"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Jumat, 27 Januari 2012

ARI PRAMUNDITO 'GRUVI' KEMBALI BERNYANYI SOLO


Akhir-akhir ini orang lebih mengenalnya sebagai vokalis sebuah group band bernama Gruvi. Padahal sebelum bersama band pop ini, nama Ari Pramundito sudah pernah mencuat sebagai penyanyi solo. 
Kehadirannya di dunia musik berawal tahun 2007 ketika merilis debut album solo bertajuk “Funk Me” dengan single-hits seperti “Dicintai tuk Disakiti” dan “Katakan Kau Cinta”. Lagu-lagu ini pernah menduduki posisi chart teratas di beberapa radio tanah air.

Eksistensi Ari kembali dibuktikannya ketika menjadi gitaris sekaligus vokalis Gruvi. Bersama Gruvi nama Ari kian menjulang. Apalagi Ari juga menulis lagu untuk Gruvi dan menempatkannya sebagai salah satu hits-maker tanah air. Lagu ciptaannya yang popular bersama Gruvi antara lain “Masih Mencintaimu” dan “ABC Cinta”. Lagu-lagu ini selain melambungkan nama Gruvi, juga meraih jutaan download ring back tone. Bersama Gruvi, Ari sempat merilis 3 album dan tampil sebagai pembuka konser Justin Bieber. 

“Namun panggilan hati saya ternyata tetap sebagai penyanyi solo,” ungkap Ari Pramundito. Dan Ari kembali hadir di blantika musik Indonesia sebagai solois dengan merilis single “Aku Sangat Mencintaimu” dari album “I'll Do”. Berbeda ketika bersama Gruvi dalam konsep lagu-lagu pop, kini Ari kembali menunjukkan spesialisasinya sebagai penyanyi sweet jazz atau lagu-lagu berirama groove dan funk. Sebagai penyanyi sekaligus gitaris membuat Ari jadi bernilai lebih. Apalagi jika Ari memamerkan scat sing (mengikuti melodi gitar dengan vokal) yang bisa dibilang belum ada lagi yang bisa melakukan itu setelah Mus Mujiono. 

Dalam album terbarunya, lelaki langganan gelar ‘best guitarist’ dibanyak festival musik jazz ini juga bertindak sebagai executive producer, producer, composer, arranger, sekaligus player. Sementara aransemen ia kerjakan bersama sahabatnya Yudhistira Arianto.

Proses produksi album ini memerlukan waktu pengerjaan sekitar 4 bulan. Lelaki penggemar berat George Benson dan Stevie Wonder ini sangat memperhatikan sound quality dari albumnya ini. “Saya ingin musisi yang mengisi album ini dihargai setiap nada dalam lagu-lagu yang mereka keluarkan,” jelas Ari Pramundito

Untuk mixing Ari Pramudito mempercayakan kepada Moko, mixing engineer dari Brotherland Studio. Sementara untuk mastering dilakukan di Memphis, Amerika Serikat oleh Brad Blackwood, salah satu mastering engineer kelas dunia pemenang Grammy Award. Blackwood berpengalaman menangani mastering album dari artis-artis seperti Maroon 5, Will I Am, Evanesence, Black Eyed Peas, Vennessa Carlton, Sara Bareilles, P.O.D, dan banyak lagi.

Ari Pramundito menyadari kalau ingin kembali bersaing di industry musik tanah air sebagai penyanyi solo dia harus serius. “Mastering di Amerika bukan buat keren-kerenan tapi memang karena saya ingin merilis album dengan kualitas terbaik,” jelas Ari lagi. Disinilah kontribusi seorang Ari Pramundito untuk kembali membawa musik Indonesia ke dunia internasional dan menjadi musisi yang lebih baik lagi untuk Indonesia.

Semoga album ini dapat diterima untuk memberikan cahaya baru, warna baru yang fresh, semangat baru di music lewat karya saya dan musisi pendukung saya, dan juga membuat bangga Indonesia di mata dunia” - Ari Pramundito-

by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!