"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Jumat, 09 Maret 2012

Laporan Konser Death Cab for Cutie di Singapura


Dua puluh tiga lagu selama dua jam, Death Cab for Cutie membuat lima ribuan penggemar setia mereka meleleh.

Singapura, Rabu 7 Maret 2012, satu jam sebelum 'kick-off' pelataran Fort Gate, Fort Canning Park masih sepi. Hanya ada puluhan orang berada didepan barikade panggung yang masih terlihat lengang. Panggung tanpa konsep megah dan tak begitu besar lebih menampakkan kesederhanaan dari pada hingar bingar sebuah band rock. Namun disitulah esensi sebuah band indie tergambar. Karena walau kini berada dibawah Warner Music namun Death Cab for Cutie punya pamor besar sebagai band yang besar di jalur indie.

Menjelang jam 20.00 pelataran Fort Gate mendadak penuh. Teriakan tak sabar mulai terdengar. Dan setelah lewat setengah jam dari rencana semula Death Cab for Cutie pun naik pentas. 'A Lack of Color' sebagai track pembuka berhasil menghantar histeria masal penuh jeritan gadis-gadis cantik di bibir panggung saat Ben melagukan liriknya  

“This is fact not fiction....For the first time in years.....all the girls in every girlie magazine.....Can't make me feel any less alone....I'm reaching for the phone.”

Tanpa jedah Ben Gibbard (vokal/gitar), Chris Walla (gitar/kibor), Nick Harmer (bass), dan Jason McGerr (drum) menggelontorkan nomor-nomor seperti 'Possess', 'Crocoked Teeth', dan 'Live Here'. Di setiap lagu penonton ikut bernyanyi bersama. Baru setelah itu Ben menyapa hangat ara penonton.

Tak sulit buat band yang sudah memiliki 15 singles popular dari 7 studio album itu untuk membuat penontonnya bergelut dengan emosi. Terbuai lalu histeris! Misalnya di lagu 'What Sarah Said' yang disambung 'I Will Follow You into the Dark' kemudian dikunci dengan 'You Are a Tourist'. Padahal diawal-awal ada beberapa kendala tehnis terjadi seperti senar gitar yang putus serta pedal piano yang rusak. Tapi mereka menepis semua kendala itu dengan permohonan maaf dan memiankan musik dengan penampilan all out.

Chris Walla tak kalah pamor dengan Ben. Gitaris yang berpenampilan lemah lembut ini ternyata sangat garang di panggung. Sayatan gitar ditingkah sound aneh yang keluar dari effect-nya membuat Chris mendapat kredit pujian tersendiri. Genius!. Tak heran kalau Chris punya popularitas sebanding Ben. Dan di “Code and Keys”, album baru yang sedang mereka promosikan ini peran Chris cukup vital. Lewat jemari dan otaknya keluar sound -effect yang misterius.

Dan setelah menuntaskan 'Marching Bands' Death Cab for Cutie kemudian pamit. “Thanks You Singapore,” teriak Ben. Namun trik klasik seperti ini tak bisa mengecoh penonton untuk beranjak. Apalagi tau kalau lagu' Transatlanticism' belum dibawain. Benar saja, Ben Gibbard cs kembali naik pentas dan kemudian menuntaskan encore empat lagu tersisa.

Overall Death Cab for Cutie tampil prima dan bisa memuaskan penonton yang memadati venue kecil Fort Gate, pelataran tertinggi dari bukit kecil Fort Canning Park, Singapore. Panggung sederhana dengan tata cahaya yang tergolong biasa jadi tak berarti dengan penampilan dan musik yang keren. Setidaknya mereka telah menunjukkan kalau Death Cab for Cutie pantas jadi nominator Grammy Awards 2012.

Dan Singapore memberi kesan yang bagus untuk sebuah pertunjukan musik rock. Tertib dan damai. Semua yang datang hanya ingin menikmati musik di udara terbuka dengan penuh kenyamanan.

1 jam sebelum konser

Opa & Chris Walla
 
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!