"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Jumat, 17 April 2015

Traxmagz Plug 'N Play kembali bergulir


Killing Me Inside, Speak Up, Sisterhood Dan Rock Mini Ramaikan Kembalinya Plug N' Play Trax
foto : Dani Febrian
Bertempat di Camden Bar Jakarta pada Rabu 15 April 2015 kemarin, Plug N' Play Trax Magazine kembali digelar dan mendapat animo luar biasa dari para pengunjung yang telah memadati Camden sejak pukul 7 malam.

Acara akustikan yang seru ini dibuka oleh duo mc konyol, Duo Gendat'z yang selalu mempunyai celotehan seru bila mengomentari band-band yang akan manggung digelaran intim ini.

Tercata band-band alternatif seperti Rock Mini, Sisterhood, Speak Up hingga Killing Me Inside meramaikan suasana seru acara Trax kali ini. Band asal Depok, Rock Mini membuka Plug N' Play pada jam 7 malam.

Para penonton kemudian menyemut ketika Speak Up naik panggung usai Rock Mini. Beberapa track andalan mereka hingga lagu cover dari band punk lawas, No Use For A Name semakin memeriahkan malam yang dihujani gerimis sedari sore.

Sisterhood Gigs pun berkesempatan menjajal panasnya panggung Plug N' Play. Proyekan yang semuanya digawangi gadis hingga wanita cantik tersebut mendapat apresiasi tinggi dari para penonton dengan ikut bernyanyi lagu-lagu mereka.

Tiba saat Killing Me Inside penjadi band pamungkas dari gelaran Plug N' Play ini. Street Team yang sedari sore telah menunggu penampilan mereka langsung menyeruak untuk mengabadikan penampilan mereka atau sekedar bernyanyi bersama.  

Membawakan lagu-lagu seperti Young Blood, Biarlah hingga mencover dari lagu Ellie Goulding dan The 1975, berhasil menghangatkan suasana yang sudah sedari tadi terbangun.
by Facebook Comment

Kamis, 16 April 2015

Album terbaru Pee Wee Gaskins diproduseri frontman Rufio cc @katadochi



Diproduseri Frontman Rufio, Album Terbaru Pee Wee Gaskins Jadi Beda!
foto : Dani Febrian
Pee Wee Gaskins bersiap menyambut ulang tahun mereka yang kedelapan dengan full album ketiga mereka yang akan dirilis pada Juni 2015 mendatang. Menariknya album baru yang bertajuk "A Youth Not Wasted" tersebut kini diproduseri oleh Scott Sellers. Frontman Rufio tersebut diakui PWG memberikan warna baru bagi Dochi Sadega dkk.

"Scott memang memberi masukan yang berarti buat album baru kita. Mulai dari sisi aransemen, warna hingga lirik dalam bahasa Inggris memang diarahkan oleh dia," cetus Dochi saat ditemui Trax di Beatspace Studio.

Tangan dingin Scott menjadikan album terbaru Dochi (Bass/Vokal), Sansan (Gitar/Vokal), Omo (Keyboard), Ayi (Gitar) dan Aldi (Drum) menjadi sesuatu yang berbeda dari dua album sebelumnya.

Scott kadang suka mencetuskan ide untuk menambahkan instumen untuk lagu yang dianggap cocok. Dan kini dua materi album baru kita udah dirampungkan sama Scott. Lucunya, ada beberapa lagu yang nempel dikepalanya dan akhirnya didengarkan terus oleh dia," 
by Facebook Comment

Inilah bocoran album baru Pee Wee Gaskins

via traxmagz.com

Inilah Bocoran Album Terbaru Pee Wee Gaskins
foto : Dani Febrian
Delapan tahun berkarya dan kini berdiri sendiri menjadikan Pee Wee Gaskins lebih dewasa. Hal tersebut tercetus saat mereka menggarap full album ketiga mereka yang bertajuk "A Youth Not Wasted,"

"Album ini mengacu pada perjalanan karir kami di dunia musik. Mulai dari penulisan lirik, aransemen kita mengalami perubahan meskipun masih mempertahankan ciri khas pop punk kami," cetus Dochi saat ditemui Trax di Beatspace Studio.

Beberapa single mereka dari EP 2014 kemarin seperti "Jumping Jupiter," "Just Friends," "No Strings Attached" hingga track terbaru "Sassy Girl." menjadi materi yang tersemat dalam album terbaru PWG.

Kolaborasi Gania Alianda dari Bilfold PWG hadirkan dalam lagu akustik yang berjudul "Serotonin" dan tidak tertutup akan berkolaborasi dengan musisi lain seperti Erros (SO7). Rencananya album tersebut akan terdiri dari 13 track dan akan dirilis pada Juni 2015 mendatang.




by Facebook Comment

Rabu, 25 Maret 2015

(VIDEO) Pernyataan Abdee Negara tentang statusnya di Slank


 Bimbim: Abdee Negara Tak Tergantikan di Slank (Video)

Hari Minggu (22/3) group band Slank menggelar konperensi pers di markas band Jln Potlot, Jakarta Selatan, tentang keberadaan Abdee Negara sebagai anggota band. Konperensi pers ini digelar untuk meluruskan info tentang hengkangnya Abdee dari Slank yang akhir-akhir ini santer dibicarakan.

Di depan awak media Bimbim, Kaka, Ivan dan Ridho menegaskan kalau Abdee Negara tidak keluar dari keanggotaan Slank.

"Abdee masih tetap anggota Slank," tegas Bimbim.

Abdee sendiri menjelaskan kalau dirinya memang tidak keluar dari Slank tapi mengajukan cuti. "Saya akan cuti kira-kira selama 8-12 bulan untuk pemulihan kesehatan," jelas Abdee. Abdee juga menjelaskan bahwa gagal ginjal yang menimpanya membuat dirinya tak bisa beraktifitas berat seperti konser. Proses cuci darah dua kali seminggu hingga transplantasi butuh waktu istirahat panjang.
Gitaris flamboyan ini tak lupa memgucapkan terima kasih kepada Slankers yang selalu mendukungnya, bahkan banyak yang bersedia mendonorkan ginjal secara gratis. Walau tidak tampil dakam setiap konser selama kurun waktu cuti namun Abdee akan intens menbantu Slank di manajemen. "Saya akan bantu Bunda di manajemen," bilang Abdee.

Menurut Bimbim, Slank akan selalu mendukung Abdee karena Abdee tak tergantikan. "Bahkan gaji kita tetap dapat berlima," pungkas Bimbim.

via traxmagz.com
by Facebook Comment

Selasa, 17 Februari 2015

Superman Is Dead: "Mereka pikir Bali tidak bisa hidup tanpa Aussie? Idiot." ==> @SID_Official

 via traxmagz.com

 Superman Is Dead Kecam Gerakan #BoycottBALI dari Warga Australia
“Mereka pikir Bali tidak bisa hidup tanpa Aussie? Idiot. Yg ada malah kebalikannya, Aussie yg tidak bisa hidup tanpa Bali.”

Pernyataan keras ini datang dari Superman Is Dead menyikapi gerakan #BoycottBALI yang sedang trend di Australia.


Hubungan Indonesia dan Australia kembali memanas sehubungan dengan dua warna Australia pengedar narkotika yang akan segera dihukum mati . Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, merupakan dua gembong narkotika Australia yang ditangkap 17 April 2005 di Bali bersama tujuh orang Australia lainnya yang kemudian populer dengan nama Bali Nine. Pemerintah Australia lewat Perdana Menterinya Tony Abbott meminta secara resmi kepada pemerintah Indonesia untuk menangguhkan hukuman mati bagi dua warganya itu namun pemerintah Indonesia menolak permintaan itu. Penolakan Indonesia ini kemudian melahirkan sentimen anti Indonesia di Australia. Hastag #BoycottBali menjadi trending di Australia, merupakan himbauan di sosial media bagi orang Australia untuk tidak berwisata ke Bali.


Superman Is Dead, band punk asli Bali terusik dengan hastag #BoycottBali. Band yang sangat peka dengan isue-isue sosial ini tak tinggal diam. Mereka kemudian menuliskan pandangan mereka tentang isue ini serta tingkah laku kebanyakan turis Australia yang datang ke Bali ke laman Facebook mereka: Superman Is Dead. Tulisan yang diunggah Senin (16/2) kemaren itu ditulis dalam Bahasa Inggris serta Bahasa Indonesia.



Selengkapnya tulisan SID itu (versi Bahasa Indonesia):


Kami tidak rasis terhadap ras apapun. Sama sekali tidak. Tapi keinginan (sebagian warga) Australia memboikot Bali terkait hukuman mati yg diberikan Indonesia terhadap WN Australia (yg tertangkap menyelundupkan narkotika) kami rasa berlebihan. Okelah, kami masih bisa mengerti jika Aussie menuntut keringanan hukuman, tapi sampai mengancam utk boikot Bali? Mereka pikir Bali tidak bisa hidup tanpa Aussie? Idiot. Yg ada malah kebalikannya, Aussie yg tidak bisa hidup tanpa Bali. Mau kemana lagi mereka liburan murah/dekat dan disambut kehangatan khas masyarakat/budaya Bali? Mereka tidak sadar jika Bali sudah mulai muak dengan kelakuan sebagian turis Aussie yg sering seenaknya memperlakukan warga/budaya lokal. Mereka pikir dirinya raja dan semua bisa dibeli dengan dollar. Hal itulah yg membuat mereka terlalu percaya diri dan menganggap hukum di Indonesia bisa dibengkokkan hanya dengan ancaman boikot Bali. Yg perlu dan HARUS mereka ketahui, kelakuan sebagian warga mereka di Bali sangat meresahkan dan Bali tidak perlu turis-turis sampah seperti itu! Kami WNI ketika bertamu ke negara kalian, selalu mematuhi segala hukum yg berlaku di sana. Dan kalian juga seharusnya melakukan hal yg sama ketika bertamu ke Bali. Bali tidak butuh sampah! Tidak ada negara yg butuh sampah. RESPECT! THATS WHAT WE ALL NEED! ~ SID





by Facebook Comment

Sabtu, 14 Februari 2015

Peristiwa Pemberontakan 14 Februari di Manado

Sumber disadur dari portalsejarah.com dan matukanda.worldpress.com

Tak banyak yang tahu bahwa sebuah kisah yang mungkin dianggap kecil tapi ternyata berpengaruh besar dalam perjuangan Indonesia di era kemerdekaan. Peristiwa ini berhasil menggugah dunia bahwa kemerdekaan Indonesia tak hanya terjadi di Jawa dan Sumatra seperti klaim Belanda, tapi juga terjadi di ujung utara Pulau Sulawesi.

Peristiwa pemberontakan Merah Putih 14 Februari di Manado merupakan bagian dari serangkaian peristiwa yang terjadi di Indonesia ketika pihak Sekutu berusaha untuk mengambil alih kembali kekuasaan akan Indonesia paska dideklarasikannya kemerdekaan oleh Soekarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. 

Peristiwa ini sendiri terjadi pada tanggal 14 Februari 1946 dan merupakan gerakan militer dari pasukan KNIL kompi VII yang pada saat itu ada di bawah pimpinan Ch. Taulu, dimana mereka kemudian memberontak dan merebut kekuasaan Belanda di Indonesia dengan bantuan rakyat seperti di Manado, Tomohon, dan sebagian besar tanah Minahasa. Dari percobaan perebutan kekuasaan tersebut, ada sekitar 600 orang pasukan Belanda dan pejabat tinggi mereka yang berhasil ditawan. Pertempuran ini berakhir pada tanggal 16 Februari dimana mulai bertebaran selebaran berisi pernyataan perebutan kekuasaan di seluruh Manado oleh bangsa Indonesia

Peristiwa Merah Putih di Manado beserta beberapa peristiwa-peristiwa lainnya di Indonesia yang terjadi setelah deklarasi kemerdekaan tidak lepas dari kejadian bersejarah pada bulan Juli tahun 1944 dimana pada waktu itu Jepang mengalami kekalahan telak melawan pasukan Sekutu ketika mereka bertempur di atas lautan Pasifik. Kekalahan mereka ini membuat mereka mundur untuk memperkuat kubu pertahanan mereka di pulau Sulawesi dan di daerah Maluku Utara. Di bulan yang sama, Sam Ratulangi mengutus pemuda-pemuda untuk pergi ke Manado demi menyambut kemerdekaan yang akan dimiliki oleh Indonesia jika ternyata perang pasifik berakhir dengan hancurnya pasukan Jepang oleh pihak Sekutu. Utusan yang ia kirim ini beranggotakan Mantik Pakasi dan Freddy Lumanauw sebagai utusan tentara, dan Wim Pangalila, Buce Ompi, serta Olang Sondakh sebagai perwakilan pemuda. Mereka pergi menggunakan kereta ke Surabaya, dan melanjutkan perjalanan menggunakan Dai yu Maru menuju Manado.

Dua bulan setelah perngutusan pemuda oleh Sam Ratulangi menuju Manado, tiba-tiba muncul pesawat pembom B-29 yang merupakan properti perang udara milik Angkatan Udara Sekutu. Pesawat-pesawat yang berjumlah puluhan itu kemudian menghujani Manado dengan bom, dan meratakannya dengan tanah, mengubah setiap gedung yang terlihat menjadi tak lebih dari gundukan sampah, dan menewaskan banyak penduduk. Hal ini kemudian memicu kecurigaan Jepang bahwa ada mata-mata Sekutu yang berperan ganda sebagai tokoh nasionalis. Di bulan September 1944 ini juga kubu pertahanan Jepang di Sulawesi Utara dan Morotai berhasil ditaklukkan oleh Jenderal Mac Arthur sebelum ia bertolak ke Leyte, Filipina.

Selama pertengahan tahun April 1945 hingga awal Februari 1946, terjadi lagi banyak konflik atau hal-hal yang menuntun kepada terjadinya peristiwa merah putih di Manado. Pada bulan April hingga Agustus 1945 misalnya, dimana Pimpinan Kaigun menyiapkan kemerdekaan Indonesia, sesuai dengan apa yang pernah ia janjikan dahulu kala. Pada masa itu, bendera merah-putih dikibarkan bersebelahan dengan bendera nasional Jepang, yaitu Hinomaru. Pada bulan September di bulan yang sama, NICA dan Belanda yang saat itu ada di bawah perlindungan pasukan Sekutu dengan senang hati masuk ke area Indonesia, dan terlepas dari seluruh usaha yang mereka lakukan, mereka tetap tidak berhasil menciptakan dampak apapun terhadap kehidupan bermasyarakat, berpolitik, maupun ekonomi.

Pada bulan terakhir tahun 1945, Manado mulai sedikit lega dengan perginya seluruh pasukan Sekutu dari tanah itu. Perginya Sekutu tidak berarti kedamaian, karena mereka pada akhirnya menyerahkan tugas yang tengah mereka jalani secara total kepada NICA-KNIL yang dipimpin oleh seorang Inggris. John Rahasia dan Wim Pangalila kemudian melihat hal ini sebagai kesempatan untuk melakukan sebuah revolusi atau pemberontakan yang akan dilakukan oleh pemuda-pemuda Manado. Di Bulan yang sama, NEFIS-Belanda mulai sedikit lebih pintar, dan mereka sudah bisa mulai mencurigai kedua orang yang akan melakukan pemberontakan ini.

Pada bulan Februari 1946, pasukan KNIL yang ada di Teiling masih dicurigai oleh pihak Belanda. Pihak Belanda juga mengeluarkan perintah strength arrest kepada para pemimpin mereka, yaitu Furir Taulu, Wuisan, Frans Lantu, Wim Tamburian, Wangko Sumanti, dan Yan Sambuaga karena mereka dinilai merupakan penghasut tentara Indonesia.. Pada tanggal 14 Februari, barulah peristiwa merah putih di Manado terjadi. Pada saat peristiwa itu dimulai, mereka berhasil memengaruhi pihak Belanda, dan membuat Kopral Mambi Runtukahu yang ditunjuk sebagai pemimpin ahli penyergapan pos yang ada di markas garnisun Manado. Setelah serangan yang tidak memiliki perlawanan ini selesai, ada beberapa nama kaum nasionalis yang kemudian ditangkap oleh NICA dan dituduh sebagai mata-mata Jepang. Keberhasilan kudeta yang dilakukan oleh Wuisan dan kawan-kawan tiba di telinga kapten KNIL pada masa itu, yang bernama J Kaseger yang akhirnya ikut berjuang membela Indonesia.

Bagian akhir peristiwa merah putih di Manadoterjadi pada tanggal 15 dan 16 Ferbuari, hanya satu hingga dua hari setelah peristiwa ini dimulai. Pada tanggal 15 Ferbruari 1946, komandan KNIL pada waktu itu yang bernama De Vries tertangkap dan menjadi tawanan, hingga ia dihadapkan kepada Taulu dan Wuisan demi membuat kesepakatan akan perselisihan yang terjadi ini. De Vries, seperti layaknya pimpinan lain, bertanya apakah kudeta militer yang akan dilakukan oleh pihak Indonesia akan menjamin keselamatan pasukannya. Pada saat itu, sebenernya Taulu tahu bahwa mereka sedang terdesak dan akan kalah, tapi ia kemudian berkata bahwa mereka sedang berjuang bersama pemuda Indonesia, dan akan mempertahankan perjuangan itu. Setelah kejadian ini, seluruh daerah Minahasa kemudian mulai melihat prosesi pengibaran bendera Merah Putih.  


Dampak dalam Sejarah Dunia

Berturut-turut radio-radio Australia, San Franscisco dan BBC London dan Harian Merdeka di Jakarta menyiarkan tentang ‘’Pemberontakan Besar di Minahasa’’.

Dampak peristiwa ini pada tentara Sekutu (AS-Inggris-Belanda) menggemparkan. Bagi tentara AS yang sudah payah dan ingin pulang ke tanah airnya, masih harus mendeportasi 8000 tawanan tentara Jepang di Girian.

Apa akan jadi kalau mereka dilepaskan dan bergabung dengan pasukan PPI-Merah Putih? Mereka belum lupa bahwa di Pulau Okinawa 1500 tentara AS menjadi korban menghadapi tentara Nippon yang juga bertempur habis karena ‘’hara kiri’’. Tentara Inggris di Makassar (South East-Asia Command Outer Islands) masih trauma karena Jenderal Mallaby terbunuh pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Tentara Belanda yang menjadikan Minahasa sebagai basisnya yang kuat untuk menyerang Republik Indonesia  yang berpusat di Yogya, malah harus menyerahkan diri kepada TRISU-Taulu di Teling. Peristiwa 14 Februari 1946 di Manado tercatat dalam sejarah dunia, karena wakil Sekutu-Inggris di Makassar Col Purcell menyatakan pada 24 Februari 1946 di Teling-Manado ‘’bahwa pada hari ini tentara Sekutu menyatakan perang dengan kekuasaan Sulawesi-Utara (Lapian-Taulu)’’.

Sulawesi Utara sudah dianggapnya suatu negara merdeka yang memiliki wilayah, pemerintah, tentara dan rakyatnya sendiri secara utuh dari 14 Februari tetapi akhirnya menyerah kalah pada 11 Maret 1946.




by Facebook Comment

Jumat, 13 Februari 2015

Iko Uwais Masuk Bursa Pemeran Spiderman ==> @iko_uwais


via traxmagz.com

Iko Uwais Calon Pemeran Spiderman Terbaru

Nama iko Uwais kian menjulang dibelantara film Hollywood. Setelah masuk daftar pemeran film Star Wars terbaru, baru-baru ini Iko kembali masuk dalam daftar film bergengsi. Bersama tujuh aktor lainnya, nama Iko disebut sebagai aktor yang pantas memerankan superhero Spiderman terbaru menggantikan Andrew Garfield.


Spider-Man yang kini menjadi bagian dari Marvel Cinematic Universe akan memiliki cerita baru, dengan pemeran baru pula. Manusia laba-laba versi baru ini akan mempunyai kehidupan yang lebih dewasa.


Pemeran Spidey haruslah berusia akhir belasan atau awal 20-an (atau yang terlihat muda). Tapi usia bukanlah satu-satunya faktor penting. Pemeran Spider-Man mesti seorang lelaki yang menarik, berpenampilan sedikit geek, dan memiliki kharisma superhero. Dia juga harus bisa berakting komedi, drama, maupun laga.


Lantas siapakah yang cocok memerankan Spidey setelah sebelumnya karakter ini dibawakan dengan apik oleh Tobey Maguire dan Andrew Garfield?


Laman Firstshowing.net yang dikutip Metrotvnews.com membeberkan tujuh aktor yang dianggap cocok memerankan the next Spider-Man.


1. Iko Uwais (The Raid, Merantau)
2. Nick Robinson (The Kings of Summer, Jurasic World)
3. Thomas Mann (Beautiful Creatures, Project X)
4. Dylan O'Brien (The Maze Runner, Internship)
5. Anton Yelchin (Terminator Salvation, Odd Thomas)
6. Donald Glover (Community – Comedy Series)
7. Ansel Elgort (The Fault in Our Stars)












by Facebook Comment

Selasa, 10 Februari 2015

Inilah daftar pemenang Grammy Awards 2015 [Sam Smith gondol empat piala]

 
 Menang Besar, Sam Smith Bawa Pulang 4 Piala Grammy
 
Gelaran Grammy Awards yang ke-57 sudah selesai. Ajang ini menyisakan nama-nama besar yang berhasil menggondol pulang piala kemenangan, salah satunya adalah Sam Smith. Ia menang besar.
 
Penyanyi asal Inggris tersebut berjaya di Grammy dengan membawa pulang 4 gelar tertinggi yakni Best New Artist, Song of the Year dan Record of the Year untuk "Stay With Me" serta Best Pop Vocal Album untuk "In the Lonely Hour".
 
"Terima kasih untuk malam terbaik dalam hidupku," ujarnya. "Sebelum aku membuat rekaman ini, aku melakukan semuanya agar musikku didengar," lanjut Smith (22).
 
Dikutip dari LATimes (9/2), kurang dari setahun lalu Smith belum terlalu dikenal di luar Inggris. Namun kepopulerannya di ranah blog membuat albumnya terjual hampir 2 juta kopi di Amerika Serikat serta lebih dari 5 juta kopi di penjuru dunia. 
 
Dan berikut daftar lengkap pemenang Grammy Awards ke-57:
 
1. RECORD OF THE YEAR
"Stay With Me (Darkchild Version)," Sam Smith
 
2. ALBUM OF THE YEAR
"Morning Phase," Beck
 
3. SONG OF THE YEAR
"Stay With Me (Darkchild Version)," James Napier, William Phillips & Sam Smith, songwriters (Sam Smith)
 
4. BEST NEW ARTIST
Sam Smith
 
5. BEST POP SOLO PERFORMANCE
"Happy (Live)," Pharrell Williams
 
6. BEST POP DUO/GROUP PERFORMANCE
"Say Something," A Great Big World With Christina Aguilera
 
7. BEST TRADITIONAL POP VOCAL ALBUM
"Cheek To Cheek," Tony Bennett & Lady Gaga
 
8. BEST POP VOCAL ALBUM
"In The Lonely Hour," Sam Smith
 
9. BEST DANCE RECORDING
"Rather Be," Clean Bandit Featuring Jess Glynne
 
10. BEST DANCE/ELECTRONIC ALBUM
"Syro," Aphex Twin
 
11. BEST CONTEMPORARY INSTRUMENTAL ALBUM
"Bass & Mandolin," Chris Thile & Edgar Meyer
 
12. BEST ROCK PERFORMANCE
"Lazaretto," Jack White
 
13. BEST METAL PERFORMANCE
"The Last In Line," Tenacious D
 
14. BEST ROCK SONG
"Ain't It Fun," Hayley Williams & Taylor York, songwriters (Paramore)
 
15. BEST ROCK ALBUM
"Morning Phase," Beck
 
16. BEST ALTERNATIVE MUSIC ALBUM
"St. Vincent," St. Vincent
 
17. BEST R&B PERFORMANCE
"Drunk In Love," Beyoncé Featuring Jay Z
 
18. BEST TRADITIONAL R&B PERFORMANCE
"Jesus Children," Robert Glasper Experiment Featuring Lalah Hathaway & Malcolm-Jamal Warner
 
19. BEST R&B SONG
"Drunk In Love," Shawn Carter, Rasool Diaz, Noel Fisher, Jerome Harmon, Beyoncé Knowles, Timothy Mosely, Andre Eric Proctor & Brian Soko, songwriters (Beyoncé Featuring Jay Z)
 
20. BEST URBAN CONTEMPORARY ALBUM
"Girl," Pharrell Williams
 
21. BEST R&B ALBUM
"Love, Marriage & Divorce," Toni Braxton & Babyface
 
22. BEST RAP PERFORMANCE
"i," Kendrick Lamar
 
23. BEST RAP/SUNG COLLABORATION
"The Monster," Eminem Featuring Rihanna
 
24. BEST RAP SONG
"i," K. Duckworth & C. Smith, songwriters (Kendrick Lamar)
 
25. BEST RAP ALBUM
"The Marshall Mathers LP2," Eminem
 
26. BEST COUNTRY SOLO PERFORMANCE
"Something In The Water," Carrie Underwood
 
27. BEST COUNTRY DUO/GROUP PERFORMANCE
"Gentle On My Mind," The Band Perry
 
28. BEST COUNTRY SONG
"I'm Not Gonna Miss You," Glen Campbell & Julian Raymond, songwriters (Glen Campbell)
 
29. BEST COUNTRY ALBUM
"Platinum," Miranda Lambert
 
30. BEST NEW AGE ALBUM
"Winds Of Samsara," Ricky Kej & Wouter Kellerman
 
31. BEST IMPROVISED JAZZ SOLO
"Fingerprints," Chick Corea, soloist
 
32. BEST JAZZ VOCAL ALBUM
"Beautiful Life," Dianne Reeves
 
33. BEST JAZZ INSTRUMENTAL ALBUM
"Trilogy," Chick Corea Trio
 
34. BEST LARGE JAZZ ENSEMBLE ALBUM
"Life In The Bubble," Gordon Goodwin's Big Phat Band
 
35. BEST LATIN JAZZ ALBUM
"The Offense Of The Drum," Arturo O'Farrill & The Afro Latin Jazz Orchestra
 
36. BEST GOSPEL PERFORMANCE/SONG
"No Greater Love," Smokie Norful
 
37. BEST CONTEMPORARY CHRISTIAN MUSIC PERFORMANCE/SONG
"Messengers," Lecrae Featuring For King & Country
 
38. BEST GOSPEL ALBUM
"Help," Erica Campbell
 
39. BEST CONTEMPORARY CHRISTIAN MUSIC ALBUM
"Run Wild. Live Free. Love Strong," For King & Country
 
40. BEST ROOTS GOSPEL ALBUM
"Shine For All The People," Mike Farris
 
41. BEST LATIN POP ALBUM
"Tangos," Rubén Blades
 
42. BEST LATIN ROCK, URBAN OR ALTERNATIVE ALBUM
"Multiviral," Calle 13
 
43. BEST REGIONAL MEXICAN MUSIC ALBUM (INCLUDING TEJANO)
"Mano A Mano - Tangos A La Manera De Vicente Fernández," Vicente Fernández
 
44. BEST TROPICAL LATIN ALBUM
"Más + Corazón Profundo," Carlos Vives
 
45. BEST AMERICAN ROOTS PERFORMANCE
"A Feather's Not A Bird," Rosanne Cash
 
46. BEST AMERICAN ROOTS SONG
"A Feather's Not A Bird," Rosanne Cash
 
47. BEST AMERICANA ALBUM
"The River & The Thread," Rosanne Cash
 
48. BEST BLUEGRASS ALBUM
"The Earls Of Leicester," The Earls Of Leicester
 
49. BEST BLUES ALBUM
"Step Back," Johnny Winter
 
50. BEST FOLK ALBUM
"Remedy," Old Crow Medicine Show
 
51. BEST REGIONAL ROOTS MUSIC ALBUM
"The Legacy," Jo-El Sonnier
 
52. BEST REGGAE ALBUM
"Fly Rasta," Ziggy Marley
 
53. BEST WORLD MUSIC ALBUM
"Eve," Angelique Kidjo
 
54. BEST CHILDREN'S ALBUM
"I Am Malala: How One Girl Stood Up For Education And Changed The World (Malala Yousafzai)," Neela Vaswani
 
55. BEST SPOKEN WORD ALBUM (INCLUDES POETRY, AUDIO BOOKS & STORYTELLING)
"Diary Of A Mad Diva," Joan Rivers
 
56. BEST COMEDY ALBUM
"Mandatory Fun," "Weird Al" Yankovic
 
57. BEST MUSICAL THEATER ALBUM
"Beautiful: The Carole King Musical"
 
58. BEST COMPILATION SOUNDTRACK FOR VISUAL MEDIA
"Frozen"
 
59. BEST SCORE SOUNDTRACK FOR VISUAL MEDIA
"The Grand Budapest Hotel," Alexandre Desplat, composer
 
60. BEST SONG WRITTEN FOR VISUAL MEDIA
"Let It Go," Kristen Anderson-Lopez & Robert Lopez, songwriters (Idina Menzel) (Track from: "Frozen")
 
61. BEST INSTRUMENTAL COMPOSITION
"The Book Thief," John Williams, composer (John Williams)
 
62. BEST ARRANGEMENT, INSTRUMENTAL OR A CAPPELLA
"Daft Punk," Ben Bram, Mitch Grassi, Scott Hoying, Avi Kaplan, Kirstin Maldonado & Kevin Olusola, arrangers (Pentatonix)
 
63. BEST ARRANGEMENT, INSTRUMENTS AND VOCALS
"New York Tendaberry," Billy Childs, arranger (Billy Childs Featuring Renée Fleming & Yo-Yo Ma)
 
64. BEST RECORDING PACKAGE
"Lightning Bolt," Jeff Ament, Don Pendleton, Joe Spix & Jerome Turner, art directors (Pearl Jam)
 
65. BEST BOXED OR SPECIAL LIMITED EDITION PACKAGE
"The Rise & Fall Of Paramount Records, Volume One (1917-27)," Susan Archie, Dean Blackwood & Jack White, art directors (Various Artists)
 
66. BEST ALBUM NOTES
"Offering: Live At Temple University," Ashley Kahn, album notes writer (John Coltrane)
 
67. BEST HISTORICAL ALBUM
"The Garden Spot Programs, 1950," Colin Escott & Cheryl Pawelski, compilation producers; Michael Graves, mastering engineer (Hank Williams)
 
68. BEST ENGINEERED ALBUM, NON-CLASSICAL
"Morning Phase," Tom Elmhirst, David Greenbaum, Florian Lagatta, Cole Marsden Greif-Neill, Robbie Nelson, Darrell Thorp, Cassidy Turbin & Joe Visciano, engineers; Bob Ludwig, mastering engineer (Beck)
 
69. PRODUCER OF THE YEAR, NON-CLASSICAL
Max Martin
 
70. BEST REMIXED RECORDING, NON-CLASSICAL
"All Of Me (Tiesto's Birthday Treatment Remix)," Tijs Michiel Verwest, remixer (John Legend)
 
71. BEST SURROUND SOUND ALBUM
"Beyoncé," Elliot Scheiner, surround mix engineer; Bob Ludwig, surround mastering engineer; Beyoncé Knowles, surround producer (Beyoncé)
 
72. BEST ENGINEERED ALBUM, CLASSICAL
"Vaughan Williams: Dona Nobis Pacem; Symphony No. 4; The Lark Ascending," Michael Bishop, engineer; Michael Bishop, mastering engineer (Robert Spano, Norman Mackenzie, Atlanta Symphony Orchestra & Chorus)
 
73. PRODUCER OF THE YEAR, CLASSICAL
Judith Sherman
 
74. BEST ORCHESTRAL PERFORMANCE
"Adams, John: City Noir," David Robertson, conductor (St. Louis Symphony)
 
75. BEST OPERA RECORDING
"Charpentier: La Descente D'Orphée Aux Enfers," Paul O'Dette & Stephen Stubbs, conductors; Aaron Sheehan; Renate Wolter-Seevers, producer (Boston Early Music Festival Chamber Ensemble; Boston Early Music Festival Vocal Ensemble)
 
76. BEST CHORAL PERFORMANCE
"The Sacred Spirit Of Russia," Craig Hella Johnson, conductor (Conspirare)
 
77. BEST CHAMBER MUSIC/SMALL ENSEMBLE PERFORMANCE
"In 27 Pieces - The Hilary Hahn Encores," Hilary Hahn & Cory Smythe
 
78. BEST CLASSICAL INSTRUMENTAL SOLO
"Play," Jason Vieaux
 
79. BEST CLASSICAL SOLO VOCAL ALBUM
"Douce France," Anne Sofie Von Otter; Bengt Forsberg, accompanist (Carl Bagge, Margareta Bengston, Mats Bergström, Per Ekdahl, Bengan Janson, Olle Linder & Antoine Tamestit)
 
80. BEST CLASSICAL COMPENDIUM
"Partch: Plectra & Percussion Dances," Partch; John Schneider, producer
 
81. BEST CONTEMPORARY CLASSICAL COMPOSITION
"Adams, John Luther: Become Ocean," John Luther Adams, composer (Ludovic Morlot & Seattle Symphony)
 
82. BEST MUSIC VIDEO
"Happy," Pharrell Williams
 
83. BEST MUSIC FILM
"20 Feet From Stardom," Darlene Love, Merry Clayton, Lisa Fischer & Judith Hill
by Facebook Comment

Kamis, 22 Januari 2015

Bumblefoot (GNR) dan Scott Weiland (STP) bentuk supergroup Art of Anarchy


 via traxmagz.com

 Pentolan Stone Temple Pilots Dan Guns N' Roses Bentuk Band Baru

Sebuah super grup band kembali lahir pada tahun 2015 ini. Usai diguncang dengan proyek sampingan Dave Grohl (Foo Fighters, Nirvana) dan Corey Taylor (Slipknot) mengejutkan publik kini Bumblefoot dan Scott Weiland yang menunjukkan taringnya.

Ya, dua pentolan Guns N Roses dan Stone Temple Pilots tersebut resmi membuat grup band yang bernama Art of Anarchy. Untuk menambah gaharnya aliran yang mereka usung, mereka mengajak tiga personel Disturbed yakni John Moyer dan si kembar Jon dan Vince Votta.

Scott Weiland dikenal sebagai frontman dari Stone Temple Pilots dan Velvet Revolver. Meskipun berkerjama sama dengan tiga pendiri Guns N Roses yakni Slash, Duff McKagan dan Matt Sorum dalam Velvet, Weiland memutuskan mundur di tahun 2008.

Sedangkan Bumblefoot yang merupakan gitaris Guns N’ Roses sejak tahun 2006, memutuskan untuk menarik Scott Weiland serta John Moyer, Jon and Vince Votta untuk bergabung. Menariknya, dua personel kembar tersebut merupakan artis yang diproduserinya pada belakangan ini.

Simak rilisannya dalam tautan berikut ini.
by Facebook Comment

Senin, 19 Januari 2015

Pete Doherty berencana hidupkan kembali The Libertines

 via traxmagz.com

 Pete Doherty Ingin Hidupkan Kembali The Libertines

Pete Doherty baru-baru ini menyatakan pernyataan bahwa ia ingin kembali menghidupkan band yang membesarkan namanya, the Libertines. Musisi sarat kontroversi itu telah merekam beberapa materi di Karma Studios, Thailand untuk pembuatan album terbaru mereka.

Seperti yang diketahui, The Libertines sempat menjadi viral tersendiri bagi publik punk, garage & rock and roll di medio 2000an. The Libertines memang band besar namun kelakuan Pete yang nyeleneh dan gemar menghisap kokain mengangkat band tersebut menjadi headline media Inggris yang terkenal kejam.

Alhasil kecanduan drugs yang dialaminya membuat sang frontman harus meninggalkan Inggris dan berkelana di Thailand untuk menjalani rehabilitasi. Kini setelah sembuh di panti rehab Chon Buri, Pete langsung menyatakan bahwa ingin kembali lagi mengibarkan panji The Libertines sekali lagi kepada dunia.


The Libertines berencana akan merilis album terbarunya pada tahun ini dan telah menjalin kerjasama dengan Virgin/EMI Thailand sebagai pihak label. Mereka juga sempat merilis hubungan dengan penulis kenamaan untuk membuat sebuah lagu baru.
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!