"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Kamis, 25 Agustus 2016

Menpar Arief Yahya Puji Sanur Village Festival 2016


 

BALI – Menpar Arief Yahya memuji konsistensi Sanur Village Festival 2016 yang sudah memasuki tahun ke-11. Dari tahun ke tahun, selalu punya tema khusus dan menampilkan inovasi baru. Tahun 2016 ini tema besarnya adalah “Tat Twam Asi” The New Spirit of Heritage, yang digelar di Maisonettee Area Inna Grand Bali Beach, Sanur, Bali, 24-28 Agustus 2016.

Tat Twam Asi itu adalah bahasa Bali, yang menurut Ida Bagus Gede Sidharta Putra, Chairman of Sanur Village Festival, bermakna: “Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku!” Sekilas mirip petikan karya susastra yang nyaring dibaca dan menembus hati. Ada spirit kebersamaan, kekompakan, penghargaan terhadap nilai-nilai, dan tetap menjaga identitas kultural Bali yang kental dengan darah seni.

Oleh Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya, inti sari dari prinsip “Tat Twam Asi” itu dimaknai sebagai empati. Empati itu memahami apa yang orang lain rasakan, pikirkan, satu frequensi, sehingga tahu juga apa yang mereka inginkan dengan baik. Bahasa Betawinya, gue tahu elo banget! Dalam implementasi marketing, Arief Yahya sering menyederhanakan dengan istilah “cusmoter care” yang berbasis pada “service quality.”

“Itu ada ilmunya, disingkat TERRA, yakni tangible, empathy, reliability, responsibility, dan assurance. Filosofi tat twan asi itu lekat dengan empathy. Ketika kita hendak memberikan pelayanan yang terbaik, maka kita harus mengetahui siapa customers, apa yang dimaui, dan bagaimana menyentuhnya. Aku adalah engkau, engkau adalah aku,” jelas Arief  Yahya yang sudah mengarang buku Paradox Marketing dan Great Spirit Grand Strategy itu.

Tiga poin besar yang disampaikan Menpar Arief Yahya di Sanur Village Festival 2016 itu. Pertama soal festival itu sendiri, yang sudah 11 tahun konsisten dilaksanakan, dengan kreatif yang terus berbeda, semakin keren, semakin banyak pengunjung dan go digital. Termasuk melaunching aplikasi I Discover City Walk, rute jalan kaki, sepeda, tempat bersejarah di Sanur, yang bisa di download di mobile apps. Mantan Dirut PT Telkom ini juga menyaksikan launching itu sesaat sebelum membuka festival. “Festival ini bagus, tertata rapi, digarap serius, dan dipromosikan dengan bagus. Ini bisa dicontoh oleh daerah lain dalam membuat festival yang berkelanjutan,” kata Arief Yahya.

Poin kedua adalah Sanur sendiri, yang oleh Arief Yahya selalu dijadikan contoh sebuah kawasan pariwisata dengan community based terbaik di Indonesia. Sanur contoh konkret, sebuah kawasan di Bali yang brandingnya lebih artistic, lebih religius, lebih bercita rasa, sehingga turis yang datang pun punya kelas yang beda. Kebanyakan dari Eropa dan Amerika, yang benar-benar ingin menikmati budaya dan alam. Tidak berisik, tidak heboh dengan dentuman suara musik, seperti di kawasan Kuta dan Bali Selatan.

“Di Mandeh Sumatera Barat dan Danau Toba Sumatera Utara, saya gunakan Sanur sebagai contoh, dan saya minta mereka belajar ke Sanur, untuk pengembangan destinasi. Nah, Sanur Village sendiri harus menjadi Global Village, yang bisa diakses dengan mudah dan cepat melalui digital,” paparnya.  

Sebagai community based, Sanur punya pasar tradisional yang sudah online service. Pasarnya bersih, tempatnya oke, dan terkoneksi oleh wifi berkecepatan tinggi. “Saya berjanji, 27 September ketika Hari Pariwisata Dunia nanti, akan mereaktivasi pasar berbasis teknologi informasi itu. Sanur harus go digital, dan menjadi pemain global dengan asset community yang sudah terbentuk,” jelas Arief Yahya yang pakar di dunia digital itu.

Mengapa Sanur selalu dijadikan contoh? Karena, sebagai destinasi, Sanur sudah memenuhi syarat sebagai Sustainable Tourism Development (STD). Ada tiga aspek yang sudah kuat berjalan selama ini, yakni Community, Environment, dan Economic Values.  “Karena itu menggabungkan antara Global Village dengan UKM Digital, maka akan menjadi perkawinan yang sempurna dan bisa dijadikan contoh di level nasional dalam pengembangan destinasi dan industri,” ungkap Arief Yahya.

Dia juga mengingatkan, agar jangan hanya bertumpu pada community saja. Ada rumus Pentahelix yang juga dipopulerkan alumni ITB, Surrey University Inggris dan Unpad Bandung itu. Harus ada 5 unsur, Academician, Business, Community, Government dan Media. Singkatannya ABCGM. “Ingat, the future customers itu menggunakan digital. Jadi, jangan terlambat menjemput masa depan,” tutur pria Banyuwangi yang dipercaya Presiden Joko Widodo menangani Pariwisata itu.  

Poin ketiga adalah Bali. “Bagi ini menarik, karena 40% wisman masuk via pintu Bali. Dan, ketertarikan wisman ke Indonesia itu, 60% karena culture, 35% karena nature, dan 5% man made. “Bali ini sempurna, ketiga-tiganya kuat. Budayanya sangat kuat, alamnya kuat, dan tempat MICE dan Sport Tourism-nya juga kuat. Dua P-nya Bali itu sangat kuat, yakni produk dan process. Maka ujungnya, Bali punya pendapatan perkapita yang tinggi, indeks kebahagiaan tinggi, indeks kemiskinan rendah dan angka pengangguran juga rendah,” sebut Arief Yahya.

Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, dalam sambutannya menambahkan bahwa Sanur itu berasal dari kata “San” dan “Nur”. Artinya satu cahaya, yang dimaksud adalah matahari yang terbit dari timur. “Sejak dulu Sanur ini kawasan yang reigius, yang terjaga oleh kekuatan budaya dan art. Sampai sekarang konsisten itu masih tetap terjaga, dan itulah nilai unggul dan kekuatan Sanur,” kata Rai Mantra.(*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!