"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Minggu, 17 Mei 2015

Triawan Munaf Jelaskan Peran Didi Petet dalam World Expo Milan 2015 - via DetikNews

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews

Jakarta - Almarhum Didi Petet Widiatmoko meninggal dunia pada Jumat (15/5) lalu setelah mengikuti ajang World Expo Milan 2015 di Italia. Sebagai Ketua Koperasi Pelestarian Budaya Nasional (KPBN) Didi Petet sekaligus pula berperan sebagai Ketua panitia penyelenggara dari pavilion Indonesia.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Barekraf) Triawan Munaf kemudian memaparkan bagaimana peran Didi Petet dalam ajang terbesar ketiga setelah Piala Dunia dan Olimpiade tersebut. Menurut Triawan, sosok Didi Petet pantang menyerah demi ikutnya Indonesia di ajang itu.

"Pertama-tama, perlu saya jelaskan bahwa penyenggaraan Paviliun Indonesia di Milan ini sepenuhnya oleh swasta yaitu atas inisiatif almarhum Didi Petet sendiri dengan mengatasnamakan Koperasinya. Kira-kira mendekati akhir tahun 2014, saya dihubungi oleh Almarhum yang meminta saran-saran untuk dapat menghimpun sponsor-sponsor yang dibutuhkannya mengingat Expo di Milan ini akan dimulai beberapa bulan lagi tapi belum ada satu pun sponsor yang menyatakan bersedia berpartisipasi," tutur Triawan dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Minggu (17/5/2015).

Dia kemudian membandingkan dengan penyelenggaraan pameran sebelumnya di Shanghai, Tiongkok pada tahun 2010 pemerintah merogoh kocek APBN hingga Rp 250 - 300 miliar. Mahalnya biaya tersebut membuat pemerintah saat itu memutuskan untuk tak ikut ajang ini di tahun 2015, atau saat ini.

"Almarhum mengajukan diri (kepada Menteri Marie Pangestu waktu itu) untuk mengambil alih penyelenggaraan dan pendanaannya secara swasta," kata Triawan.

Melanjutkan penjelasannya, Triawan menyatakan bahwa banyak pekerjaan arsitektur dan konstruksi yang sudah kejar-kejaran dengan kondisi pendanaan yang hampir tidak ada. Di saat-saat kritis itu, seorang pengusaha swasta meminjamkan dana bridgingsebesar Rp 4 - 5 miliar, namun dana ini hanya mencukupi bagi pembiayaan awal saja. Sedangkan Expo Milan 2015 ini akan berjalan selama 6 bulan dari 1 Mei 2015 sampai 31 Oktober 2015, yang tentunya akan memerlukan banyak biaya untuk menjalankannya.

"Setelah itu saya tidak lagi mengikuti perkembangannya, tapi saya sempat diberitahu oleh almarhum sewaktu masih di Milan sebelum pulang ke Jakarta dalam kondisi sakit, bahwa dana yang terkumpul dari para sponsor dan sudah terpakai itu baru sebesar Rp 34 miliar dari sekitar minimal Rp 57 miliar yang dibutuhkan.
Hitung-hitungan almarhum pada awalnya diperkirakan dibutuhkan Rp 80 miliar," ungkap Triawan.
"Nah, dalam kondisi pendanaan yang cekak itu lah Expo Milan dibuka pada tanggal 1 Mei 2015 dengan segala keterbatasannya. Sejak awal saya selalu bilang kepada almarhum bahwa Expo Milan ini pekerjaan yang telalu besar dan rumit untuk dikerjakan seorang Didi Petet tanpa pendanaan yang jelas ataupun dari pemerintah. Saya selalu bilang 'Kang Dipet nekad'. Tapi karena merasa sudah merasa tidak bisa mundur lagi, Almarhum tetap saja melaksanakannya," lanjut ayah dari Sherina Munaf itu.

Tetapi Didi Petet tak lantas menyerah, kata Triawan. Dalam upayanya mencari sponsor, dia mendapat jawaban dari Kementerian Perdagangan RI dalam bentuk teknis dan Kemenko Kemaritiman yang akan mengirimkan ekspedisi kapalnya dalam rangka The World Ocean Day bulan September nanti di Milan.

Pernyataan Triawan ini sekaligus mengklarifikasi tulisan akun Derek Manangka di laman Facebook. Triawan menegaskan bahwa Didi Petet sama sekali tak memanfaatkan APBN dalam perannya di World Expo Milan.

"Jadi tidak benar bahwa ada uang negara maupun komitmen APBN yang digunakan oleh kepanitiaan almarhum Didi Petet, yang disebut dikorupsi dari dana sebesar 'Rp 80 miliar dan hanya separuhnya cair' itu. Sebelum almarhum wafat saya sempat meminta agar almarhum mengeluarkan statement untuk mengklarifikasi berita yang simpang-siur ini. Namun kondisi kesehatannya terus menurun hingga kita semua kehilangan seorang sahabat dan aktor besar ini dua hari yang lalu. Tentu saja almarhum merasa tertekan dengan kondisi ini. Apalagi almarhum membaca dan mendengar berita-berita di media sosial yang di antaranya menuduh adanya korupsi dan lain-lain," tutur Triawan.


by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!