"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Selasa, 12 Juni 2012

SOUNDTRACK - SOEGIJA: Wajah Religius Djaduk Ferianto

Press Release

Siapa bilang Seniman itu tidak religius? Film Soegija membuktikan bahwa seniman itu memiliki rasa religiositas yang tinggi. Para seniman mempunyai caranya sendiri untuk mengungkapkan imannya kepada Sang Pencipta. Dan dengan anugerah kreatifitas dari Sang Maha Kreatif inilah mereka menjadi co-creator di dunia bunyi, dunia imajinasi, dan dunia rasa merasa.

Adalah Djaduk Ferianto yang menjadi Music Director dalam Film Soegija besutan Sutradara Garin Nugroho ini. Dalam CD Soundtrack Film Soegija ini, pendengar akan melihat sisi lain Djaduk Ferianto yang religius. Masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan musik-musik Djaduk yang easy listening, jenaka, plesetan sana sini dan sarat dengan kritik. Kali ini Djaduk bersama Kua Etnika tampak bermenung, penuh dengan refleksi, dalam, dan tenang. Djaduk pernah berujar,”Wah, ini film tentang Romo, sebelum menggarap musiknya saya harus berdoa dulu.” Mungkin inilah buah dari doa seorang Djaduk Ferianto.

Yang menarik juga dari CD Soegija ini adalah, bahwa banyak pemusik dan seniman Jogja terlibat di dalamnya. Djaduk sebagai Seniman Jogja mampu menggerakkan seniman-seniman Jogja lainnya untuk terlibat dalam pembuatan soundtrack ini. Mereka memang menafsir Soegija dengan cara mereka masing-masing. Lagu Langkahku karya Untung Basuki yang dinyanyikan oleh Djaduk sendiri mengisahkan hasrat Soegija untuk berbuat sesuatu bagi Ibu Pertiwi. Nuansa musik teatrikal sangat kuat di sini, ditambah ilustrasi lonceng gereja yang menjadikan musik ini seperti kecampuran aroma suasana di sebuah gereja tua seperti Gereja Gedangan yang menjadi salah satu lokasi shooting Film Soegija ini.

Dalam lagu Pengabdian yang Kaupinta, Ari Senjayanto menggarap lagu ini lebih bernuansa ngepop, tetapi isinya sebuah pertanyaan yang menggugat Tuhan. Jika para pendengarnya adalah pribadi-pribadi yang sedang bermasalah dengan Tuhan, lagu ini bisa menjadi pilihan yang menarik. Atau pendengar menempatkan diri sebagai pemuka agama atau biarawan/biarawati, lagu ini menggambarkan kegelisahan hati mereka sampai harus menggugat keberadaan Tuhan, menggugat hidupnya sendiri untuk siapa.

Khrisna “Encik” juga menyumbang lagu Lentera. Jika pernah mendengar lagu-lagunya Khrisna “Encik”, lagu ini Encik banget. Musiknya mudah kena di hati. Kalau mendengar lagunya Encik, orang bisa langsung bilang “asyik nih….”,meskipun baru pertama kali mendengar. Dan lentera ini mengisahkan Soegija yang menjadi lentera bagi banyak orang di tengah-tengah kegelapan perang.

Lagu lain yang menarik adalah Donga, dalam bahasa Indonesia artinya Doa. Lagu ini berbahasa Jawa tetapi bernuansa meditatif dan dinyanyikan dengan gaya seriosa. Bagi umat Katolik Jawa, lagu ini seperti ingin menghadirkan kembali era lagu Ndherek Dewi Maria atau Jrih Tresna Kawula.

Lagu terakhir dalam CD ini berjudul Anak Katulistiwa. Lagu ini khas lagu pemberi semangat pada akhir sebuah acara. Bisa dibayangkan sebuah pentas musik dan saat semua artis muncul dan menyanyikan lagu untuk Indonesia, lagu ini bisa menjadi alternatif yang indah dan memberi semangat akan sebuah kebersamaan, semangat nasionalime. Dan kata-kata dalam lagu ini pasti indah, karena ternyata lyricnya ditulis oleh Landung Simaputang. Dua seniman besar Jogja berkolaborasi dalam lagu ini.

Musik yang lain dalam soundtrack ini lebih menghadirkan ilustrasi yang dipakai dalam film Soegija, termasuk lagu Zandvoort Ann De Zee, yang di Indonesia lebih dikenal dengan lagu Tanjung Perak. Pendengar akan mendengarkan suara centil Mbak Silir menyanyikan lagu berbahasa Belanda dengan medhok Jawa.

CD Soundtrack film ini sudah bisa dinikmati oleh pecinta musik Indonesia. CD ini bisa didapatkan di Counter-Counter Aquarius dan di Gereja-Gereja yang ada di Jakarta seperti di Katedral, Gereja Theresia, Gereja Katolik Blok B. Di Jogjakarta CD ini juga beredar di Toko Puskat, Taman Komunikasi Kanisius, Toko Popeye, dan di Folk Mataram Institute (FMI) tempat nongkrongnya seniman-seniman Jogja.

Djaduk Ferianto dan seniman-seniman Jogja sudah mencoba menafsir Soegijapranata. Di tempat yang sama, puluhan tahun yang lalu Soegija besar di Jogja dan berkiprah di Jogja juga pada masa pusat pemerintahan ada di Jogja. Di jaman ini, di lingkungan yang sama di Jogja juga, para seniman ini mencoba menangkap siapa Soegija itu sebenarnya. Mereka sungguh belajar tentang Soegija, pribadinya, semangatnya, apa yang ada dalam pikirannya tentang Ke-Indonesia-an. Film Soegija ini memang tidak menampilkan Soegija yang super hero, tetapi Soegija yang manusia biasa yang menjadi seorang pemimpin dan harus memandu masyarakat di tengah-tengah situasi krisis keberadaan akan sebuah bangsa. Film ini memang lebih bercerita tentang permenungan-permenungan Soegija. Memang Soegija adalah sebuah Silent Diplomacy. Semangatnya membakar orang-orang yang ada di sekitarnya untuk mencintai Indonesia ini dengan sepenuh hati. Semoga para penonton film ini juga semakin mencintai Indonesia.

Yogyakarta, April 2012
Murti sj
(dikutip dari : http://www.soegijathemovie.com)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!