"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Sabtu, 03 Desember 2016

Giliran Festival Crossborder Digaungkan di Jayapura-Merauke

 

MERAUKE - Kementerian Pariwisata tidak henti-hentinya menggelar Festival Crossborder hingga akhir tahun 2016. Kini giliran kota Merauke, Papua yang bakal digeber Kementerian di bawah Menpar Arief Yahya, Sabtu, 3 Desember 2016. Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran Asia Pasifik Kemenpar Vinsensius Jemadu menyebut, festival crossborder ini adalah rangkaian kegiatan festival yang dilaksanakan sepanjang Juni hingga Desember 2016.

Jadi, memang bukan hanya difokuskan di penghujung tahun saja. Menpar Arief Yahya memang selalu mengingatkan agar crossborder itu bisa dioptimalkan untuk mengejar target 20 juta di 2019. Karena itu sejak sekarang harus sudah dibiasakan dengan berbagai aktivitas budaya dan manmade. “Ramai dulu, setelah itu baru dikembangkan sebagai destinasi baru,” kata Arief Yahya.

Yang di perbatasan PNG, berada di Skouw, Jayapura, Sota, dan Merauke. ”Di penghujung tahun ini giliran menyasar Merauke. Festival ini diharapkan mampu menggerakkan dan menggairahkan iklim industri pariwisata di daerah terluar RI atau area perbatasan ini. Festival ini juga untuk menggaet wisman di daerah perbatasan,” ujar pria yang biasa disapa Bro VJ ini.

Menurut VJ, selain pasar utama yaitu kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara, Kemenpar mencermati ada juga pasar yang sangat potensial untuk dikembangkan yaitu Papua Nugini. Letak geografis dan kesamaan budaya dengan wilayah Papua, menjadikan Papua Nugini sebagai pasar yang sangat potensial.

”Di daerah tersebut terletak pintu perbatasan yang menghubungkan antara Indonesia dengan Papua Nugini. Kegiatan Festival yang akan dilakukan antara lain Promosi Wonderful Indonesia, bazaar, konser musik, hingga pertunjukkan seni dan budaya tradisional,” beber VJ.

Bulan Desember ini, Festival akan dihibur dengan penampilan Band Sandy Bethay, Blacksound, Dave Solution dan beberapa artis ibukota. Terpisah, Deputi Pemasaran Mancanegara Profesor I Gde Pitana mengatakan, festival tersebut diharapkan benar-benar mampu menggairahkan industri pariwisata perbatasan sehingga dapat memberikan kontribusi bagi target kunjungan wisman yang tahun ini dipatok 12 juta Wisman.

”Ini upaya promosi pariwisata secara berkelanjutan untuk mengembalikan tren positif kedatangan wisman Papua Nugini ke Indonesia khususnya melalui perbatasan, yaitu di wilayah Skouw, Jayapura, dan Sota, Merauke,” kata pria yang biasa disapa Prof Pit itu.

Pitana menambahkan, Festival Crossborder Jayapura juga diharapkan mampu meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) di kawasan perbatasan sehingga kemudian mendongkrak kesejahteraan masyarakat sekitar melalui kegiatan pariwisata.

Menurut Pitana, kegiatan ini merupakan salah satu strategi Kemenpar dalam menarik kunjungan wisatawan mancanegara dari negara tetangga (Papua Nugini), selain itu diharapkan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat perbatasan sehingga sektor riil melaju semakin kencang. ”Kami juga ingin kembangkan kerja sama ekonomi dengan negara tetangga yang saling menguntungkan. Karena memang selama ini border tourism terbukti mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pariwisata satu negara,” katanya.

Pitana memberikan contoh, beberapa negara di Eropa seperti Belanda, Jerman, dan Prancis setiap tahun mendapatkan peningkatan kunjungan wisatawan dari negara tetangga yang berbatasan langsung. Demikian pula halnya Singapura, Malaysia, dan Thailand.

”Oleh karena itu, tahun ini Indonesia sangat fokus untuk berpromosi wisata di daerah perbatasan dalam upaya meningkatkan kunjungan wisman dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Papua Nugini, dan Timor Leste,” tandasnya.

Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Papua menargetkan  sedikitnya 1000 pengunjung yang mendatangi “Cross Border Wonderful Indonesia” yang akan digelar di perbatasan RI-Papua Nugini tersebut. Kepala Seksi Pengembangan Prasarana Promosi Pariwisata Dinas Pariwisata Papua Hans B Menanti di Kota Jayapura, Kamis, mengatakan “Cross Border Wonderful Indonesia” ini harus sukses dilaksanakan.

“Kami berkeinginan penghujung tahun ini akan lebih banyak lagi yang masuk, paling tidak minimal 1000 pengunjung dan kalau lebih itu lebih baik lagi. Untuk mewujudkan target tersebut, kami sudah berkoordinasi dengan Konjen RI di Vanimo, Papua Nugini (PNG), agar membantu menyosialisasikan rencana pelaksanaan Crossborder ini,”ujarnya.

Mengenai potensi yang bisa dikembangkan di tapal batas selain menggelar crossborder dengan Kemenpar Hans mengaku pihaknya harus menyesuaikan dengan pangsa pasar di kawasan perbatasan terutama keingingan dari warga PNG yang datang ke Papua.“Pada Juni lalu pengunjung Cross Border rata-rata warga PNG, mencapai 1.300-an orang yang melakukan wisata belanja, Agustus naik hingga 1.400-an, lalu pada awal November hampir mencapai 1.400-an orang, dan akhir bulan ini, semoga naik lagi,” katanya.(*)
by Facebook Comment

16 Artis K-Pop Korea, 2 Minggu Shooting Reality Show di Manado

 

MANADO - Dari ujung utara pulau Sulawesi, Wonderful Indonesia terus menyapa wisatawan dunia. Selama dua Minggu, 20 November – 2 Desember 2016, Sulawesi Utara dibanjiri 16 artis K-Pop dan artis sinetron Korea. Kehadiran bintang-bintang Korea itu dalam rangka shooting film Reality Show berjudul Law of the Jungle in Manado. Hasil dari shooting selama dua minggu tadi dijadwalkan tayang di Korea Prime Time selama dua bulan.

Para selebriti Korea ini antara lain Jin ‘BTS’, Cheng Xiao ‘Cosmic Girls’, Gong Myung ‘5urprise’, Kim Min Seok, Sungyeol ‘Infinite’, dan Kangnam ‘M.I.B’ dan Sleepy ‘Untouchable’, Sol Bi, dan Yoon Da-hoon. “Saya baru selesai mendampingi mereka. Mereka membantu mempromosikan pariwisata Sulawesi Utara," kata Asisten Deputi Pengembangan Pasar Asia Pasifik Kemenpar, Vinsensius Jemadu, Rabu (2/12).

Bagi VJ – sapaan akrab Vinsensius Jemadu, ini sangat menggembirakan. Maklum, fans K Pop itu sangat banyak. Dan keberadaan fans-fans fanatik tadi, menyebar ke berbagai penjuru dunia. Dari mulai kawasan Asia, Afrika, Amerika, Australia, Eropa, semuanya sudah terkena ‘virus’ K Pop. “Efeknya bakal sangat dahsyat bagi Sulawesi Utara. Setelah syuting Law of the Jungle in Manado, Sulawesi Utara bakal makin dikenal dunia,” ungkap VJ.

‘Daya ledak’ pembuatan film atau reality show memang dahsyat. Menpar Arief Yahya sering mencontohkan kisah sukses pariwisata Thailand, jadi makin berkibar lantaran pernah dijadikan lokasi syuting James Bond di Koh Ping Ghan. Juga Menara Kembar Kuala Lumpur di Malaysia yang ngetop setelah dijadikan film Entrapment yang dibintangi Sean Connery. Lalu, Selandia Baru yang ikut ngetop setelah film The Lord of the Rings menggunakan lokasi di sana.

Bali sebenarnya pernah beberapa kali disentuh dengan model promosi melalui film. Yakni ketika bintang kenamaan Hollywood, Julia Robert memanfaatkan Pulau Dewata sebagai lokasi syuting Eat, Pray, Love. Terakhir, ada destinasi Morotai yang ikut ngetop setelah dijadikan lokasi syuting jaringan TV terbesar nomor dua Perancis, TV M6. “Saya yakin setelah ini pariwisata Sulawesi Utara makin berkibar. Makin heboh,” ucap VJ.

Soal potensi, Sulawesi Utara memang punya segalanya. Dan syuting Law of the Jungle in Manado membuktikan hal itu. Dari Tangkoko Bitung, Mahoro Pulau Siau hingga Nani Wartabone Kotamobagu National Park, semuanya tak kalah eksotisnya bila dibanding Thailand dan Malaysia, dua rival yang menjadi musuh professional dan musuh emosional Wonderful Indonesia.

Di Taman Wisata Alam (TWA) Batu Putih Tangkoko, artis-artis Korea menjumpai banyak hal unik yang sulit ditemukan di destinasi lainnya. Ada sekumpulan Yaki dan Tarsius yang dijumpai mereka. Bagi yang belum tahu, tarsius adalah monyet terkecil di dunia yang telah langka. Kepalanya bisa berputar 180 derajat. Ukurannya kecil sekali, hanya sekitar 10cm dan selalu berada di pohon beringin.Habitatnya hanya ada di Indonesia dan Filipina. Sementara Yaki adalah monyet hitam endemik Sulawesi (Macaca nigra) yang keberadaannya berpusat di Sulawesi Utara.

Mahoro Pulau Siau? Juga tak kalah dahsyatnya. Wisata baharinya tak kalah dengan Bunaken. Pulau Mahoro merupakan titik paling timur dari cluster Buhias, sehingga menjadikan pulau ini semacam benteng bagi pulau-pulau lainnya. Salah satu sisinya langsung berhadapan dengan lautan bebas yang membuat dinding-dinding batunya terhantam ombak. Sementara di sisi lainnya menjadi begitu tenang, setenang air dalam kolam, karena di depannya terhampar beberapa pulau yang memagari.

Pulau indah ini menjadi tempat sangat indah untuk menikmati pemandangan Gunung Api Karangetang yang dijuluki sebagai The Real Volcano. Sunrise dan sunset bisa dinikmati di sini. Tak heran, keindahan Mahoro mampu membuat takjub beberapa pelancong yang datang ke pulau itu. Sebut saja Travel Photographer Professional, Ebbie Vebri Adrian yang sudah mendatangi lebih dari 2.000 destinasi wisata di Indonesia. “Bintang K Pop dan sinetron Korea juga ikutan takjub. Semua terkesima dengan pantainya yang begitu indah, pasir putihnya yang tidak terasa panas walau siang terik,” ungkap VJ.

Nani Wartabone Kotamobagu National Park punya cerita lain lagi. Ada banyak potensi flora yang dijumpai bintang-bintang Korea di wilayah ini. Dari mulai kayu hitam, kayu besi, kayu inggris), cempaka, paku-pakuan, palem, rotan, hanjuang hijau hingga bunga bangkai, semuanya ada di kawasan ini.

Kekayaan faunanya? Ada 24 jenis mamalia, 125 jenis aves, 11 jenis reptilia, 2 jenis amfibia, 38 jenis kupu-kupu, 200 jenis kumbang, dan 19 jenis ikan yang bisa dijumpai di sini. Dan semuanya dibalut dengan keberadaan  Air Terjun Mengkang, Air Terjun Tumpah, Air Terjun Lombonga dan Gua Batu Berkamar. “Kekuatan eksposurenya bakal makin dahsyat. Karenanya kami menyiapkan dengan maksimal. Garuda Indonesia juga ikut dilibatkan untuk mensupport kegiatan ini,” terang VJ.

Saat ini, pariwisata Sulawesi Utara terus menggeliat. Sejak Lion dan Sriwijaya membombardir banyak penerbangan langsung dari Tiongkok, jumlah wisman yang tadinya 12.000 orang per tahun sekarang menjadi 12.000 wisman per bulan. Dan mulai Januari 2017, VJ melaporkan akan ada tambah 10 flight per hari ke Manado dari 8 kota di Tiongkok. Manado bakal semakin heboh dan kuat, pariwisatanya.

“Dalam kesempatan yang sama Jin Air tahun depan sudah mulai terbang charter ke manado dengan salah satu wholesaler di Seoul. Paket sudah dibuatkan Incheon-Manado-Bali-Incheon,” terang VJ. (*)
by Facebook Comment

Kamis, 01 Desember 2016

Rapimnas Kadin, Menpar Arief Bicara Core Ekonomi

 

JAKARTA – Rapimnas KADIN 2016 di Hotel Borobudur, Selasa (1/12), dijadikan momentum penegasan mengapa pariwisata cikal bakal backbone ekonomi bangsa. Sektor yang ditempatkan sebagai prioritas pembangunan nasional selain infrastruktur, pangan, energi dan maritime itu diprediksi bakal menjadi centrum dan tulang punggung perekonomian Indonesia. Pariwisata itu masa depan Indonesia. 
“Untuk Indonesia, pariwisata sebagai penyumbang PDB, devisa dan lapangan kerja yang paling mudah dan murah,” ungkap Menpar Arief Yahya di agenda yang dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo itu.
Pada Diskusi Panel sesi III yang ikut dihadiri Ketua OJK Muliaman Hadad, Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Kepala BKPM Thomas Lembong, Kepala Bekraf Triawan Munaf, serta Dirut Bank BRI Asmawi Syam itu, semua potensi besar tadi dipaparkan Arief Yahya dengan sangat detil.
Dari sisi PDB, pariwisata sudah menyumbangkan 10% PDB nasional. Prosentasenya tertinggi di ASEAN. Angka pertumbuhan PDB pariwisata nasional? Lumayan tinggi. Saat ini, PDB pariwisata nasional tumbuh 4,8% dengan trend naik sampai 6,9%, jauh lebih tinggi daripada
industri agrikultur, manufaktur otomotif dan pertambangan. “Performance pariwisata terus menanjak dan optimisme itu kian terbentuk,” ungkap mantan Dirut Telkom itu.
Devisa pariwisata juga tak main-main. Angkanya menembus USD 1 juta dan
menghasilkan PDB USD 1,7 juta atau 170%. Itu terbilang tertinggi dibanding industri lainnya. “Jadi kalau selama ini orang mengkategorikan industri itu menjadi migas dan non migas, maka kelak industri itu akan menjadi pariwisata dan non pariwisata,” kata Arief.
Rangking dari devisanya? Ada di posisi empat besar penyumbang devisa nasional. Prosentasenya mencapai 9,3% dibandingkan industri lainnya. Dan bila ditarik ke prosentase pertumbuhan penerimaan devisa, pariwisata bahkan memperlihatkan pertumbuhan yang paling menggembirakan. Prosentase pertumbuhannya paling tinggi. Angkanya
menembus 13%.
Urusan lapangan kerja, pariwisata juga bisa menjadi solusi. Pariwisata itu penyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan, atau sebesar 8,4% secara nasional dan menempati urutan ke-4 dari seluruh sektor industri. Angka pertumbuhannya mencapai 30% dalam waktu 5 tahun. Cost-nya? Sangat murah. Marketeer of The Year 2013 itu dengan tegas menyebut pariwisata sebagai pencipta lapangan kerja termurah. “Memang termurah. Pariwisata bisa meng-create job opportunity hanya dengan USD 5.000/satu pekerjaaan. Coba banding dengan rata-rata industri lainnya yang sudah sebesar USD 100.000/satu pekerjaan,” jelas Arief di hadapan anggota KADIN yang hadir di Hotel Borobudur itu. 
Atas dasar potret perekonomian yang seperti tadi, dengan cepat bisa diraba bahwa pariwisata memang sektor yang paling seksi untuk dijadikan core business. Saat ini ada lima yang menjadi prioritas nasional, yakni infrastructure, pangan, energi, maritim, dan
pariwisata.
Di belahan bumi manapun, pariwisata tetap jadi primadona. Meskipun krisis global terjadi beberapa kali, jumlah perjalanan wisatawan internasional tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif. Dari 25 juta (1950), 278 juta (1980), 528 juta (1995), 1,14 miliar (2014), hingga mencapai 1,18 miliar (2015).
Hal lainnya, efek domino dari pariwisata itu dahsyat dan sangat signifikan. Dari data World Bank, setiap  belanja USD 1 akan mendorong
dan menggerakkan sektor ekonomi lain minimal USD 3,2. Dan pariwisata adalah salah satu penggerak dari sektor utama lainnya, seperti
ekonomi, globalisasi, konektivitas, integrasi dan pengembangan sosio-ekonomi. Dan yang paling penting, pariwisata itu cocok untuk
siapa saja. Pria, wanita, muda, tua, paruh baya, berasal darimana saja, dari level apa saja, semua butuh pariwisata. “Karena itu, kami
semakin yakin, apa yang diputuskan Presiden Joko Widodo itu sudah berada di rel yang benar. Pariwisata menjadi salah satu sektor
prioritas, selain Infrastruktur, Energi, Pangan dan Maritim. Kita punya semua potensi yang dibutuhkan untuk menghidupkan pariwisata
sebagai pendongkrak ekonomi nasional,” sebut Arief Yahya.
Lalu bagaimana implementasi ke depan? “Semangatnya harus Indonesia Incorporated.  Negara ini hanya akan dapat memenangkan persaingan di tingkat regional dan global apabila seluruh Kementerian/Lembaga yang
ada bersatu padu untuk fokus mendukung Core Business yang telah ditetapkan. Maju serentak tentu kita menang,” ungkap pria kelahiran
Banyuwangi itu.  (*)
by Facebook Comment

Lantik Pejabat Baru, Menpar Arief Yahya Tunggu Actions 100 Hari

 

JAKARTA – Ini bukan pelantikan presiden, gubernur atau bupati-walikota. Tapi Menpar Arief Yahya tetap meminta para pejabat baru Eselon III dan IV yang baru dilantik di Balairung, Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta itu menerapkan WIN-Way. Corporate culture yang tengah dibangun di Kemenpar RI, dengan 3S, Solid, Speed, dan Smart. “Saya serius akan pantau dalam 100 Hari,” kata Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI.  

Acara pelantikan kali ini cukup istimewa. Three in one, tiga jadi satu. Pertama, melantik pejabat Eselon III dan IV. Lalu melantik Badan Otoritas Toba (BOT) yang dipimpin Dirut Ari Prasetyo, satu dari 10 Bali Baru yang pertama kali bakal mengelola kawasan Danau Toba Sumatera Utara. Ketiga, melantik Pengurus  Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) periode 2016-2021, yang dipimpin Didien Djunaedi. Namun, pesan utamanya sama, menekankan kembali pentingkan menjalankan WIN-Way, Wonderful Indonesia Way. 

Agar Solid, bersatu padu, kompak, maka harus menciptakan common enemy, atau musuh bersama. “Kita sudah tetapkan, common enemy kita bersama. Musuh emosionalnya, Malaysia. Musuh professional kita Thailand. Kalahkan mereka hingga betul-betul capaian kita mengalahkan mereka. Wisman Malaysia sudah di angka 25 juta, sedang Thailand 30 juta. Devisa kita setengah dari Malaysia dan seperempat Thailand. Seorang pemimpin tidak akan lelah sebelum targetnya tercapai,” kata dia.

S yang kedua adalah Speed. Ini adalah kelemahan yang paling mendasar PNS. Lambat, lelet, dan banyak membuat aturan main yang justru menjerat-jerat program Kemenpar sendiri. Era digital saat ini, bukan yang besar memakan yang kecil, tetapi yang cepat memakan yang lemah. 

“Singapura misalnya. Pada 2015, negeri sekecil itu bisa menarik kunjungan 15,2 juta wisatawan asing, hampir tiga kali lipat dari penduduknya, dan meraup 17,7 miliar dolar AS devisa dari sector pariwisata pada 2014. Yang cepat menyalip yang “lelet”, bukan yang besar menginjak yang kecil,” papar alumnus Institut Teknologi Bandung itu.

Seorang pemimpin juga harus memberi contoh bekerja dengan cara yang Smart. Yakni harus pintar-pintar membuat bukit-bukit kemenangan atau quick win. Memilih program 100 hari kerja itu, juga harus pintar, yang dampaknya besar, dan capaiannya tinggi. Memprioritaskan yang prioritas. “Utamakan yang utama!” jelas Arief Yahya.

Jurus Smart Menpar itu intinya berinovasi. Persaingan tak lagi dimenangkan dengan cara business as usual. Yang dikejar, justru harus dengan cara yang tidak biasa. “Berinovasi berarti kita menciptakan sesuatu yang sama sekali beda. Kata Prof. Chan Kim, penulis buku hebat Blue Ocean Strategy mengatakan kalau kita bisa menciptakan sesuatu yang sama sekali beda (blue ocean), maka kita bisa dengan mudah menghindari persaingan dan persaingan menjadi tidak relevan lagi. Atau dalam ungkapan bijak SunTzu, kita bisa memenangkan peperangan tanpa peperangan,” ulas Menpar.

Mantan Dirut PT Telkom ini juga menyebut, promosi di Kemenpar kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni menggunakan konsep 3C. Pertama, Character, dengan bobot 50%. Character itu menyangkut integritas atau kejujuran. Ini sangat penting, dan jangan bermain-main.

Kedua, Competency. Seorang pejabat harus kompeten, paham akan persoalan yang bakal dihadapi, dan tahu bagaimana harus menyelesaikannya. Ingat pelajaran IFA –Imagine, Focus, dan Action. Imagine itu punya mimpi besar, dan bisa mewujudkan impiannya dalam kenyataan. “Maka, pemimpin yang hebat itu harus berawal dari akhir. Mau di bawa ke mana dan dibuat apa dulu, baru ditemukan cara menuju ke sana,” jelas Arief Yahya, pria asli kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur itu.

Focus, itu kerjakan yang utama dulu. Alokasikan seluruh waktu, tenaga, perhatian, budget dan sumber daya untuk menuntaskan pekerjaan yang utama terlebih dahulu. Action, itu impian itu jangan berhenti di mimpi atau konsep saja, tetapi harus action sampai mewujudkan menjadi nyata.

C yang ketiga, Collaboration, bisa bekerjasama dengan pihak manapun, untuk mencapai tujuan utama Kementerian ini. Yakni, menuju target 20 juta Wisman di tahun 2019. Lalu dibreakdown setiap tahunnya, harus mencapai target di angka berapa banyak. “Di sinilah perlu Indonesia Incorporation. Spirit bersama untuk Merah Putih, untuk Indonesia, maka harus bisa bersatu,” ucap Marketeer of The Year 2013 versi MarkPlus itu.

WIN-Way, atau Wonderful Indonesia Way itu sudah ditetapkan sebagai budaya kerja  di Kemenpar. Menpar menyebut WIN-Way, sama dengan yang dilakukan IBM dengan IBM-Way, GE-Way ataupun Telkom-Way, sebuah budaya kerja yang diciptakan untuk memenangkan persaingan. “Kalau semuanya solid, speed, smart, dan bisa menjalin kerjasama yang padu dengan Academician, Business, Government, Community, dan Media, maka kemenangan itu hanya tinggal menunggu waktu.

Sejumlah tips tadi langsung ‘membakar’ semangat GIPI. Ketua GIPI periode 2016 2021 Didien Junaedy mengaku sepakat dengan Menpar. Menurutnya, pemasaran pariwisata, pengembangan destinasi, dan percepatan peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM)  harus dikejar dalam upaya majunya pariwisata Indonesia.

“Semuanya ini merupakan program kerja utama GIPI yang harus dicapai, serta fokus pada 10 destinasi prioritas yang ditetapkan pemerintah,” kata Didien.

Didien  mengatakan, sebagai implentasi dari program tersebut GIPI akan mengarahkan anggotanya dari kalangan asosiasi pariwisata seperti PHRI dan ASITA agar turut aktif mengembangkan dan menjual 10 destinasi prioritas tersebut, baik itu pembangunan hotel maupun penjualan paket-paket tour.

“Kami juga akan menggelar famtrip ke sejumlah destinasi tersebut, yang diikuti semua unsur pentahelix  anggota GIPI dengan ouput yang berbeda-beda. Seperti jurnalis akan menulis tentang destinasi tersebut, biro perjalanan akan membuat paket tour, dan pihak perhotelan akan menawarkan ke investor,” jelas Didien.

Hadir dalam pelantikan pejabat baru itu, semua Deputi Kemenpar, Ketua Tim Pokja 10 Top Destinasi, Hiramsyah Sambudy Thaib, Ketua PHRI Haryadi Sukamdani, Ketua ASITA Asnawi Bahar, Ketua Tim Percepatan Wisata Halal Riyanto Sofyan, Ketua Tim Percepatan Ecotourism David Makes, Pemilik Hotel Rhadana Kuta Bali Rainier Daulay dan sejumlah pengurus industry dan asosiasi yang bergerak di sector pariwisata.(*)
by Facebook Comment

More for Less, You Get More You Pay Less

 

BATAM - Menpar Arief Yahya menyebut bisnis TTT -Tourism, Transportation, Telecomunication itu punya DNA yang mirip. Sama-sama bergantung pada season (musim), sehingga ada saat peak dan low season. Sama-sama bergantung jarak, sehingga ada zonasi. "Dan sama-sama sensitif dengan harga! Makin murah meriah, makin meledak traffic-nya," kata Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI di Novotel Batam, Kepri. 
Dia mencontohkan bisnis transportasi udara, dengan muncul LCC, low cost carrier. Penerbangan murah, seperti Lion Air, Air Asia, Citilink, Jetstar, dan masih banyak lagi. Lawannya full service carrier seperti Garuda, Singapore Air, Quantas, Emirates, Qatar Air, dan lainnya. "Karena penerbangan itu murah, maka orang jadi affordable, harga terjangkau oleh masyarakat, dan membuat orang terbiasa naik pesawat. Lihat saja di terminal 1 Soekarno Hatta Jakarta, penumpangnya banyak dan antre panjang," papar Arief Yahya. 
Begitupun di telco atau telekomunikasi. Kita masih ingat persaingan harga sampai nol koma nol panjang itu? "Saya punya banyak pengalaman memimpin Telkom dan pengalaman 10 tahun jadi komisaris utama Telkomsel, begitu harga pulsa diturunkan 90 persen, pelanggannya naik dari 20 juta lebih dari 10 kali, revenue nya juga melompat tinggi," paparnya. 
Sama halnya dengan start pack, atau kartu perdana, yang semula Rp 100 ribu, lalu dibuat gratis. Pengguna kartu Telkomsel melonjak tinggi, customers bertambah banyak, dan ujungnya revenue-nya naik pesat. 
Bagaimana dengan tourism? Ini yang belum menemukan model wisata yang murah. Konsep More for Less ini akan menciptakan ekosistem baru dalam pariwisata, dan akan dicoba di Kepri. Mengapa Kepri? Pertama, Kepri sudah ditetapkan sebagai Gerbang Wisata Bahari Indonesia. Untuk pengembangan yacht dan marina tempat parkir perahu pesiar, Batam, Bintan, Anambas adalah lokasi yang baik, dekat dengn international hub transportasi, baik udara maupun laut. Kepri bisa menjadi gate untuk masuk dan keluarnya yachters ke tanah air. 
Kedua, Kepri dekat dengan negara tetangga Singapore dan Malaysia. Kepri masuk dalam kategori border tourism. "Kita belajar dari apa yang terjadi di Spanyol dan Prancis, yang jutaan orang masuk melalui crossborder tourism. Singapore itu ada 3.5 juta Singaporean, 1,5 juta ekspatriat, dan 15.5 juta wisatawan asing masuk setiap tahunnya. Itu adalah pasar, yang sering kita sebut sebagai menjaring ikan di kolam tetangga," kata Arief Yahya. 
"Ingat ilmu TTT (tourism, transportation, dan telco). Dasarnya adalah kedekatan, proximity, jarak geografis yanh dekat. Itu akan menjadi opportunity bagi wisata bahari Indonesia. Penyeberangan Batam - Siangapore itu hanya 45 menut saja," jelasnya. 
Ketiga, Kepri-Singapore-Malaysia juga dekat secara budaya. Sama-sama Melayu, sehingga komunikasinya bisa lebih nyambung. "Salah satu contoh kedekatan budaya yang membuat orang bergerak dari satu kota ke kota lain adalah mudik Lebaran. 
Strategi baru More for Less di Kepri ini adalah implementasi dari cara yang tidak biasa untuk memperoleh hasil yang luar biasa. Persis dengan apa yang dijelaskan motivator Tung Desem Waringin yang ikut memberikan materi selama 2,5 jam di Novotel, Batam itu. "Sampai dengan bulan Oktober 2016, Kepri memang turun, cukup besar, 6 persen dari capaian tahun 2015. Kalai industri yang Anda pimpin itu growth negatif dari rata-rata nasional, berarti perusahaan Anda sedang sekarar, atau menjelang mati! Apalagi target nasional harus melompat minimal 25% dari tahun sebelumnya," jelasnya. 
Memaksimalkan excess capacity itu adalah langkah paling cantik untuk mengejar target kunjungan wisman, sekaligus menghidupkan suasana industri pariwisata di sana. Pertama, kumpulkan excess capacity (kapasitas yang tak terjual atau kosong). Kedua, gunakan digital (ITX) untuk menjual lengkap dengan booking system dan payment gateway. Ketiga, promosikan di originasi sesuai timeline-nya, yang sedang low seasons. 
Maka affordability akan optimum dan tidak ada lagi istilah low and high season. Di semua hari, menjadi penuh, dan non operational return-nya bisa dimaksimalkan. "Kalau ini berjalan, maka akan menciptakan bisnis baru yang revolusioner di pariwisata," kata dia.(*)
by Facebook Comment

Menpar Optimasi Excess Capacity Melalui Digital

 

BATAM - Inilah satu butir implementasi "more digital more professional" yang dipopulerkan Menpar Arief Yahya. Berbincang akrab dengan  sekitar 170 industri pariwisata Kepri di Novotel, Batam, dan mulai mengajak pelaku bisnis untuk actions mengoptimalkan excess capacity dengan cross selling. "Ini teori saya yang sudah saya tulis di buku Paradox Marketing. Kita akan ciptakan More for Less," kata Menpar Arief Yahya. 
Apa maksudnya? "More for Less, itu artinya You Get More, You Pay Less. Paradoks. Ketika harga didiskon habis, bahkan digratiskan, justru Anda mendapatkan hasil yang lebih besar. Kita ciptakan harga yang membuat orang tidak bisa menolak untuk membelinya. Caranya, kumpulkan excess capacity, lalu dipaket murahkan! Semisalnya kamar hotel yang tidak laku, saat sepi pengunjung, low seasons, antara  Senin sampai Kamis tiap pekan ketika tidak ada event," jelasnya. 
Lalu, tiket fery yang dijual lebih murah di hari-hari sepi penumpang, atraksi seperti reatoran, cafe, spa, souvenir shop, dan lainnya juga dibuat program diskon. Semua kapasitas kosong yang sedang low seasons itu dikumpulkan, lalu dibuat paket murah ke Kepri, Batam, Bintan dan sekitarnya. "Buat harganya semurah-murahnya, buat terjangkau, agar affordable. Lalu dipromosikan yang sangat menarik," lanjut Mantan Dirut PT Telkom Indonesia ini. 
Darimana pelaku bisnis itu mendapatkan keuntungan? Kalau dibuat murah dan bahkan gratis? "Nah, di sinilah yang dimaksud dengan cross selling. Anda bisa mengambil return dari makanan, minuman, paket wisata, dan fasilitas lain yang non kamar hotel, atau services lainnya. Istilahnya non operasional. Bisnis itu selalu mengambil untung dari operasional dan non operasional return," papar Arief Yahya. 
Apakah itu akan rugi? Jawabannya, tidak! Malah justru untung, karena services. "Daripada hotel atau atraksi Anda kosong? Okupansinya rendah? Mending tetap isi, mengambil point di services yang lain. Toh kalau hotel kosong, tenaga kerja tetap harus dibayar? Maintenance tetap harus jalan? Jam kerja efektif tetap harus ada karyawan? Tetap mengeluarkan biaya? Nah, makin lama, makin populer, makin ramai, makin terjangkau dan menjadi basic need atau kebutuhan dasar oran untuk jalan-jalan ke Kepri," tandasnya. 
Program ini khusus hanya low seasons saja, di saat sepi pengunjung. Kapasitas kosong, memaksimalkan idle capacity. Juga tidak harus semua yang kosong, dengan digital Anda bisa mengatur inventory dengan booking system yang sudah disiapkan. Kalau Jumat, Sabtu, Minggu, itu sudah pasti penuh, program ini langsung off. Karena wisman Singapore dan Malaysia itu rata-rata, 90-100 persen full di week end dan saat event international. Tetapi di weekday, tingkat huniannya turun drastis hingga 20 persen, dan 80 persen kosong. 
Dengan digital, yang diendors oleh Kementerian Pariwisata, ITX - Indonesia Travel Xchange, maka kapasitas kosong itu bisa dengan pasti dijual dan dipromosikan. Tidak harus semuanya, tetapi lebih baik isi daripada fasilitas itu kosong. ITX adalah digital market place, platform yang mempertemukan demand dan supplay. ITX sudah menyediakan website gratis, booking system gratis dan payment engine gratis pula. 
Arief Yahya menawarkan konsep ini bukan tanpa pengalaman. Di Telkom, dia pernah melakukan "revolusi harga per user." Dari jualan pulsa per menit Rp 1.000 menjadi Rp 100. Turun drastis. Apakah rugi? Jawabannya sama sekali tidak. Harga pulsa murah, tetapi jumlah pelanggan naik dramatis, dari rata-rata 20 juta, menjadi lebih banyak dari jumlah penduduk Indonesia, dengan perbandingan 1:1,2 atau 120 persen dari jumlah penduduk. 
Jika affordability naik, keterjangkauan kuat, maka berwisata ke Kepri itu akan menjadi basic need. Kebutuhan dasar, yang orang tidak bisa hidup tanpanya. Orang tidak masuk nalar jika tidak berjalan-jalan ke Batam, Bintan, Tanjung Balai, dan sekitarnya dengan biaya murah. "Saat itulah jumlah wisman naik, revenue naik, dan proyeksi pendapatan Anda bisa naik 60%. Bukan okupansi ya, tetapi pendapatan yang meningkat drastis. Dan yang terpenting: orang makin mudah, makin murah, makin terbiasa jalan-jalan ke Kepri," jelas Marketeer of the Year 2013 oleh MakrPlus itu. 
Maka booming pariwisata di Kepri tidak akan bisa dihindarkan. Semakin banyak crowd tourism di sana, maka segala macam atraksi bisa dibuat dan laku di sana. "Inilah yang saya sebut sharing economy, atau yang Presiden Jokowi menyebut ekonomi gotong royong. Maka di Tourism akan terjadi More For Less, You Get More, You Pay Less! Sama dengan yang sudah dialami bisnis Telekomunikasi dan Transportasi," papar Arief Yahya yang kelahiran Banyuwangi Jawa Timur itu.(*)

by Facebook Comment

Belitung Diusulkan Ke UNESCO Sebagai Geopark Dunia

 

BELITUNG - Destinasi prioritas Tanjung Kelayang kian kencang mengembangkan Geopark di Belitung. Di bawah koordinasi tim Pokja Percepatan 10 Bali Baru yang diketuai Hiramsyah Syambudhi Thaib itu, Belitung tengah disibukkan menyiapkan sebuah Festival Geopark di Belitung dan Belitung Timur pada 9-11 Desember 2016.

“Sebagian dibikin di Belitung. Sebagian lagi di Belitung Timur. Komunitas, pemerintah, masyarakat, semuanya bersinergi,” terang Tim Geopark ITB 81, Diah Herawati, Selasa (29/11).

Agenda yang digelar? Cukup beragam. Dari mulai seminar nasional Geopark Belitong, Workshop teknik mendongeng untuk guru TK & SD, mancing, menyelam dan bersepeda, semua bisa dijumpai 9-11 Desember 2016 nanti. Semua bisa dinikmati sambil menikmati keindahan panorama wisata di Pulau Memperak, Pulau Bukulimau dan Open Pit.

Dua Pemkab, menurut Diah, akan di-connect-kan. Belitung dan Belitung Timur akan saling bekerjasama tanpa batasan kewenangan admisitratif.  Upaya ini dilakukan lantaran penilaian Geopark yang dilakukan UNESCO menyebar merata di seluruh pulau. Dari mulai batuan granit besar, batuan bertekstur porfiritik, mineral kuarsa, ortoklas, plagioklas, biotit, dan hornblende beraneka warna hingga batuan beku yang mempunyai kristal kristal kasar, semua tersebar merata di Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur. 

“Kalau jalan sendiri-sendiri nanti nggak ketemu. Geopark itu statusnya kan rentang geologi. Dan UNESCO menilainya satu pulau. Jadi tak bisa jalan sendiri-sendiri. Dua kabupaten visinya harus sama,” ungkap Diah.

Lantas mengapa harus ngotot menggabungkan kekuatan dua kabupaten? Mengapa juga geopark Belitung harus didorong ke level dunia? Soal ini, Ketua Pokja Percepatan 10 Bali Baru Kemenpar, Hiramsyah Syambudhi Thaib punya jawabannya. “Status geopark dari sebuah kawasan geologi berpotensi meningkatkan daya tarik suatu destinasi wisata. Geopark juga bisa menjadi penggerak ekonomi paling cepat ketimbang sektor-sektor lain,” terang Hiramsyah yang didampingi PIC Tanjung Kelayang Kementerian Pariwisata, Larasati.

Pria berkacamata itu tak asal bicara. Konsep geopark memang berpotensi menghadirkan pendapatan yang signifikan. Tengok saja Tiongkok. Dari pendapatan wisata sekitar 6 miliar dollar AS atau Rp 80 triliun, sekitar 62 persen di antaranya atau mencapai Rp 49 miliar, disumbangkan dari pengelolaan 33 kawasan geopark dunia.

Di Indonesia, manfaat ekonomi juga sudah dirasakan kawasan Pegunungan Sewu Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada 2011, Pendapatan Asli Daerah yang dihasilkan dari sejumlah destinasi wisata karst di lokasi tersebut baru sekitar Rp 800 juta. Namun, setelah ditetapkan sebagai kawasan geopark global dunia, pendapatan aslinya meningkat menjadi Rp 22,5 miliar.

Angka itu belum termasuk potensi pendatan dari kawasan UNESCO Global Geopark (UGG) Gunung Batur (Bali) serta empat Geopark Nasional (GN) Kaldera Toba (Sumatera Utara), GN Merangin (Jambi), GN Cileteuh (Jawa Barat), dan GN Rinjani (Lombok, NTB), yang baru dinominasikan menjadi kawasan UNESCO Global Geopark (UGG).

Ciletuh Jawa Barat juga tak jauh beda. Dulunya kunjungan wisatawan hanya 200 ribu orang dalam setahun. Sejak ditetapkan menjadi geopark nasional, angka kunjungan wisatawannya melonjak menjadi 1.200 orang setahun. “Awalnya pemasukan hanya Rp 800 juta sekarang jadi Rp 2,3 miliar. Potensinya sangat besar jadi harus digarap serius," ungkapnya.

Dan kebetulan, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia karena faktor alam (nature) prosentasenya lumayan tinggi. Angkanya menembus 35 persen. Potensi alam sebesar 35 persen tadi kemudian dikembangkan sebagai wisata bahari (marine tourism), wisata ekologi (ecotourism) 45 persen, dan wisata petualangan (adventure tourism) 20 persen. “Di dalamnya termasuk geopark,” tutur Hiram – sapaan akrab Huramsyah.

Di bagian lain, PIC Tanjung Kelayang, Larasati, sejumlah perangkat desa sudah mulai menyiapkan berbagai sarana pendukung untuk menyambut era geopark di Belitung. Desa Senyubuk Kecamatan Kelapa Kampit misalnya. Beragam infrasturktur seperti home stay, pertunjukan budaya, dan souvenir di sekitar Gunung Kik Karak sudah disiapkan masyarakat di sana untuk menyambut wisatawan.“Untuk menyambut geopark warga desa di sana sudah menyiapkan homestay untuk 200 orang. Ada juga mess Pemda. Kebetulan warga di sana juga punya sanggar yang sudah cukup lama berdiri. Atraksi seni dan budaya lokal bisa ditampilkan untuk menyambut wisatawan,” ungkap Larasati.

Menpar Arief Yahya menambahkan, tahun 2016 Kemenpar sudah mengusulkan 2 Geopark ke UNESCO. Yakni Geopark Rinjani dan Geopark Ciletuh Sukabumi Jawa Barat. Tahun 2017 nanti pihaknya akan mengusulkan dua lagi, yakni Geopark Belitung dan Geopark Danau Toba. (*)
by Facebook Comment

Kejar Target 20 Juta Wisman, Kemenpar Gelar Pelatihan Win Way Champions

 

JAKARTA – Target 20 juta Wisman di 2019 itu bukan hal yang sederhana. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pun, menggelar pelatihan Win Way Champions bagi pejabat Eselon IV, di Lumire Hotel & Convention Center Jakarta dilaksanakan 28-29 November 2016. Kegiatan ini diimplementasikan oleh Asdep Pengembangan SDM Aparatur, Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kemenpar.

Pelatihan itu dibuka oleh Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan Kemenpar Ahman Sya. Dia sekaligus menyampaikan pemaparan tentang kebijakan dan upaya konkret dari kelembahaan untuk mempertebal keyakinan mendapatkan wisman 20 juta itu.

Pelatihan Win Way Champions (WWC) itu menampilkan sejumlah nara sumber sebagai motivator dan pakar marketing antara lain Yuswohady, Goenawan Loekito, dan Tung Desem Waringin. Para nara sumber ini memberikan motivasi serta pelatihan sebagai best practice, dengan mengambil sejumlah case study antara lain; Badan Otorita Pariwisata Danau Toba, More For Less, dan case study Thailand.   

Pelatihan diikuti sebanyak 214 peserta dari kalangan pejabat Eselon IV di lingkungan Kemenpar.  Sebanyak 120 orang peserta  di antaranya akan menjadi pilot project. Peserta terbagi dalam  4 kelas masing-masing kelas akan diikuti 30 orang peserta. ”Pelatihan ini mengangkat tema Win Way Be The Best. Ini kami lakukan karena target pariwisata dalam lima tahun ke depan atau 2019 yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sangat besar yakni dua kali lipat dari capaian 2014. Jadi kami satukan visi di pelatihan ini,” ujar pria yang pernah mengenyam pendidikan di Belgia itu.

Lebih lanjut Ahman mengatakan, target pariwisata 2019 diantaranya adalah pariwisata harus memberikan kontribusi pada PDB nasional (WTTC) sebesar 15%, menghasilkan devisa Rp 240 triliun, kontribusi terhadap kesempatan kerja sebanyak 13 juta tenaga kerja, meraih 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) sebesar 275 juta wisnus, serta daya saing pariwisata Indonesia harus berada di ranking 30 dunia. 

“Tingginya daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global ini akan  menjadi modal dalam memenangkan persaingan. Kami harus optimis dan harus bersatu untuk merealisasikan ini,”bebernya. Menurut data Kemenpar,  di tingkat kawasan ASEAN, tahun 2014 Indonesia meraih 9 juta wisman, jauh tertinggal dengan negara tetangga sebagai pesaing utama seperti Malaysia meraih 27,4 juta, Thailand 24,8 juta, dan Singapura 15,1 juta.

”Nah, ke depannya kita harus bisa mengalahkan atau minimal menyamai Malaysia dan Thailand. Kita harus jadi pemenangnya,” ujar pria yang pernah menjadi salah satu rektor perguruan tinggi di Bandung itu. Untuk mengalahkan kompetitor, imbuh Ahman Sya, dibutuhkan strategi yang jitu terutama dalam peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya di kalangan aparatur Kemenpar.

“Pelatihan hari ini sengaja dipilih tema  “Win Way: Be the Best. Untuk menjadi terbaik (the best) harus dibudayakan 3S dan spirit menjadi yang terbaik,” kata Ahman. Ahman menambahkan, budaya 3S yang selalu diingatkan Menpar Arief Yahya agar tetap menjaga solid, speed, dan smart.

Ahman menjelaskan, solid diimplementasikan solid dalam solid teamwork (collaboration); solid stakeholder integration (pentahelix); serta  solid in action (program execution). Sementara speed diimplementasikan dalam speed process (deregulation); speed product; serta speed service, sedangkan smart diterapkan dalam smart benchmarking (not invented here); smart innovation (blue ocean); dan  smart in digital (personal, professional, global).(*)
by Facebook Comment

Tung Desem: Bangkitkan Pariwisata Itu Ide Revolusioner

 

JAKARTA – Istilah “revolusioner” dan “dahsyat” itu memang akrab dengan pamor motivator paling heboh di tanah air, Tung Desem Waringin. Konsultan, penulis, dan pengusaha kelahiran Solo, 22 Desember 1968 yang kaya trik marketing itu memberi dua jempol untuk Presiden Joko Widodo. Ini setelah berstatemen tegas dan jelas, bahwa pariwisata bakal digas penuh menjadi core economy bangsa Indonesia, dengan menaikkan budget promosi 4-5 kali lipat dari sebelumnya.

Kata-kata Presiden Jokowi itu disampaikan dalam acara Kompas 100 CEO Forum di JCC Senayan, Jakarta, 24 November 2016. Lalu diulang lagi soal target 20 juta wisman di 2019 dalam forum sosialisasi Tax Amnesty Periode II di Hotel Clarion Makassar, Sulsel, Jumat, 25 November 2016. Berkali-kali presiden focus berbicara dengan tema, itu menunjukkan keseriusannya akan sector pariwisata.

“Sungguh, membangkitkan pariwisata adalah ide yang dahsyat dan revolusioner,” sebut Tung Desem Waringin yang buku karyanya berjudul “Financial Revolution” mendapat penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia, MURI, sebagai buku inspirasional pertama dengan penjualan 10.511 buah saat hari pertama diluncurkan tahun 2005.

Tung Desem yakin, jika komitmen orang nomor satu di negeri ini sudah serius dan bulat membesarkan pariwisata, pasti akan terjadi. Karena semua Kementerian, Lembaga dan Instansi terkait pasti akan support. Industri yang berada di bawahnya, juga akan lebih serius mengembangkan bidang ini, karena arah kebijakan pemerintah sudah pasti, menuju pada pembenahan di sector pariwisata.

“Data-data yang dipaparkan Pak Menpar Arief Yahya itu sudah sangat jelas. Hanya pariwisata yang trendnya naik, bahkan dibandingkan dengan Minyak dan Gas Bumi (Migas), batu bara dan minyak kelapa sawit, pertumbuhan Pariwisata paling signifikan. Ketika sumber devisa lain sedang turun, nariwisata naik dan sustainable, maka pilihan mengembangkan pariwisata itu tidak bisa terbantahkan,” papar Tung yang juga sukses dengan buku kedua, berjudul "Marketing Revolution." Buku yang memecahkan rekor buku pertama --Financial Revolution-- dengan laku lebih dari 39.000 unit saat diluncurkan di hari pertama.

Target 20 juta tahun 2019, dari start 9,3 juta di 2014, itu bukan angka sembarangan, kenaikan lebih dari 100 persen. Tung meminjam istilah yang dipopulerkan oleh Albert Einstein, tokoh fisika terbesar pada abad ke-20 yang menciptakan teori relativitas, E (energy) =M (massa) dikali C (kecepatan cahaya)2 itu menyebut, orang yang ingin mengharapkan hasil yang berbeda dengan menggunakan cara yang sama secara terus-menerus itu sama dengan “gila.”

“Kalau mau berubah, orang juga harus berubah! Itu kata-kata Albert Einstein. Pak Menpar Arief Yahya juga sering berkata, hasil yang luar biasa, hanya bisa dicapai dengan cara yang tidak biasa. Nah, apa yang ditargetkan 20 juta itu luar biasa, maka harus berubah dari cara yang lama, harus lebih dahsyat, harus lebih revolusioner,” sebut Tung Desem.

Nah, langkah presiden dengan concern di Pariwisata dan diwujudkan dengan komitmen untuk menaikkan budget promosi hingga 4-5 kali itu adalah langkah yang berbeda. Cara yang lain, yang banyak dipikirkan orang, untuk mendapatkan devisa besar, menyerap tenaga kerja banyak, dan sustainable.

Tung juga memuji konsep go digital yang dilakukan Kemenpar RI, dengan mengumpulkan semua excess capacity di industry, baik hotel, penyeberangan, penerbangan, atraksi, restoran, souvenir shop, dan lainnya lalu dibuat program cross selling. Dengan digital, konsep selling ini sangat mungkin dilakukan, sehingga customers tidak bisa menolak untuk tidak membeli service itu.

“Orang Singapore dan Malaysia itu, meskipun maju dan kaya raya, mereka tetap saja mencari diskon! Nah, dengan mengoptimalkan low seasons, semua diskon itu dikumpulkan dibuat program, maka mereka pasti datang ke Batam atau Bintan,” katanya di Novotel, Batam, saat sosialisasi Go Digital pada sekitar 170 industri Pariwisata di Kepri itu.

Cara ini pula yang biasa dia lakukan, dengan memberi diskon yang dinilai “tidak masuk akal.” Meskipun dia sudah berhitung dengan cross selling, dan dibuat hadiah yang membuat orang menarik. “Pokoknya, kalkulatornya sampai rusak, gak akan ketemu rumus ini,” jelas Tung, yang pernah membuat trik pemasaran pada peluncuran buku kedua dan diliput media lokal hingga media mancanegara dengan melakukan aksi bagi-bagi uang dan tiket seminar senilai Rp 100 juta di Stadion Sepak Bola Baladika Kesatrian Serang, tahun 2008 itu.

Tung yakin dengan cara yang “edan-edanan” itu, pariwisata bisa bertumbuh double. Itu pula yang biasa dia lakukan sehingga terpilih sebagai The Most Powerful People In Business 2005 Versi Majalah SWA, Pembicara Terbaik di Indonesia, Motivator Terheboh & Pelatih Sukses No.1 di Indonesia Versi Majalah Marketing, dan ditempatkan di peringkat tertinggi di Majalah Pilar Bisnis edisi November 2002.

Jadi? “Cara jualannya juga harus dahsyat dan revolusioner!” ucap Tung Desem Waringin yang telah mengadakan seminar kepada lebih dari 500 ribu orang peserta itu(*)
by Facebook Comment

Selasa, 29 November 2016

Membludak, Banten Beach Festival 2016 di Pantai Wirton

 

BANTEN-Pelaksanaan Banten Beach Festival (BBF) 2016 berakhir manis, Minggu (27/11). Perhelatan yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banten itu dihadiri oleh ribuan pengunjung setelah digelar selama tiga hari lamanya sejak tanggal 25-27 November 2016 di Pantai Wirton, Karang Suraga, Cinangka, Banten.
”Dari data pengelola Pantai Wirton, banyak pengujung masuk selama event ini dan angkanya ribuan pengunjung, karena memang acara dikemas dengan baik selama tiga hari dan dibingkai dengan berbagai acara menarik. Baik wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara terlihat sangat antusias. Kami berharap acara ini berdampak positif bagi Pariwisata Indonesia,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banten, Opar Sohari.
Banten Beach Festival 2016 dibuka oleh Opar Sohari yang disambut dengan tarian rampak bedug Wanda Banten pada tanggal 25 November, yang lalu. Selain itu, perhelatan ini juga dimeriahkan oleh parade budaya dan persembahan dari kabupaten dan kota seluruh provinsi Banten di hari pertama hingga hari ketiga ditambah dengan tarian kolosal yang memunculkan kearifan lokal dari seluruh daerah di Banten.
Bukan itu saja, rangkaian acaranya pun sangat menarik. Kadisbudpar Banten juga secara simbolis melakukan penandatanganan kain ekspresi spirit babacakan bersama dengan beberapa undangan. Selain itu, dalam acara pembukaan dilakukan juga kunjungan stand pameran yang diisi oleh para pelaku industri Pariwisata di Banten yakni UKM ASIPA cinderamata, fashion, kuliner dan mitra lainnya seperti Bank Banten, Hotel Aston, Sol Elite Marbella, Horison Hotel, Green Hotel, Allium, Allisa, Patrajasa, Mambruk, Santika Serpong, dan Coconut Island, serta stand kabupaten dan kota se-provinsi Banten.
”Paling menariknya lagi adalah seluruh undangan yang hadir, makan bersama dengan semangat kebersamaan, dengan ritual babacakan atau makan bersama, semua berkumpul meriah bersama dengan masyarakat yang datang, sungguh acara yang penuh makna,” ujar pria yang hobi naik motor itu. Acara yang digelar di panta tanpa karang itu juga tidak monoton, itu karena selama tiga hari diadakan perlombaan yakni Lomba kuliner khas kab/kota se-provinsi Banten dengan juri artis nasional Sarah Vi, Edis Adellia, dan Ali Zaenal.
Opar memaparkan, lomba tersebut dimenangkan oleh : juara 1 dimenangkan Kabupaten Pandeglang, peringkat 2 Kota Serang dan peringkat 3 Kota Tangerang. Adapun lomba lainnya yaitu lomba fotografi 7 Wonderful Banten, water safety Balawista, lomba fashion show kang nong Banten. Selain itu BBF 2016 ini juga dimeriahkan oleh festival layang – layang dari museum nasional layang – layang. Banyak sekali layang – layang raksasa dan salah satu yang bisa diterbangkan yaitu layang – layang 7 Wonderful Banten, Banten Beach Festival dan ikon Banten lainnya.
Pada acara Banten Beach Festival 2016 juga mengadakan festival kuliner, fashion dan cinderamata. ”Dan di acara puncak, wisatawan kami hibur dengan Panggung BBF 2016 yang dimeriahkan oleh band nasional dan band lokal, seperti Rika Roeslan, Momonon dan band lainnya. Ribuan penonton datang ke Pantai,” kata Opar.
Opar mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang terkait yang menggelar even salah satu unggulan Banten ini. Terima kasih kepada kepada stand pameran UKM ASIPA cinderamata, fashion, kuliner, dan mitra lainnya, terimakasih juga kepada Bank Banten, Hotel Aston, Sol Elite Marbella, Horison Hotel, Green Hotel, Allis Patrajasa, Mambruk, Santika Serpong, Allium, serta Coconut Island, Balawista, Kab/Kota se-provinsi Banten, ASIPA, ASITA, IHGMA, HPI, ASPPI, PHRI dan seluruh komunitas instagram yang selalu membantu mempromosikan pariwisata di Banten serta seluruh partisipan yang telah mendukung acara BBF 2016. ”Yuk, kita promosikan terus keindahan Pariwisata Banten,” harapnya.
Seperti diketahui, BBF 2016 dilaksanakan dalam rangka meningkatkan promosi budaya dan pariwisata Provinsi Banten di tingkat nasional dan mancanegara, serta mendukung program nasional 20 juta wisatawan pada tahun 2019. Agenda Banten Beach Festival ini mengangkat tema besar yaitu Spirit Babacakan.
Pesan dari tema ini adalah ingin memperkenalkan semangat kebersamaan dalam Pariwisata dan Budaya. Spirit Babacakan, mencerminkan budaya Asli masyarakat Banten yang selalu senantiasa bergotong royong serta bersama dalam membangun kearifan lokal. BBF digelar sesuai dengan keinginan Menteri Pariwisata Arief Yahya soal Pentahelix atau biasa disebut dengan ABCGM yakni Akademisi, Bisnis, Community, Government dan Media. Pariwsiata harus di Bangun secara bersama dengan para pihak terkait dengan Spirit Babacakan sebagai nyawa yang menghiasi perhelatan tersebut.(*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!