"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Selasa, 13 Desember 2016

Heboh Festival Atambua, Jadi Destinasi Wisata Crossborder

 

ATAMBUA – Heboh Festival Crossborder Atambua rupanya masih terus menjadi bahan perbincangan orang. Kalau 25.000 audience saat show musik itu di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta mungkin tidak begitu terasa. Tetapi ketika acara itu digelar di Kabupaten Belu (Atambua), Kabupaten Malaka (Betun), dan Kabupaten Timor Tengah Utara (Kefamenanu-Tanjung Bastian), seperti yang dilakukan Kemenpar itu, hampir pasti menjadi tontonan paling heboh, paling seru, dan sulit dicari padanannya.

Apalagi, group band yang diboyong ke perbatasan Indonesia-Timor Leste itu adalah Slank, Marapu, Kikan, Boomerang, dan Jamrud. Group band kelas A, yang sudah terbukti menciptakan kehebohan dimana-mana. Kemenpar sejak Juni 2016 hingga Desember 2016 konsisten menggelar Festival Crossborder di Atambua NTT, Aruk Sambas Kalbar, Batam-Bintan Kepri, Merauke dan Jayapura Papua.

“Musik itu bahasa universal. Kalau di tanah air disuka, maka di perbatasan pun pasti juga disukai. Karena itu, setiap acara music di perbatasan, selalu menjadi puncak acara dan ditunggu-tunggu orang,” jelas Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI. Jadi, kalau acara hari Sabtu-Minggu, ada yang sudah dating di Sabtu, masih juga datang lagi di Hari Minggu.

Ketika sudah menjadi tradisi dan orang sudah mulai akrab dengan Crossborder Festival ini, sebaiknya para industriawan dan investor segera hadir dan membangun atraksi dan amenitas di sana. Pariwisata itu industri yang paling sustainable, berkelanjutan. “Untuk Indonesia, pariwisata adalah
penyumbang PDB, Devisa dan Lapangan Kerja
yang paling mudah dan murah,” kata Arief Yahya.

Untuk PDB atau Product Domestic Bruto, pariwisata menyumbangkan 10% PDB nasional, dan angka itu tertinggi di ASEAN. Lalu, pertumbuhan PDB pariwisata di atas rata-rata industri lain.  Spending atau investasi USD 1 Juta akan menghasilkan PDB 170%, atau USD 1,7 Juta, dan itu juga tertinggi di industri saat ini.

Soal Devisa, menurut Arief Yahya, saat ini Pariwisata menempati posisi ke-4 penyumbang devisa nasional, sebesar 9,3%. Pertumbuhan penerimaan devisa tertinggi, yaitu 13% dengan biaya marketing hanya 2% dari proyeksi devisa. “Pariwisata itu termasuk industri eksport, yang duitnya diterima di dalam negeri dan dibelanjakan langsung ke masyarakat,” papar dia.

Bagaimana dengan tenaga kerja yang diserap dari sektor pariwisata? “Pariwisata itu penyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan, atau 8,4%. Lapangan kerja tumbuh 30% dalam 5 tahun. Pencipta lapangan kerja termurah, hanya USD 5.000 per satuan tenaga kerja. “Karena itu, tidak salah jika Atambua mulai memikirkan portofolio bisnis di pariwisata,” kata Arief Yahya yang asli Banyuwangi itu.

Menpar Arief Yahya menambahkan, crossborder adalah kawasan yang paling cepat bisa mendatangkan wisman. Dan Festival Crossborder di Aruk Sambas, Kalbar, lalu di Atambua NTT, Merauke dan Jayakarta di Papua akan menjadi sangat vital. “Prancis dan Spanyol adalah Negara dengan corssborder tourism yang paling besar, karena memanfaatkan crossborder itu,” jelas Arief Yahya. Karena itu, bagi para investor, saat inilah timing yang paling tepat.

Bupati Belu Willybrodus Lay pun mulai mendorong pariwisata sebagai leading sector dalam membangun daerah. Atambua akan didorong sebagai kota festival budaya bagi Indonesia dan Timor Leste. Sejak Juni 2016, Kota Atambua memang sudah bertransformasi menjadi kota festival. Kota yang menjadi salah satu pusat penampungan pengungsi dari Timor Timur zaman itu, tahun 1999 itu sudah naik kelas. Artis-artis tampil di sana tak lagi didominasi band-band lokal ataupun bintang kelas dua nasional. Semua sudah artis papan atas Indonesia.

“Yang saya rasakan, Festival Crossborder di perbatasan NTT-Timor Leste benar-benar menaikkan citra daerah. Untuk jangka panjang tentu sangat berpengaruh bagi pariwisata kabupaten yang ada di sekitar perbatasan akan terus berbenah untuk menyiapkan sarana dan prasarana yang lebih baik,” ungkap Bupati Belu, Willybrodus Lay, Senin, 12 Desember 2016.

Willy – sapaan akrab Willybrodus Lay tak asal bicara. Sejak Festival Crossborder digelar, jalan di tiga wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Timor Leste di Kabupaten Belu (Atambua), Kabupaten Malaka (Betun), dan Kabupaten Timor Tengah Utara (Kefamenanu-Tanjung Bastian) berubah mulus. Yang tadinya tanah dan batu, sekarang sudah diaspal mulus seperti jalan-jalan di Pulau Jawa.

Pos Lintas Batasnya? Seperti Bandara Bintang Empat. Kombinasi arsitektur tradisional dan modern di Motaain terlihat padu. Atapnya berbentuk kubah seperti bentuk atap rumah adat NTT, Mbaru Niang. ”Ini sangat memberi rasa bangga, berbeda dengan bentuk sebelumnya,” terang Willy.

Festival Crossborder juga memantik angka pertumbuhan kunjungan pelintas batas. Yang tadinya hanya 100-an pelintas batas, saat even berlangsung, jumlahnya melonjak ribuan persen pelintas batas. Kenaikannya besar dibanding hari biasa. “Dampak langsungnya  terhadap masyarakat sekitar Rp 300 juta  – Rp 400 juta karena tak hanya wisman Timor Leste saja yang bergerak masuk. Wisatawan Nusantara dari sekitar Atambua juga ikut masuk,” ungkap Willy.(*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!