"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Jumat, 21 September 2012

Indonesia 80's: Dekade Dekadensi

Sumber  www.traxmagz.com

Menonton acara ini mengingatkan akan sosok ayah kita. Pria tambun setengah baya yang menggandeng tangan ibu dan berbahagia menyusuri kenangan. Dekade 80an adalah memori cinta tentang mereka, merajutnya dengan nada indah sekaligus momen untuk tidak malu menjadikan lagu-lagu Indonesia sebagai pengantar pelabuhan mereka berdua.

Sayangnya masa itu tidak bisa diulangi lagi, tidak bisa diturunkan ke anak-anak mereka karena semua sudah berubah. Emas tidak akan lapuk dimakan waktu, sedangkan musik hari ini sudah tidak lagi seindah dulu – lapuk. Apa yang bisa diharapkan ketika kualitas disingkirkan, Rupiah dituhankan dan kita tidak lagi bangga terhadap apa yang dihasilkan musik Indonesia. Lebih baik mati saja. Hingga rindu rasanya dan iri melihat apa yang terjadi dengan musik lokal 30 tahun lalu. Karena sebentar lagi keindahan musik akan runtuh, sial rasanya menjadi generasi 2000an.

Tidak ada lagi yang bisa dipercaya. Hipokrit. Para pemberontak sulit ditemukan lagi hingga malu menyaksikan televisi maupun mendengar radio. Kehancuran berada tepat di depan mata dan telinga. Mp3, RBT 30 detik, boneka industri kulit ayam goreng adalah omong kosong musik Indonesia. Kemanakah perginya sosok-sosok terbaik seperti Dodo, Utha, Stanzah atau Chrisye ? Kemurnian seni musik jiwa telah dikebiri berganti dempulan orang-orang yang tidak mengerti musik. Musik menjadi begitu murah dan terlalu mudah. Gratis dan instan. Selamat datang kiamat. Songsonglah era kemunduran. Miris menyedihkan. Persetan.



Indonesia 80's menjadi bukti kejayaan dan pembuktian, entahlah apa pendapat para pengisi acara ini terhadap musik nasional hari ini. Tapi Trie Utami yang kini telah melepas jilbabnya dan tampil menggoda mengatakan dari atas panggung sambil menatap tajam, “Kami musisi 80an membuktikan diri masih ada dan masih mampu bernyanyi dengan baik dan benar.” Malulah kalian generasi penerus.



Sederet kualitas emas dihadirkan malam itu dan kita masih bangga pada mereka meski sudah mulai dilupakan. Malam itu Elfa's Singer, Vina Panduwinata, 2 D sampai Mus Mujiono memberitahu bagaimana pop tidak harus terdengar rapuh dan cengeng demi pasar. Hingga para epigon Abadi Soesman Lonely Club Heart Band (Beatles), Acid Speed (The Stones), Cockpit (Genesis), Solid 80 (Queen) yang terkurung oleh karya idolanya terdengar jauh lebih baik dari karya orisinil band-band industri sekarang.



Bagi politikus 'Ahok' Basuki Tjahaja Purnama cawagub Jakarta naik ke panggung ketika Solid 80 membawakan “We Are The Champion” merupakan ajang kampanye gratis – selipan politik, entah harus skeptis atau muntah.

Lalu si jenius tua Fariz RM tampil dengan keriput tirusnya, inilah surga pop nasional. Ketika kalian membaca artikel ini, kita sudah akan tahu apakah Ahok akan menjadi juara atau pecundang. Terserahlah, tapi pedulikah dia terhadap perkembangan kualitas seni dalam negeri ? Yang jelas kita peduli, dan terlepas dari berbagai aspek nostalgia, Indonesia 80's menjadi ajang yang sangat diperlukan saat ini. Berkacalah wahai musisi muda. Dan emas akan tetap menjadi emas. <rio

by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!