"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Jumat, 22 Maret 2013

Musisi dan Media Sosial


Ed's Note Traxmagz edisi Maret 2013

Meski sudah menjadi “sesuatu banget”, media sosial ternyata masih menyisakan kegamangan bagi penggunanya, tak terkecuali para musisi. Masih banyak yang menganggap media sosial sekadar tren yang wajib diikuti agar tak terlihat ketinggalan zaman. Atau bahkan cuma terbius euforia supaya dianggap gaul.

Banyak pula yang menganggap media sosial adalah sarana untuk meraih popularitas secara instan. Tak salah memang tetapi fakta bicara betapa popularitas instan itu sering terjadi di luar rencana dan biasanya mati muda pula. Perjuangan sesungguhnya justru terjadi pasca popularitas instan itu. Memang sudah terbukti, banyak orang (biasa) yang tiba-tiba melejit menjadi pesohor berkat YouTube. Psy yang tadinya bukan siapa-siapa di negaranya, kini menjadi orang nomor satu di dunia versi YouTube berkat video klip Gangnam Style yang ditonton oleh satu miliar lebih manusia. Justin Bieber berhasil ditemukan pencari bakat gara-gara aksinya di YouTube, dan kini Bieber menjadi pesohor dengan lebih dari 34 juta pengikut di Twitter.

Di tengah media sosial yang terus bermunculan, sampai saat ini Facebook, Twitter, dan YouTube masih menjadi jejaring sosial favorit bagi kebanyakan musisi. Dari mulai pendatang baru hingga musisi gaek, pasti setidaknya memiliki akun di tiga jejaring sosial itu. Disadari atau tidak, media sosial telah menciptakan gaya baru berkomunikasi dalam era teknologi digital ini. Media sosial telah ’memaksa’ kita mengubah cara bersosialisasi, termasuk dalam interaksi antara idola dan penggemar. Komunikasi kini menjadi interaktif, real time, dan menghapus sekat serta jarak. Bayangkan, dulu penggemar harus menulis surat untuk mendapatkan foto bertanda tangan sang idola. Itupun setelah menunggu berbulan-bulan. Vertical approach seperti ini kini tinggal kenangan. Media sosial telah mengalihkannya menjadi horizontal approach, yang memungkinkan penggemar dan idola bisa berinteraksi secara langsung dan cepat.

Lantas apa keuntungan buat musisi? Di sinilah mereka harus jeli melihat dan merebut peluang agar media sosial menjadi sarana berpromosi yang efektif. Gunakan jejaring sosial itu sebagai sarana berpromosi sekaligus ajang interaksi dengan penggemar. Media sosial adalah alat ampuh untuk membangun komunitas penggemar yang besar karena memiliki kemampuan mengikat yang kuat satu sama lain, tanpa ada batasan jarak dan waktu.

Cara membesarkan komunitas? Banyak cara yang bisa ditempuh. Sifat jaringan yang menghubungkan sesama media sosial menjadi kekuatan yang harus dieksplorasi. Sasarannya adalah membuat brand dikenal luas dan produk laku terjual. Membangun imej musisi serta menawarkan produk (lagu, merchandise, ataupun rilisan lainnya) bisa dijalankan secara simultan.

Bagusnya lagi, besaran komunitas tanpa batas ini mudah diukur dengan berbagai parameter yang tersedia di setiap media. Misalnya Twitter dengan jumlah 'Followers' atau Facebook dengan jumlah 'Friends' maupun 'Like'. Dengan begini, popularitas dan kualitas karya akan semakin mudah diukur. Agar komunitas bertambah besar, banyak hal yang harus dilakukan. Tetapi yang paling mendasar dari begitu banyak hal yang harus dilakukan seorang musisi adalah kemampuannya bersosialisasi.

Harus ada komitmen bahwa meluangkan waktu dan tenaga berkomunikasi di media sosial adalah konsekuensi profesional yang wajib dijalani, bukan sekadar 'say hello' kepada penggemar. Bangunlah relationship dua arah yang saling menguntungkan. Dalam berkomunikasi di media sosial, penggemar tidak akan mau hanya menjadi 'tempat sampah' untuk menampung info promo dari artis. Mereka juga ingin dianggap sebagai bagian dari kesuksesan idolanya. Bila sang idola menghargai para penggemarnya, mereka akan menjadi die-hard fans. Mereka tentu akan rela membeli semua produk yang dihasilkan oleh idolanya, mulai dari lagu (yang dijual dalam berbagai format), hingga merchandise dan fashion line.

Keep (the social media) on the right TRAX!
Andre J.O Sumual a.k.a OPA

by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!