"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Minggu, 07 Juni 2015

Guruh Soekarnoputra: Bung Karno Lahir di Blitar

Sumber: Detikdotcom

Eddi Santosa - detikNews
Laporan dari Den Haag - Belanda


Den Haag - Di mana tempat Sang Proklamator, Presiden RI Pertama Soekarno dilahirkan? Jauh sebelumnya, sumber-sumber di Belanda sudah mencatat kontroversi mengenai tempat Soekarno dilahirkan, bahkan ketika Bung Karno masih hidup dan sedang di puncak kekuasaan. 

Dari dua tempat kelahiran yang menjadi kontroversi, deskripsi menurut penuturan Soekarno sendiri dalam otobiografinya lebih tepat menunjuk ke Blitar daripada Surabaya.

"Masih ada pertanda lain ketika aku dilahirkan. Gunung Kelud, yang tidak jauh letaknya dari tempat kami, meletus." (Cindy Adams: Bung Karno Penjambung Lidah Rakyat, hal 22, edisi Revisi).

Secara visual, Gunung Kelud memang lebih dekat ke Blitar daripada Surabaya. Masyarakat sekitar akan mengiyakan dan membenarkan sesuai ucapan Bung Karno sendiri.

Data geografi juga membuktikan dan memperkuat ucapan Bung Karno. Jarak antara Gunung Kelud ke kota Blitar dalam satuan metrik cuma 37,4 km. Sebaliknya jarak antara gunung berketinggian 1,731 m itu dengan Surabaya empat kali lipat lebih jauh, yakni 130,5 km.

Pemahaman yang sudah terlanjur diterima dan ditulis oleh sebagian kalangan bahwa masa kecil Soekarno ada di Surabaya juga perlu diberi tanda tanya dan dilihat ulang secara kritis.

Sebab, sumber di Belanda mencatat bahwa masa kecil Soekarno dan pendidikan sekolah dasarnya ditempuh di Mojokerto, bukan di Surabaya. 
In Modjokerto ging de jonge Soekarno op school, eerst op de inlandse, later (zijn vader wilde zijn zoon vooruit brengen in de wereld) op de Europese lagere school... Di Mojokerto Soekarno kecil pergi ke sekolah, mula-mula ke sekolah pribumi, kemudian (ayahnya ingin membawa anaknya maju di dunia) ke Sekolah Dasar Eropa...(red)," (Het Vrije Volk, Sabtu 4 Desember 1965).

Keterangan tersebut mementahkan pemahaman bahwa masa kecil Soekarno berada di Surabaya dan menggugah kesadaran semua pihak untuk perlu menggali lebih lanjut kehidupan Soekarno usia balita atau SD di Mojokerto.

Mojokerto itu posisinya kira-kira 50 km arah Barat Laut dari Surabaya, suatu jarak yang cukup jauh, apalagi untuk tahun 1901-1912. Jika masa kecil Soekarno ada di Surabaya, maka juga tidak masuk akal pada zaman itu seorang anak kecil usia SD berangkat pulang pergi ke sekolah dari Surabaya ke Mojokerto menempuh jalanan sepi dengan sisi kiri kanan masih hutan.

Apalagi transportasi saat itu tidak seperti sekarang. Teknologi otomotif saat Soekarno usia SD masih baru berkembang, produksinya sangat terbatas dan di Jawa baru Paku Buwono X saja yang punya. Soekarno hanya seorang anak guru desa. Artinya, dikaji dari segala sisi tidak memungkinkan Soekarno melaju pergi-pulang Surabaya-Mojokerto.

Soekarno baru pindah ke Surabaya untuk menempuh pendidikan ke sekolah lanjutan Hogere Burgerschool(HBS), sekolah lanjutan tinggi setingkat SMA. Di Surabaya dia menumpang atau in de kost di rumah pemimpin nasionalistis terkemuka saat itu, Tjokroaminoto.

"...zijn verblijf ten huize van destijds meest vooraanstaande nastionalistische leider van Indonesie, Tjokroaminoto...tinggalnya di rumah pemimpin nasionalistis terkemuka saat itu, Tjokroaminoto (red)," (Paul van 't Veer, Het Vrije Volk, Sabtu 4 Desember 1965).

Dari teks ini dapat dipahami bahwa Soekarno selama di Surabaya untuk menempuh pendidikan sekolah lanjutan HBS tidak tinggal di rumah sendiri bersama orangtuanya, melainkan di rumah H.O.S. Tjokroaminoto. Suatu hal biasa kalau seorang anak harus menempuh pendidikan jauh di luar kota.
Putra kandung Soekarno sendiri, Guruh Soekarnoputra, menyebut dengan eksplisit dan jelas bahwa si Bung dilahirkan di Blitar. Blitar adalah kota kelahiran Bung Karno.

"Bung Karno, kata Guruh, tak pernah minta dimakamkan di Blitar, kota kelahirannya...," (TEMPO, 6 November 2012)

Tapi, sebagaimana dikatakan oleh Paul van 't Veer, seorang penulis biografi Soekarno: Kopstukken uit de Twintigste Eeuw (Soekarno: Tokoh Abad Ke-20), kesimpangsiuran memang ditemukan dalam biografi-biografi resmi Indonesia mengenai Soekarno.

Di mana dia dilahirkan, Bung Karno sudah mendeskripsikan tempat kelahirannya dekat Gunung Kelud, tapi pada kesempatan lain disebut Surabaya. Guruh Soekarnoputra jelas mengatakan: Blitar

by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!