"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Rabu, 17 Oktober 2012

Forum Pemred Desak Anggota TNI Pemukul Wartawan Dihukum [via @Metro_TV]

Sumber Metrotvnews.com,

Forum Pemimpin Redaksi se-Indonesia menegaskan oknum TNI Angkatan Udara yang menganiaya dan merampas kamera sejumlah wartawan saat meliput pesawat tempur taktis Hawk-200 jatuh di Pekanbaru, Riau, harus dihukum.

"Tindak kekerasan tersebut jelas merupakan perbuatan melawan hukum yang bersifat pidana, sehingga terhadap para tersangka pelakunya harus mendapatkan hukuman setimpal," kata Ketua Forum Pemimpin Redaksi (Pemred), Wahyu Muryadi, di Jakarta, Selasa (16/10).

Hukuman dimaksud, lanjut dia, tak boleh hanya bersifat internal berupa sanksi disiplin atau administrasi di kesatuan dan peradilan koneksitas, namun juga harus diproses di peradilan umum secara terbuka.

Ia pun mengecam keras tindakan represif berupa penganiayaan, pemukulan dan perampasan kamera video dan kamera foto yang dilakukan sejumlah oknum anggota TNI AU terhadap sejumlah wartawan, baik media cetak, online, radio dan televisi yang sedang bertugas mendapatkan informasi dan gambar di sekitar lokasi kejadian.

Wahyu menilai upaya para aparat TNI AU yang menutup akses informasi dan menghalang-halangi tugas wartawan untuk mendapatkan informasi demi kepentingan publik bisa pula dikenai sanksi pidana karena bertentangan dengan kebebasan pers sebagaimana diatur dalam perundang-undangan.

"Tragedi dan ancaman terhadap kebebasan pers ini makin menegaskan bahwa penghormatan terhadap profesi jurnalis masih rendah dan budaya kekerasan oleh aparat negara, militer terhadap kehidupan sipil masih menjadi masalah serius yang mendesak diselesaikan dan dicarikan solusinya," papar Pemimpin Redaksi Majalah Tempo ini.

Oleh karena itu, tambah dia, Forum Pemred mendesak pada pimpinan TNI agar menggiatkan lagi pendidikan tentang demokrasi, kebebasan pers, dan hak asasi manusia di lingkungan anggotanya, selain mengukuhkan prosedur operasional tetap dalam menghadapi pers dan masyarakat sipil guna mencegah terjadinya pelanggaran serupa.

Kepala Divisi Advokasi Poros Wartawan Jakarta B. Ali Priambodo menyatakan, lokasi pesawat jatuh merupakan ranah terbuka atau tempat umum yang boleh secara jurnalistik diabadikan dan diwartakan.

"Kami menuntut pihak TNI AU segera mengembalikan alat-alat utama dan alat pendukung peliputan yang diambil paksa dari tangan wartawan yang sedang melakukan peliputan di lapangan," katanya.

Selain itu, TNI AU juga harus segera memberikan informasi atau memulangkan wartawan yang ditahan pihak provost TNI AU. "Kami mendesak Kepala Staf TNI AU mengambil tindakan hukum terhadap satuan, personel TNI AU yang melakukan pemukulan, intimidasi, perampasan alat-alat peliputan," imbuh dia.

Peristiwa seperti ini sesungguhnya bukan kali pertama. Untuk diketahui, pada peristiwa jatuhnya Fokker-27 di kompleks Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, beberapa bulan lalu, arogansi oknum TNI AU juga terjadi.

Saat itu, sejumlah wartawan yang menjalankan tugas jurnalistiknya dihalangi ketika meliput peristiwa yang merenggut beberapa nyawa itu. Sejumlah oknum TNI AU merebut peralatan liputan, seperti kamera dan menghapus paksa rekaman yang ada.(Ant/BEY)

by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!