"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Rabu, 28 Maret 2012

“Luka Bernegara”, Persona Apolitis Cupumanik (Videoclip Available)

JAKARTA, Band Cupumanik sangat meyakini, setiap dari diri kita yang punya rasa percaya pada politik Negara, pasti mengamati persoalan-persoalan aktual yang terjadi. Minimal, menurut mereka, rajin menelusuri berita politik dari media.

"Dari yang etis dan yang tak etis, mana yang selesai, mana yang nggantung atau mana catatan prestasi, mana yang cacat," ujar Che vokalis Cupumanik di Jakarta, Selasa (27/3). Diamini ketiga personil lainnya, yaitu Esky (gitar), Iyak (bass) dan Donny (drum). Persoalan negara semacam itulah, yang akan disikapi grup band itu via singgel mereka terkini.

Hingga akhirnya membuat mereka semua, mengaku telah menjadi persona yang apolitis, dengan berbagai alasan subyektif mereka. Tapi, layaknya para politikus, Cupumanik menjelaskan, jika demokrasi menyediakan ruang bagi prinsip netralitas (ketidakberpihakan), "Jika buat Anda aktifitas politik penting, kami memilih mencari cara ideal lain demi mencapai hidup yang lebih baik dan membahagiakan," imbuh Che.

Atas dasar pemahaman itulah, sebenarnya pesan singgel yang dibuatkan video klip berjudul "Luka Bernegara", mereka buat. Sebab, bagi Cupumanik, demokrasi menyediakan kebebasan bertindak sesuai keyakinan moral pribadi, dan kebebasan adalah ciri esensial Demokrasi. "Lagu ini sikap deklarasi kebebasan Cupumanik," ujar Donny. Sembari mengatakan, jika sikap mereka bisa dibantah, dibongkar bahkan dihujat siapa pun, tapi sikap ini datang dari terangnya pikiran dan warasnya kesadaran kami.
Meski terkesan pelik, dan sesak dengan pesan politik di lagu mereka, mereka justru mengklaim bukan lagi penggemar cerita politik. Sebab, mereka sudah tak lagi membaca drama-drama politik di koran, juga menyaksikan debat dan retorika politik di TV. Dulu Cupumanik menaruh perasaan dan merespon persoalan politik dengan hati atau perasaan.

Namun setelah menimbang jauh dari manfaat, mereka mulai mengabaikannya. Atas alasan itulah, di singgel video klip itu mereka ingin mengatakan, bahwa mereka sudah menarik diri dari kehidupan politik negara. "Sekarang kami menggenggam cara yang lebih berguna, lebih konkret dan merdeka dalam bernegara. Cara ini mendukung usaha pencapaian kesenangan hidup kami," imbuh Che.
Terapi diri
Cupumanik mengatakan, janji politik adalah Res Publica (kemaslahatan umat), jika keadaban itu tak pernah terjadi, maka politik adalah tipu daya, dan tipu daya adalah politik, dan sejarah selalu melahirkan para pembual ulung. Yang menyamarkan niat busuk, dengan topeng berdedikasi tinggi pada ibu pertiwi. Jika kekuasaan belum melahirkan aktor negara dengan sikap yang mengabdi penuh pada rakyat, tekan Che, dan yang ada hanya politikus yang lebih melekatkan kepentingan politiknya pada partai dan golongannya, "Politik tak akan pernah jadi sahabat kami."

Entah mau membentuk partai politik atau membuat semacam pernyataan politik, yang pasti dalam proses pembuatan video klip, tidak disangka, Cupumanik mendapatkan banyak dukungan. Bukti dukungan itu adalah banyaknya tokoh yang sepaham dan bersedia menjadi model atau cameo di dalam video klip "Luka Bernegara". Para cameo itu hadir dengan testimoni personalnya.

Sekitar 11 cameo memperlihatkan isi pikiran mereka pribadi melalui kertas besar. Mereka adalah Adib Hidayat (Managing Editor Rollingstone Indonesia), Once Mekel (ex: vokalis Dewa), Marcell Siahaan (solois & drummer Konspirasi), Andre OPA Sumual (Editor in chief majalah Trax), Ramon Y. Tungka (aktor film), Dikie (pengusaha muda clothing Rockmen Inside), Oddie (seorang artis tattoo wanita), Yukie (vokalis PAS & Tendo Star), Gustaff (budayawan muda dari Bandung & pendiri Common Room Networks Foundation), Dempak (vokalis band Jeruji) dan Eno Gitara (drummer Netral).

Cupumanik menegaskan, lagu terkininya itu adalah sebentuk sikap mencari solusi bernegara, tapi bukan lagu berkeluh kesah pada negara dan menggantungkan nasib kami sepenuhnya pada komitmen pemerintah. Justru sebaliknya, menjadi terapi diri menjaga kewarasan diri dari negara yang sedang sakit dan luka. Ada opini penting yang harus mereka kutip, yaitu tulisan Kenichi Ohmae dalam The End of the Nation State (1995), "Negara tak mampu lagi mengontrol perkembangan ekonomi, sementara pasar bebas dan individu-individu mandiri semakin berperan dalam menentukan kehidupan".
Ya, Cupumanik grup band pengusung aliran grunge dari Bandung itu, punya cara bernegara sendiri, bekerja dan berkarya, biar kaya raya, serta, "Bekerja dan berkarya biar berbudaya," pungkas Che.

(Sumber Suaramerdeka.com/Benny Benke/CN15)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!