"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Sabtu, 03 September 2016

Indonesia Street Festival Hebohkan Bukit Bintang Kuala Lumpur


 
 
 
KUALA LUMPUR—Atraksi kesenian yang ditampilkan dalam Indonesia Street Festival di Bukit Bintang menghebohkan warga Malaysia. Tak hanya warga Malaysia, Indonesia Street Festival yang diadakan Kementerian Pariwisata juga menuai pujian para turis asing yang tengah berlibur di Bukit Bintang.
Acara yang dihelat di sepanjang Starhill Gallery hingga Lot 10 Shopping Center, di Bukit Bintang, Kuala Lumpur, Malaysia, selama empat hari sejak  Kamis hingga Sabtu (1-4/9/2016) tersebut memang menyajikan beragam konsep acara menarik, di antaranya pentas kesenian, parade kostum karnival, instalasi seni dari bambu, pentas musik tradisional-modern, hingga pameran produk kerajinan dan makanan khas Indonesia. Semua aktivasi branding tersebut memantik perhatian publik di Malaysia.
Penampilan Kuda Lumping Banyuwangi yang dimainkan Paguyuban Arek Banyuwangi (PAB), misalnya, selalu mengundang decak kagum para penonton yang memadati walkway depan pintu masuk Lot 10 Shopping Center. Para penonton enjoy menikmati tarian tradisional yang dibawakan dengan energik lima penari pria. Dengan berpakaian mirip prajurit dengan hiasan yang berwarna-warni, mereka kompak memainkan tarian yang dikenal juga dengan nama “Jaranan”.
Saat kelima penari menunggangi mainan berbentuk kuda dari anyaman bambu dan tangan kanan memegang cambuk mulai berlarian, sembari sesekali membunyikan cambuk yang menghasilkan efek suara menggelar, penonton pun riuh bertepuk tangan. Kemeriahan makin tercipta karena suara musik slompret, kendang, kempul, bonang, dan gong saling bersahutan mengiringi gerak para penari.
Rombongan turis dari Yordania yang menonton mengaku terkesima dengan tarian yang dimainkan. “Traditional dance-nya menarik. Saya baru pertama kali melihatnya. Saya sangat excited,” cetus Nasser Abdullah, yang sengaja menyempatkan waktu menonton gelaran Indonesia Street Festival saat berada di Bukit Bintang. Dia berharap tahun depan bisa berlibur ke Indonesia bersama keluarga. Adanya gelaran Indonesia Street Festival membantunya untuk memeroleh gambaran tentang rencananya itu.
Senada disampaikan warga Malaysia, Yap Hin. Selama ini ia hanya sempat berkunjung ke Jakarta dan Bali saja. Ternyata, dari festival ini banyak tempat menarik yang layak dikunjungi. Ia mengaku ingin ke Pulau Komodo, setelah melihat Photo Booth komodo yang dipajang di depan pintu masuk Lot 10 Shopping Center. “Ini (komodo) ternyata benar masih ada. Jadi ingin melihat langsung ke sana,” kata Yap Hin yang mengaku bekerja di sebuah perusahaan milik pemerintah tersebut.
Masih ada beberapa agenda acara promosi Wonderful Indonesia yang juga menarik perhatian warga Malaysia dan wisman. Di ruang pameran di dalam Lot 10 Shopping Center, pengunjung juga terbius dengan workshop membatik yang diadakan Apip’s batik dari Jogja. “Banyak warga Malaysia, Jordania, dan Arab Saudi, yang mampir ke booth saya untuk bertanya tentang membatik. Kebetulan saya membawa perlengkapan membatik, jadi bisa langsung praktik. Selain itu juga mereka membeli batik yang didisplay di sini. Yang laku kain batik yang warnanya cerah tapi soft, elegan,” terang Hendra, seniman batik dari Apip’s Batik.
Tak ketinggalan juga workshop siluet wajah, hingga kuliner khas Indonesia, pertunjukan musik tradisional keroncong, batak, kerajinan, dan  fashion show yang diminati pengunjung.
Asisten Deputi Pengembangan Pasar Pariwisata Asia Tenggara Rizki Handayani mengatakan, beragam acara dan atraksi kesenian yang di Indonesia Street Festival memang sengaja dihadirkan untuk menarik perhatian turis mancanegara, khususnya Malaysia. Agar makin banyak jumlahnya yang berkunjung ke Indonesia.
“Malaysia pasar potensial. Tahun lalu kunjungan wisman Malaysia berkontribusi 1,2 juta orang. Tahun ini sesuai target Pak Menteri kita akan genjot hingga 2 juta kunjungan wisman Malaysia,” papar Rizki, wanita perhijab lulusan ITB Bandung tersebut. Malaysia sendiri menempati posisi kedua, setelah Singapura dan Tiongkok pada tahun 2015 dari total kunjungan wisman ke Indonesia yang mencapai 10,406.759 juta.
Selain itu, lanjut Rizki, melalui kegiatan branding ini diharapkan wisman Malaysia mengenal destinasi lain selain Jakarta, Bali, Bandung, atau Jogja, yang selama ini menjadi tujuan utama. Indonesia yang multientik dan multikultur sangat banyak memiliki keindahan dan keunikan tempat wisata lain. “Kita mulai segmented. Ada market-market potensial lainnya. Kita mulai jual Semarang, Bangka Belitung, Lombok, Palembang. Respons cukup bagus,” ungkap Rizki.
Dengan antusiasme penonton maupun pengunjung tersebut, Riski optimis target wisman ke Indonesia dari penyelenggaraan Indonesia Street Festival sekitar 100 ribu pengunjung dapat tercapai. “Selain dengan aktivasi berupa atraksi kesenian, kami juga menyebar brosur pameran MATTA Fair 2016 tentang bermacam destinasi wisata Indonesia. Selanjutnya mereka kita arahkan melihat booth kita dan membeli paket wisata di MATTA Fair yang sedang berlangsung,” Rizki. 
Menpar Arief Yahya menyebut selalu menyebut Malasia sebagai rival, sekaligus kawan bertanding dan benchmark yang baik. Tujuan internalnya, agar tim Kemenpar bekerja lebih keras dan cepat untuk mengejar ketertinggalan dengan Neger Jiran itu. "Bukit Bintang itu destinasi cafe dan restoran tempat nongkrong wisatawan Timur Tengah yang sukses di Malaysia. Kita perlu pelajari kisah suksesnya untuk menggaet pasar Middle East yang jumlahnya besar dan spending nya juga banyak," ucap Menpar Arief Yahya.(*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!