"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Selasa, 03 April 2012

Anthrax Jakarta Live in Concert

Kesabaran memang milik budaya Indonesia, tapi terlalu lama bersabar ternyata mampu meluapkan kegilaan luar biasa, dan itulah yang terjadi pada episode ketiga konser 'Big 4 Thrash Metal' di Jakarta. Setelah lebih dari 20 tahun menunggu dan sempat pasrah menerima kenyataan konser yang ditunda akhir tahun lalu karena kondisi sekarat yang dialami oleh nenek dari basis Frank Bello dan drumer Charlie Bennate – keduanya memang berhubungan saudara dari darah Italian/Amerika, ribuan metalheads tanah air tumpah di sepanjang Pantai Ancol menuju Carnaval tidak sabar melampiaskan hasrat yang telah lama tertahan.

Peduli setan dengan permainan politikus laknat yang hanya menunda kenaikan harga bahan bakar, jika jalanan gedung rakyat MPR telah dilumpuhkan demonstran sehari sebelumnya, maka sekarang giliran ribuan hamba metal yang mengambil alih sisi utara Jakarta demi gelombang mosh terbesar, melanggar peraturan dan keseruan tanpa batas. Bagi mereka hukum yang berlaku malam itu adalah Heavy Metal.

Datang ke Jakarta bersama Hellyeah yang bertindak sebagai tamu kehormatan, ribuan metalheads hanya berharap semoga sistem tata suara yang dihasilkan malam itu tidak buruk layaknya konser Iron Maiden yang melempem tahun lalu. Ternyata sound sebesar 80.000 watt yang disiapkan mampu menancap jantung ketika Hellyeah memainkan set-nya. Band yang dibentuk dari sisa kejayaan Pantera melalui drumer Vinnie Paul serta kolaboratornya: Vokalis Chad Gray dan gitaris Greg Tribbett dari Mudvayne, gitaris Nothingface Tom Maxwell dan Bob Zilla, basis Damageplan ini cukup mampu memanaskan meski tidak cukup memukau.

Hamparan metalheads di depan mereka pun tampak seperti memberi sambutan basa-basi, dan Chad tahu akan itu. Nomor-nomor Southern/groove-metal seperti “Hellyeah” atau “Cowboy Way” tidak cukup membuat para koboi tersebut mampu memenangkan hati publik Jakarta. Anthem balada alkohol “Alcohaulin' Ass” ditanggap dingin, perhatian ditujukan lebih kepada rasa penasaran terhadap Vinnie Paul, dan jangan bandingkan Hellyeah dengan kedigdayaan sound groovy Pantera yang revolusioner serta teliti, karena jika saja tanpa Vinnie Paul, band ini akan terdengar hampa sekaligus membosankan layaknya sekumpulan musisi metal Amerika kadaluarsa yang ingin menjadi koboi dengan menenggak sejumlah besar alkohol – itu saja tidak cukup.

Kembalinya Joey Belladonna, vokalis paling berkarakter dalam sejarah pergantian vokalis di tubuh Anthrax membuat reuni klasik di album terbaru, Worship Music tahun lalu menjadi monumental. John Bush – vokalis di sepanjang era 90an – boleh lebih bertenaga, tapi di lengkingan Joey-lah Anthrax menjelma sebagai salah satu raksasa di industri thrash metal. Satu lagi anggota formasi klasik adalah gitaris Dan Spitz yang sejak 2005 telah digantikan oleh Rob Caggiano. Dan Anthrax tidak bisa dipisahkan dari sosok Scott Ian, ritem gitaris yang juga merangkap juru bicara band kepada publik.

Lima orang itu sudah berada di hadapan panggung membelakangi backdrop pentagram raksasa Worship Music siap menyambut para pemuja metal yang juga telah siap kehilangan akal dalam kurang lebih dua jam ke depan. Dibuka dua nomor baru “Earth On Hell” dan “Fight 'Em 'Til You Can't” yang mengingatkan akan era keemasan Among The Living, sound menggelegar, namun gelombang mosh belum dimulai. Seperti biasa, lagu baru selalu dijadikan media pemanas. Pesta sebenarnya dimulai ketika intro bass “Caught In The Mosh” mencabik, selanjutnya momen-momen adrenalin tersungkur atau terperosok di tengah pit menjadi pemandangan indah nan berkeringat dan berpasir.

Tidak ingin hilang momentum, cover version dari Trust “Antisocial” berkumandang melayani tinju-tinju yang terkepal. Seruan 'Wardance' diteriakkan saat “Indians” dimainkan, lagu yang selalu sukses membuat lingkaran di tengah pit menjadi arena pergumulan metalheads. Meski menghasilkan circle pit panas, Scott Ian tampak tidak puas – menghentikan sesi breakdown di tengah lagu, Ian lalu menghampiri mic, “We flew 27 hours to see you motherfuckers, this is the war dance! Everyones gotta move, you can bang your head, you gotta pump your fist, jump up and down, I dont give a fuck,” Hasilnya circle pit liar berdiameter raksasa pun tercipta, semua yang bernyali ikut ambil bagian di dalamnya, bagi yang pengecut menyaksikan saja sudah cukup.

Mendapat sambutan euforia tangguh publik Jakarta, Anthrax pun menghadiahi mereka dengan  dua nomor yang sebenarnya tidak masuk list malam itu, “Be All, End All” yang mengundang koor massal dan “Got The Time”. Semua yang menginjak tanah Pantai Carnaval malam itu merasakan multiple-orgasm maksimal, “Among The Living”, “Madhouse” dan “Medusa” yang memperlihatkan kualitas lengkingan Joey yang mengenakan kostum tim nasional Indonesia tidak lapuk termakan usia. Encore adalah taktik usang, “Metal Thrashing Mad” dan “Efilnikufesin (N.F.L)” menjadi suguhan terbaik di akhir konser sebelum sepotong rap “I'm The Man” membuka nomor terakhir “I am The Law”. Hanya di Jakarta set list Anthrax 'diacak-acak' oleh penggemarnya, semua berbahagia – getaran gempa lokal tidak terelakkan malam itu: Momen yang akan terus abadi di benak para metalhead sejati. <rio tamtomo/www.traxmagz.com

by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!