"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Rabu, 24 Agustus 2016

Perlu Masukan Tentang Infrastruktur Berbudaya, Presiden Berdialog Dengan Budayawan


 

Presiden inginkan identitas dan jatidiri bangsa Indonesia lebih terlihat

Pembangunan infrastruktur memang merupakan program utama pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla selama lima tahun masa pemerintahannya. Namun demikian, Presiden Joko Widodo tidak melupakan begitu saja pembangunan sumber daya manusia yang juga dirasa penting dalam pembangunan nasional. Oleh karenanya, pada Selasa 23 Agustus 2016 sore, Presiden berdialog dengan sejumlah seniman dan budayawan di Galeri Nasional Indonesia Jakarta untuk mendapatkan saran dari berbagai sisi.

Mengawali pengantarnya, Presiden mengungkapkan anggapan yang selama ini ditujukan pada dirinya mengenai program pembangunan yang diusungnya. Banyak pihak menganggap bahwa pemerintah sekarang ini hanya berfokus pada percepatan pembangunan fisik semata.

"Sehingga pada sore hari ini, saya ingin mendapatkan masukan-masukan, mendapatkan input-input, agar pembangunan infrastruktur yang lunak, infrastruktur yang tidak keras itu juga bisa kita mulai," imbuh Presiden.

Adapun infrastruktur lunak yang dimaksud oleh Presiden tersebut terkait dengan kebudayaan dan segala dimensinya yang merepresentasikan identitas bangsa. Di hadapan sejumlah budayawan, Presiden menginginkan agar identitas dan jatidiri bangsa Indonesia jauh lebih terlihat. Presiden juga mengungkap bahwa dirinya merasakan sendiri dan memahami keterbatasan sarana pendukung budaya yang ada.

"Saya tahu bahwa infrastruktur budaya yang ada di daerah yang saya lihat memang pada kondisi yang tidak memungkinkan untuk kita bisa berekspresi dengan baik. Taman-taman budaya yang saya lihat sudah ada di beberapa kota/kabupaten tidak memberikan sebuah kontribusi yang kelihatan bagi pembangunan budaya kita," ungkapnya.

Usai memberikan pengantarnya, dialog antara Presiden dengan sejumlah budayawan pun dimulai. Saat dialog yang bertajuk "Ngeteh Bareng Presiden" tersebut berlangsung, Presiden Joko Widodo didampingi Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Staf Khusus Presiden Sukardi Rinakit. Tampak pula hadir ‎Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf.
Adapun sejumlah seniman dan budayawan yang turut berpartisipasi dalam dialog tersebut antara lain Arswendo Atmowiloto, Frans Magnis Suseno, Jean Couteau, Garin Nugroho, Radhar Panca Dahana, Sutanto Mendut, Ahmad Tohari, Acep Zamzam Noor, Nasirun, Edy Utama, Al-Azhar, Sys Ns, Djadoeg Ferianto, dan Butet Kertaradjasa.‎

Usai bertemu dengan para budayawan, Presiden mengatakan kepada wartawan bahwa kita sering berbicara masalah ekonomi dan  politik.

"Kita lupa bahwa ada sisi budaya yang juga harus kita perhatikan sehingga ada kebijakan makro kebudayaan Indonesia. Ini yang akan kita rumuskan bersama-sama," ucap Presiden.

Presiden mengakui dalam pertemuan itu banyak menerima masukan dari para budayawan itu, misalnya menumbuhkan kembali kesusastraan. 

"Menguatkan kembali diplomasi budaya kita, membangun pusat kebudayaan. Tapi tidak di wilayah urban tetapi juga di desa sehingga muncul pusat kebudayaan, tak hanya di kota tetapi juga di daerah. Saya kira banyak sekali nanti kebijakan makro kebudayaan kita dalam rangka proses pembudayaan manusia," ucap Presiden.

Ketika ditanyakan wartawan tentang banyak terdengar tawa dalam pertemuan tersebut. Presiden mengamini dalam pertemuan tersebut diselingi banyak canda dan tawa.

"Tadi ada yang banyak ketawa karena ada salah satu budayawan yang mengatakan saya katanya presiden yang perilakunya paling _ndeso_ dan wajahnya _ndeso_," ujar Presiden.

Jakarta, 23 Agustus 2016
Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden

Bey Machmudin‎
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!