"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Rabu, 02 April 2014

Music Meets Fashion


 Musik dan Fashion

"Cari musik bagus, tonton Fashion TV, cari fashion yang bagus di MTV," kata Ahmad Dhani dalam sebuah wawancara, sekitar 10 tahun lalu ketika saya masih bekerja untuk majalah Poster. Eratnya hubungan musik dan fashion salah satunya tercermin dari pernyataan sarkastis Dhani untuk kedua ikon generasi muda era itu, MTV untuk musik, dan Fashion TV mewakili fashion.

Menarik bila menyimak alunan lagu yang mengiringi langkah para peragawati. Playlist lagu yang lahir dari panggung catwalk tentunya dipilih sebagai soundtrack yang diharapkan bisa merepresentasikan busana yang diperagakan. Bayangkan sebuah fashion show tanpa iringan musik!

Fashion telah lama menggunakan musik sebagai sumber inspirasi bagi tren yang selalu berubah. Dari Inggris di era 80-an, budaya rave cepat mengalir dari klub ke catwalk. Selebriti musik sejak dulu sudah menjadikan fashion sebagai image atau gimmick untuk menunjang penampilan. Sebut saja The Beatles dengan jas dan poni atau Elvis Presley dengan jaket putih berkerah tinggi.

Lebih dari itu, fashion bahkan menjadi penanda genre dan generasi musik. Setelah era Elvis dan The Beatles, ada The Rolling Stones dan Grand Funk Railroads dengan hippies style yang di Indonesia melahirkan sebutan 'grenfang' untuk anak muda 70-an yang berpakaian sekenanya. Kemudian ada generasi glam rock di era 80-an dengan band-band berkostum glamor seperti White Lion, Poison, Warrant, dan banyak lagi. Lantas generasi grunge hadir dengan kemeja flanel bersama mencuatnya Nirvana, Pearl Jam dan banyak lagi musisi yang mewakili era 90-an.

Sementara itu dari ranah berbeda,  hip hop punya style sendiri yang biasa disebut blink blink dan komunitas reggae percaya diri dengan kostum merah-kuning-hijau plus rambut gimbal. Yang terbaru adalah invasi fashion Korea yang mendunia lewat musik K-Pop. Fashion semakin mendekatkan diri dengan musik. Brand fashion berani membayar mahal dengan meng-endorse ikon musik. Kini tak sedikit musisi yang menjadi fashion line ambassador.

Bahkan para desainer juga menjangkau langsung ke sumbernya, berkolaborasi dengan musisi. Label Paris Kitsune didirikan pada tahun 2002 sebagai lambang dari perpaduan fashion dan musik. Kolaborasi rumah mode dan label musik memungkinkan mereka untuk menciptakan merek baru yang langsung ditangani dua industri terjalin. Maison Kitsune menampilkan baik musik dan bakat mode secara bersamaan dan mereka dapat menggunakan satu platform untuk memasarkan kedua sisi bisnis mereka ke audiens masing-masing.

Kolaborasi lainnya? Ada Dior Homme dengan Justice, duo elektronik Perancis, Saint Laurent Paris dengan Daft Punk, brand A.P.C dengan Kanye West, dan Alexander Wang vs Azealia Banks Vivienne Westwood x Sex Pistols. Hubungan Vivienne Westwood dan Sex Pistols menjadi penting dalam peletakan dasar subkultur yang sekarang kita kenal sebagai punk. Westwood mulai membuat pakaian yang ia pasarkan di Butik Malcolm McLaren, SEX. Brand ini kemudian menjadi semacam 'fashion stylist' untuk kemunculan Sex Pistols, dengan memberikan kontribusi untuk tampilan keseluruhan band, yang kemudian melahirkan gaya punk yang melegenda sejak era 70-an.

Euforia kolaborasi musik dengan fashion juga sampai ke tanah air. Banyak anak band yang di-endorse oleh fashion line. Musik dan fashion akan selalu jalan beriringan. Sepanjang peragaan busana masih ada, selama para ikon musik masih membutuhkan perangkat fashion sebagai pelengkap penampilan mereka, dan selama Ahmad Dhani masih menonton Fashion TV.

* Oleh: Andre OPA
* Tulisan ini dimuat di Ed's Note TRAX Edisi Maret 2014

by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!