan dri film Indonesia, juga "Sendiri Diana Sendir"i (Following Diana)  karya Kamila Andini dan  "Kisah Cinta yang Asu" ((Love Story Not) karya Yosep Angginoen. Sedangkan film "Tabula Rasa" karya Adriyanto Dewo akan tampil tidak hanya di market screening tetapi juga terpilih mewakili Indonesia dalam Cannes Cinephiles/Cinema des  Antipodes yang biasa diikuti film dri kawasan Asia, Pacific dan Australia. Dalam pemutarannya nanti Konjen Indonesia kan menyediakan rendang untuk dicicipi setelah menonton filmnya. (Olga Lydia, praktisi film Indonesia


by Facebook Comment

Jumat, 08 Mei 2015

VIDEO: Tatis rilis ingle baru "Work It Out" ==> @Fangtatis

Tatis Mengedepankan Segi Art Dalam 'Work It Out'
Dok.Trax Magz - Bima Bintoro

Sebagaimana para musisi yang selalu memikirkan pendalaman pada tiap karya-karyanya, begitu pula yang dilakukan Tatis dalam melaunching video single ke-2nya yang berjudul 'Work It Out'. 'Work It Out' ialah salah satu nomor bernuansa hip-hop dengan balutan musik Electro Dance yakni, Trap. "Gue lebih memilih untuk menjadi diri sendiri dan akhirnya merasa sangat puas dengan video ini, dimana gue bisa menerjemahkan tentang bagaimana suasana pesta yang sesungguhnya," ujar Tatis yang bernama lengkap Annatria Praptiasih.

Tatis yang edgy dalam bereksplorasi menjalani karir bermusik, terutama di arena hip hop, memang menjadi sumber ide bagi Alain Goenawan untuk membuat video art untuk clip lagu 'Work It Out' yang terdapat dalam album Tatis yang bertajuk Boom. Alain Goenawan bertindak sebagai produser klip, sedangkan Uplo di tunjuk menjadi sutradara. "Melihat kepribadian yang dimiliki Tatis, cara bernyanyinya, hingga musiknya, “Work It Out” sendiri sangat cocok divisualisasikan dengan memanfaatkan UV Light," ujar Alain Goenawan sang produser dalam klipnya kali ini.

Untuk mendapatkan kerennya efek UV, maka wajah, tubuh, dan baju rancangan milik Danjyo Hiyoji yang dikenakan Tatis dihias dengan luminescent painting oleh Rebellionik (UV artist). Demikian pula ketiga penari, Mario Lawallata, Ello, dan Jordan Joe harus dihiasi luminescent painting atau UV painting. Talia Soebandrio-lah yang mengurusi make up klip ini. "Shooting harus gelap-gelapan dengan hanya menggunakan cahaya minim dari lampu yang khusus membuat warna UV tersebut keluar, warna-warni, dan seksi," Alain menambahkan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para tim produksi. Alain selain bertindak sebagai produser, ia juga menjadi Director of Photography (DOP) bersama Andi Gondi sebagai kameraman. Videoclip “Work It Out” dengan UV effects memang memberikan pendekatan yang spesial dan berbeda tentang asyiknya sebuah pesta.

SImak video clip 'Work It Out'


by Facebook Comment

APROFI dan BEKRAF gelar diskusi Hak Kekayaan Intelektual

Via traxmagz.com

Film menyimpan segudang hak kekayaan intelektual. Dengan perlindungan dan pemahaman yang baik mengenai HKI, insan perfilman bisa membuka pasar baru dan mendapat pemasukan tambahan, juga bisa menghalau terjadinya pembajakan.
 
Untuk memicu kesadaran pentingnya perlindungan terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) menggelar forum diskusi HKI dan sosialiasi UU HKI no.28 tahun 2014.
 
Acara yang dibuka langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Bapak  Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla ini terdiri dari 4 panel dengan pembicara yang berbeda-beda. 
 
Dari sesi panel Pemerintah diisi oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Bapak Rudiantara, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Bapak Triawan Munaf dan Dirjend HKI, Bapak Prof. Dr. Ahmad M. Ramli. 
 
“Film adalah produk industri budaya dan hiburan yang sangat padat modal. Pelanggaran terhadap Hak Kekayaan Intelektual atas produk film seperti membiarkan tubuh mengalami perdarahan yang mematikan," ungkap Triawan Munaf selaku Kepala BEKRAF di Hotel JS Luwangsa, Rabu (6/5).
 
Dalam salah satu sesi soal bagaimana memonetisasi dan melindungi IP Right, Mira Lesmana (Miles Films), Salman Aristo (Salto Films) berbagi kisah sukses soal bagaimana mereka memonetisasi HKI atas film-film mereka seperti AADC dan Garuda di Dadaku. 
 
Namun Mira Lesmana juga menyadari bahwa tidak semua film mudah dimonetisasi. "Kita mudah memonetisasinya karena film itu (AADC-red) box office). Kalau filmnya nggak sukses di pasaran akan sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin," ujar Mira.
 
Mira maupun Salman mengakui bahwa kesadaran tentang IP Right masih sangat tipis di Indonesia. "Ini adalah tradisi yang belum umum," kata Salman.
 
Padahal menurut Sheila Timothy selaku ketua APROFI dan penyelenggara, dengan perlindungan HKI, film dapat mengembangkan potensinya lewat banyak hal. "Bukan hanya pengembangan pasar baru dalam bentuk digital tetapi juga turunan ke dalam bentuk industri kreatif lainnya seperti games, buku, musik, seni pertunjukkan, pariwisata dan lain-lain".

by Facebook Comment

Selasa, 05 Mei 2015

Burgerkill juga akan tampil di Wacken Open Air Fest 2015 Jerman ==> @Burgerkill666




Usai memberi kepastian akan mengisi festival cadas internasional yakni Bloodstock Open Air 2015 di Inggris, Burgerkill kembali memberi berita yang mengharumkan tanah air. Band metal asal Ujung Berung, Bandung tersebut menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia untuk menjajal panasnya panggung Wacken Open Air 2015 pada akhir Juli 2015 nanti.

Ya rencananya Eben dkk akan tergabung bersama raksasa metal seperti Black Label Society, Within Temptation, Cannibal Corpse, Rob Zombie, Il Nino, Suicide Silence hingga band legendaris, Judas Priest! Wacken Open Air 2015 sendiri akan bertempat di kota kecil bernama Wacken di bagian utara Jerman.

Kepastian tersebut dikonfirmasi sendiri oleh empunya dalam akun pribadi twitter mereka @burgerkill666 Jumat kemarin. “Yes!! We are confirmed for Wacken Open Air 2015. See you soon Germany, Indonesian Metal fuckin' rule!!  \m/ #BandungBlasting2015”, ungkap mereka yang disambut gila-gilaan oleh metalheads tanah air.

Sumber: Traxmagz.com

by Facebook Comment

Burgerkill dan Jasad akan tampil di Bloodstock Open Air Festival 2015 di Inggris



Burgerkill Dan Jasad Akan Tampil Di Bloodstock 2015 Inggris!
dok. bloodstock

Dua band metal kenamaan yang berasal dari daerah yang sama, Burgerkill dan Jasad semakin mengukuhkan diri sebagai band alternatif terbaik tanah air pada dasawarsa ini. Duet maut asal Ujung Berung ini menjadi lineup salah satu festival metal terbesar Inggris, Bloodstock Open Air Festival 2015.

Mereka berdua akan tergabung bersama Black Label Society, Within Temptation, Napalm Death, Rob Zombie, Trivium, Opeth, Enslave dan lainnya. Burgerkill dan Jasad akan bermain di Sophie Lanchaster Stage pada hari Sabtu, 8 Agustus 2015, dimana headliner utamanya adalah band kawakan, Fleshgod Apocalypse.

Seperti yang diketahui, Bloodstock Open Air Festival 2015 ini akan digelar mulai dari tanggal 6 sampai 9 Agustus 2015 yang bertempat di Catton Park, Walton-on-Trent, Inggris. Selamat mengharumkan metal tanah air, Burgerkill dan Jasad!

Sumber: Traxmagz.com
by Facebook Comment

Rabu, 29 April 2015

Ini surat terbuka Axl Rose untuk Presiden Jokowi




Axl Rose's letter to Indonesian President

April 27, 2015


President Joko Widodo
President of Republic of Indonesia
Istana Merdeka
Jakarta Pusat 10110, Indonesia


Mr. President,

Thank you for taking the time to read this letter. In 2012 I and Guns N' Roses were both fortunate and privileged enough to perform in your country in Jakarta for the Indonesian people where we enjoyed and were taken aback by the incredible warmth of the Indonesian fans during our performance and in meeting fans and people there wherever we went. It was a very special and exciting experience we are fortunate to have had and to have as fond memories. I would like to express our sincere thanks to your country for showing us such warm and enthusiastic hospitality.

The main concern of this correspondence is in regard to the impending executions of Andrew Chan and Myuran Sukumaran of the group referred to as the Bali Nine and of Mary Jane Fiesta Veloso. In following their stories in regard to particular comments made in their regard by the Attorney General of Indonesia that their efforts and those of their representatives through the courts "are just buying time" I feel with all due respect compelled to ask why a government official derides the efforts of anyone trying to save their own life or the lives of others through proper legal channels? And if or why the government of Indonesia condones such comments by its officials?

As all three are still alive these are clearly not cases where nothing can or should be done by those who care to do their utmost in efforts to spare them. Under the circumstances it would seem that if they are executed regrettably the Indonesian government becomes the more offensive criminal.

I appeal to you Mr. President, Mr. Joko Widodo to use your power in ways to strengthen international relationships between your country and others, to show your country's strength and allow the world to witness an extraordinary act of humanity and bravery on yours and your country's part.

To show each of us that there can be hope and true redemption in times of hopelessness and despair, that rehabilitation and turning one's life around is not just for one's place in what if any afterlife there may be or one believes in but here on this earth where it can do each of us the most good in this life now. Where true justice is better achieved in not killing, not ending the lives of and not destroying others but instead in this case, this situation, right now in this moment in your hands in sparing the lives of these two able bodied young men who've proven in the Indonesian prison system they are more than capable of being productive and positive contributors to society.

Their crimes were now long ago, their hearts and minds forever changed by their crimes, their trials, the hurt they've caused their loved ones, their countrymen, their rehabilitation, remorse, the lasting and deeply embedded fears of the crushing reality of very real and drastic life and death consequences and their deepest desires to become different and better people and if not to be forgiven to be shown mercy and given the opportunity to prove themselves.

In a world where the bad often outweighs the good and evil and negativity would appear more and more prevalent we need and can use every person choosing to make a difference however that choice came about that we can get, that we can save, that we can salvage and we can spare the lives of including those who have seen and learned from the errors of their ways and in doing so we show the entire world that we are capable of forgiveness and mercy, a much greater sense of courage, strength and humanity and being so much more than that which seeks to overcome and destroy us.

To not do so does not send as much a message of deterrence but rather a cold, cruel and uncaring message of hopelessness and blindness by the powers that be. Please do not be this type of man, this type of individual blinded by rigidity and inflexibility and ignoring your true power and wisdom by not acknowledging true change verified, witnessed and confirmed by virtually all who've been involved with either of these men during their incarceration.

It's true I do not know these men nor have I met them but their story has touched me deeply. I as well as many others could easily have found ourselves in their unfortunate and unarguably self-inflicted position. People make mistakes, sometimes big and horribly regrettable mistakes and sometimes more importantly people learn from their mistakes and make new choices, strive and succeed at true positive change. To not acknowledge and give such change the opportunity to prove it's value would seem in this case a greater crime than those originally committed.

This is clearly not a case of hardened, unrepentant, violent or greed driven killers with no regard for the lives of others. They are not con men lying and faking their behavior over all these years only to return to the people they once were and are no longer.  That these individuals must die purely as an example to others is in my opinion akin to a kidnapper or terrorist killing hostages to make their point and have their demands met. In carrying out their death sentences the example shown here is one of draconian justice where the punishment in this stage of the condemned's lives by virtue of their rehabilitation and genuine remorse over all these years no longer fits the original crime.

To kill these men under these conditions of their profound and proven change for the better seems a barbaric, backward and truly disgraceful act of pride, ego, fear and prejudice, prejudice against your own system and the souls of anyone who has committed what's been deemed a crime from one day making amends and having the opportunity to make things right by how they live their lives and not how they are brutally and with disregard executed.

In the case and impeding execution of Mary Jane Fiesta Veloso executing those on the bottom rungs of the ladder in the chain of drug trafficking or those caught in the web of human trafficking who may not have had the luxury of qualified representation or even proper translators during their trial seems more than unfair and proves what? That a government chooses to condemn those that it would appear few if anyone truly cares about or has ever cared about to begin with? A mother who's quite possibly sincere hopes of making a better life for her and her children have been destroyed in a tragic circumstance and with her execution only makes things worse for her family and the sorrow of those who do care that much greater.

I realize I am no one and no one to get involved with your affairs or those of your government and how this letter reads or anyone other than yourself thinks of it is irrelevant. Only the lives of these three human beings are what's important now. That said I did not speak in jest or empty flattery when I spoke of how I and my organization were affected by the depth of warmth shown us by the Indonesian people during our performance and stay in Jakarta.

I ask you now to show such great depth of humanity and compassion now to these individuals and to deny your bloodlust in your war on drugs and grant clemency to these three individuals and give them a permanent stay of execution and to change the course of your own life and place in both your country's and world history. No other can do what you alone have the power to do and that is the power to show benevolence and mercy where mercy can be truly appreciated and given it's proper respect not only by the condemned but by the entire world and it's many leaders.

Give them a chance to prove you right by living where their deaths at this stage can only prove tragic and by all involved avoidable and unnecessary. You've made your point and struck fear in both the hearts and minds of the condemned and anyone even remotely considering bad choices or already involved in those worlds. Their crimes were not committed on your watch. Life is the only thing important now, not death but life.

Sincerely,

W. Axl Rose

cc:
U.S. Secretary of State, John Kerry
U.S. Ambassador to Indonesia, Ambassador Robert O. Blake Jr. 
Ambassador and Permanent Representative of the Republic of Indonesia to the United Nations, His Excellency Mr.Rezlan Ishar Jenie
National Commission on Human Rights of Indonesia (Komnas HAM), Mr. Ifdhal Kasim, Chairman 
Ambassador to the United States, Budi Bowoleksono


Di copy paste dari laman resmi Facebook Guns N Roses 
by Facebook Comment

KLa Project terima Lifetime Achievement WR Soepratman Awards dari PAPPRI

Via Traxmagz.com

KLa Project membuktikan diri sebagai salah satu band terbaik tanah air ketika mengantongi Lifetime Achievement WR Soepratman Awards dari PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi,Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia). 

Penghargaan untuk KLa Project itu diserahkan oleh Ketua Umum PAPPRI Tantowi Yahya di acara "Konser Musik Nasional" dakam rangka perayaan Hari Musik Nasional yang disiarkan langsung oleh Trans TV pada Senin 27 April lalu. 

"Kami merasa terhotmat dengan penghargaan ini," kata Adi dalam sambutan mewakili KLa Project. 

Band yg terdiri dari Katon, Lilo dan Adi ini berdiri tahun 1988 ini sudah merilis 9 album studio serta 6 album kompilasi. 




by Facebook Comment

Jumat, 24 April 2015

Anggun kirim surat terbuka untuk Jokowi terkait hukuman mati

Sumber TRAXMagz.com

Penyanyi dunia asal Indonesia, Anggun C Sasmi baru-baru ini menyatakan kegundahannya perihal hukuman mati yang dijatuhkan kepada gembong narkotika berkewarganegaraan Prancis,  Serge Atlaoui. Anggun menulis surat terbuka kepada Presiden yang berisi permohonannya untuk memberikan grasi kepada terdakwa.

Seperti yang diketahui, Serge Atloui bersama 8 orang lainnya ditangkap pada November 2005 lalu terkait kasus terbongkarnya pabrik narkotika terbesar ketiga dunia di Serang. Tak ayal, sang terpidana divonis pengadilan dengan hukuman mati. Berikut isi surat permohonan sang diva.


Surat terbuka untuk Bapak Presiden Joko Widodo

Yang terhormat Bapak Presiden Joko Widodo,

Seperti yang mungkin bapak ketahui, sudah bertahun-tahun saya bermukim di Perancis. Sebagai orang Jawa dan orang Indonesia saya sangat bangga dengan budaya yang mengalir di darah saya dan saya merasa sangat beruntung bisa tinggal di negara yang sangat menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, sebagai wanita dan juga artis, ini adalah sumber inspirasi yang sangat berharga.

Tentu saja saya sangat mengerti dampak negatif dari Narkoba terutama di Indonesia dan saya sangat setuju juga selalu mendukung pemberantasan Narkoba di dunia. Tetapi saya juga yakin bahwa hukuman mati bukan satu solusi untuk menurunkan tingkat kriminalitas atau untuk menjaga kita dari semua kejahatan. Hukuman mati menurut saya adalah kegagalan sisi kemanusiaan juga hilangnya nilai nilai hukum keadilan. Hukuman mati bukanlah keadilan, apapun penyebabnya. Saya amat dan sangat yakin untuk ini. Hukum yang diberikan terhadap Bapak Serge Atlaoui membangunkan emosi yang sangat dalam di Eropa, terutama di Perancis.

Saya termasuk orang yang merasakan ini karena banyaknya sisi-sisi keruh yang akhirnya terlihat lebih jelas di dalam kasus pengadilan Bapak Serge Atlaoui, keraguan yang membuat keputusan hukuman mati menjadi tidak dimengerti karena banyaknya ketidaktentuan dalam kasus beliau. Selain itu saya pribadi yakin bahwa Bapak Serge Atlaoui tulus dan jujur.
Saya berada di Jakarta pada saat Bapak dipilih menjadi Presiden. Hati saya bahagaia, berdebar keras dan merasa sangat bangga atas pilihan rakyat Indonesia.

Pemilu Anda dilihat dan dipantau oleh dunia sebagai titik balik untuk Indonesia menjadi negara yang besar dan penuh kebajikan. Di Eropa, Indonesia sekarang terkait oleh image negara yang membunuh. Hati saya berdebar lagi tapi kali ini karena kepedihan, saya tidak ingin wajah Indonesia tergores seperti ini dan dihakimi oleh dunia sedangkan Indonesia yang saya tahu dan impikan adalah negara yang toleran dan berikhwan.

Sekali lagi saya tidak mempertanyakan kedaulatan perhukuman di Indonesia untuk melawan Narkoba tetapi saya tidak bisa melihat seseorang yang mengaku tidak bersalah, akan dihukum mati, dan melihat kesedihan istri dan keluarganya.

Bapak Presiden, Anda mempunyai kekuasaan untuk membuat dunia kita ini lebih baik, dengan dikurangi kekerasan, tanpa tumpahnya darah, tanpa kebrutalan, seperti yang tertulis di Pancasila : Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sebagai putri Jawa, dengan hormat saya memanggil jiwa kemanusiaan Bapak yang selama ini menjadi karakteristik dan menggambarkan jalan hidup Bapak, saya memohon agar Bapak bisa memberi Grasi untuk Bapak Serge Atlaoui. Matur sewu sembah nuwun paringanipun kawigatosan mugi mugi Gusti Allah maringi rahmad berkah kesehatan kagem Bapak sekeluargo. Amin matur sembah nuwun.

ANGGUN

by Facebook Comment

Kamis, 23 April 2015

Blingsatan rilis album baru 'Berbeda Merdeka'

via traxmagz.com
Blingsatan Rilis Album Bareng Record Store Day
Dok. Blingsatan
Pesta peluncuran album ke -3 unit punk rock Surabaya, Blingsatan, telah di gelar Minggu (19/4) di Colors pub Surabya, event peluncuran album yang diberi nama “Record Store Day” & “Tattoo Party” ini menggabungkan seni tato dan musik, karena keduanya dianggap sebagai salah satu unsur yang dapat menyatukan perbedaan. Sebagai korelasi dari titel album guratan terbaru Amir (drum), Arief (bass/vocal), dan Saka (gitar/vokal) yakni Berbeda Merdeka, yang diartikan sebagai hidup merdeka dengan menghargai perbedaan tanpa merasa paling berharga.

Diawali dengan kendala hujan di sore hari yg membasahi area outdoor Colors pub. Acara yang semula bertempat di halaman depan pub berubah menjadi di dalam pub, hingga berujung pada masa Blingsatan yg tidak bisa masuk ke dalam dan terjadi penumpukan masa. Alhasil pukul 20.00 WIB pub telah penuh sesak dan sebagian masa harus rela tidak bisa masuk. Bahkan kabarnya ada masa Blingsatan yang sempat bersitegang dengan pihak pub dan akhirnya dapat dimusyawarahkan dengan baik.

diluar penumpukan masa yang terjadi, acara dapat dikatakan berjalan lancar, pencinta tato dan musik berpesta bersama, diawali dengan penampilan Pingpong Dash, The Flinstone yang bergenre pop punk hingga berlanjut ke Tulipe De Gezner dan Plester-X. TIdak hanya itu, acara ini juga diikuti oleh 35 artis tato Surabaya dan sekitarnya dengan model yang semuanya adalah perempuan. Acara ini memang bukan sekedar launching album saja, acara sengaja dikemas lebih ke pesta gathering pencinta tato dengan suasana yang “Berbeda” tapi “Merdeka”, itulah pesan yang ingin disampaikan oleh kawanan Blingsatan.
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!