"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Kamis, 18 Oktober 2012

[Nasib] Anak Band


Oleh: Opa
Masa keemasan ‘anak band’ nampaknya sudah [hampir] berakhir. Industri rekaman tak lagi bisa menjadi sandaran hidup para musisi. Sejak fisik CD tak laku dijual dan ringbacktone tak lagi menghasilkan fulus, otomatis industri rekaman tak bisa lagi jadi tumpuan hidup. 

Namun kondisi hancurnya industri rekaman tak sampai ketelinga banyak anak muda yang punya cita-cita tinggi menjadi makmur sebagai ‘anak band’. Eforia kejayaan Peterpan, Ungu, Samsons, Wali, ST 12, Kangen Band, Hijau Daun, hingga Dadali, masih menjadi tolok ukur kesuksesan. 

Kenyataannya saat ini tak ada lagi perusahaan rekaman [label] yang mau merilis artis/band baru. Karena secara bisnis, penjualan produk rekaman tak lagi bisa menutupi biaya produksi dan promosi yang mahal. Bahkan sulit untuk sekadar balik modal. Para eksekutif produser hanya bisa mengamati sambil menunggu bisnis membaik. 

Masa paceklik industri rekaman kian berlarut. Nampaknya masih belum ditemukan formulasi yang tepat untuk membuat industri rekaman tanah air berjaya lagi. Bersyukur ada KFC, Indomart, Alfamart, 7Eleven dll sebagai media distribusi yang sedikit memberi nafas segar namun tak cukup bisa mengangkat industri secara keseluruhan karena hanya bisa menyenangkan sebagian kecil pelaku industri. Bahkan hehadiran NOAH sekalipun hanya mampu membuat riak kecil tanpa bisa menjadi gelombang kebangkitan industri.

Lantas bagaimana nasib artis/band baru yang menggantung harapan menjadi ‘anak band’? Masih banyak cara untuk menjadi tenar dan makmur. Tapi terlebih dahulu harus melupakan proses instan. Menjadi tenar, saat ini tak cukup bermodal lagu, suara dan tampang bagus. Karena sebagus apapun demo lagu kalian kemungkinan hanya akan menuai pujian dari label, cukup. Jangan berharap untuk dirilis. Beruntung band yang memiliki modal keuangan yang kuat hingga bisa merilis sendiri karyanya dengan menanggung semua biaya produksi serta promosi yang tak sedikit. 

Menurut saya, hal yang harus dilakukan oleh artis/band baru dalam melangkah di industri yang lagi tidak bersahabat ini adalah dengan cara konvensional, cara yang sudah terbukti berhasil dilakukan oleh artis/band besar dimanapun di muka bumi ini. Dimulai dengan membuat lagu bagus, tampil beda, sering manggung, meminta pertolongan radio setempat, semua cara itu dilakukan untuk menjaring fans hingga bisa membentuk komunitas yang kuat. Beruntung saat ini banyak tersedia social media yang mendukung promosi artis/band.

Sekali lagi lupakan beken dengan proses instan, karena segala hal yang terjadi dengan instan biasanya akan lenyap dengan cepat juga. 

Kedepan, artis/band yang memiliki komunitas kuat yang akan berjaya. Dan dalam hal ini, artis dan band indie-lah yang nantinya paling cepat menikmati kesempatan besar ini karena mereka biasanya memiliki dasar komunitas yang kuat. Komunitas kuat tak bisa dibangun hanya dalam sekejab. Butuh proses panjang yang sekaligus menempa mental hingga menjadi musisi yang handal dan teruji. 

Tulisan ini tak bertujuan untuk memupus harapan para musisi pemula yang ingin tenar. Ini paparan kenyataan saat ini bahwa industri rekaman sedang lesu. Justru tulisan ini diharapkan bisa membantu membuka pikiran bahwa jangan lagi berpikir instan untuk mencapai popularitas. Ada sebuah proses yang perlu dijalani, tentunya dengan penuh perjuangan.

[tulisan ini dimuat di edsnote di traxmagz edisi oktober] 
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!