"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Jumat, 02 September 2016

Bekraf Dukung Keikutsertaan Seniman di London Design Biennale 2016

SIARAN PERS 

 

Jakarta, 31 Agustus 2016 ~ Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendukung keikutsertaan sembilan orang seniman, arsitek dan desainer Indonesia untuk tampil pada ajang London Design Biennale (LDB) 2016 di Somerset Mouse, London, Inggris, pada tanggal 7-27 September 2016. Mereka adalah seniman Irwan Ahmett, Bagus Pandega, Yola Yulifanti; arsitek Adi Purnomo dan Suyeni; dan desainer Agra Satria, Fandy Susanto, Max Suriaganda dan Savira Lavinia. Tugas mereka menjawab tantangan utopia dunia melalui desain Indonesia. 

Ajang LDB 2016 menghadirkan tema "Utopia by Design" dan ajang yang baru pertama 
kali digelar itu berhasil mengundang 33 negara dari enam benua, termasuk Indonesia. 
Masing-masing negara akan mengeksplorasi gagasan tentang desain yang membalut 
isu-isu sosial politik semacam migrasi, polusi, air dan kesejahteraan sosial. 

Kepala Bekraf Triawan Munaf mengatakan, "Di awal masa kemerdekaan, Soekarno presiden Republik Indonesia yang pertama — pernah punya visi akan dunia yang ideal, dunia tanpa kolonisasi, setiap bangsa berderajat sama, menghapus konflik dan menghargai perbedaan. Rumusan terdekat adalah Dasasila Bandung tahun 1955. Inilah gagasan Indonesia menjawab utopia dunia." 

Lebih lanjut Triawan mengungkapkan, utopia diterima sebagai sistem sosial politik yang sempurna hingga sulit diwujudkan dalam kenyataan. Namun, hal ini adalah inspirasi ideal mengenai kondisi masyarakat yang sepatutnya menjadi sejahtera atau ~ lebih 
tepatnya - disejahterakan oleh negara. 

Tema "Utopia by Design" dalam LDB 2016 lantas diadaptasi dalam situasi kondisi sosial, politik dan ekonomi Indonesia oleh tim kurator yang disusun Bekraf, sehingga melahirkan sebuah tema ala Indonesia, yakni "Freedome". 

Tim kurator Indonesia terdiri dari Hermawan Tanzil, Diana Nazir, Hafiz Rancajale, serta 
Danny Wicaksono. Mereka memilih seniman, arsitek dan desainer untuk mewujudkan gagasan utopis tentang masyarakat ideal, yang terinspirasi dari Dasasila Bandung, secara kontemporer. 

"Pilihan atas 'Freedome' adalah interpretasi kita terhadap kenangan bangsa Indonesia atas momentum terbaik pada masa awal kemerdekaan, yaitu Konferesi Asia Afrika tahun 1955 yang melahirkan Dasasila Bandung; ungkap Deputi IV Bidang Pemasaran Joshua Puji Mulia Simanjuntak.

la menambahkan Dasasila Bandung mengandung pernyataan dukungan akan kedamaian dan kerjasama dunia yang akhirnya menjadi sumber inspirasi bagi negaranegara di kawasan Asia dan Afrika saat itu. Dalam tatanan dunia ideal, gagasan utopia mengingatkan masyarakat akan hal-hal yang ideal, kemudian mendorong masyarakat untuk melihat masa depan dengan berbagai alternatif, inisiatif dan spekulasi tentang 
hidup yang ideal. 

"Kita menemukan cara menuju utopia melalui ekspresi desain yang lantas mengajak berperan membentuk kritik tentang dunia ideal, baik dari sudut pandang budaya. ekonomi maupun politik. Singkatnya, Dasasila Bandung adalah tawaran Indonesia pada tema Utopia by Design" ungkap Joshua. 

Selain itu, kehadiran Indonesia pada ajang LDB 2016 sangat penting untuk memajukan eksistensi dan kontribusi desainer Indonesia dalam menawarkan spekulasi, alternatif dan pemikiran kritis tentang cita-cita tatanan dunia ideal melalui desain. 

*Peran Bekraf dalam Kancah Industri Desain Indonesia*

Desain produk, arsitektur dan seni rupa adalah sebagian dari 16 subsektor ekonomi kreatif. Keikutsertaan Indonesia melalui dukungan penuh pemerintah, dalam hal ini Bekraf, melalui Deputi Pemasaran, merupakan implementasi nyata pemerintah terhadap keseriusan dalam mengembangkan ekonomi kreatif nasional. 

Sebagai upaya dari program promosi dan publikasi produk ekonomi kreatif Indonesia di luar negeri, fasilitasi penuh terhadap para seniman, arsitek, dan desainer yang terpilih untuk mengikuti LOB 2016 diharapkan dapat meningkatkan citra dan potensi ranah seni di Indonesia, sekaligus meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat mengenai 
pentingnya berbagai karya seni kontemporer, termasuk nilai ekonomisnya. 

Fasilitasi Bekraf terhadap pelaku ekonomi kreatif seni rupa, arsitektur, dan desain produk kali ini juga merupakan bentuk pengembangan ekosistem seni Indonesia untuk mendukung pemanfaatan kreativitas, keterampjlan serta bakat individu, dalam rangka mendptakan lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya 
kreasi dan daya cipta individu tersebut. 

Dalam setahun terakhir, ekonomi kreatif telah menyumbang Rp 642 triliun dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Saat ini, baru tiga subsektor yang memberikan kontribusi besar yaitu kuliner sebanyak 32,4 persen; fesyen 27,9 persendan kerajinan 14,88 persen. Untuk mencapai target kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB sebesar 
12 persen pada tahun 2019, maka subsektor lain juga harus dikembangkan, termasuk di dalamnya seni rupa. desain produk, dan arsitektur. (kris/dnm)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!