"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Sabtu, 17 Desember 2016

Pariwisata Banyuwangi Go Digital dengan ITX

 

BANYUWANGI – Antusiasme pelaku industri pariwisata Banyuwangi sangat terasa saat workshop Go Digital di Aula Kantor Telkom, Jl Dr Sutomo, Banyuwangi. Sekitar 100 industri menyimak serius paparan yang disampaikan narasumber dari Kementerian Pariwisata RI. Bervariasi pertanyaan yang muncul, tetapi lebih didominasi oleh hal-hal teknis dalam bisnis online. “Siapa yang belum punya website?” tanya Claudia Ingkiriwang, Ketua Probis ITX –Indonesia Travel Xchange- mengawali diskusinya.

Sekitar 50% peserta malu-malu menunjukkan jari, sambil menengok kiri-kanan.  Tetapi 100% mereka sudah berpromosi melalui media sosial dengan berbagai platform, dari Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Line, dan lainnya. Sudah bisa ditebak, dari 50% yang sudah memiliki website, banyak yang belum dilengkapi commerce-nya, seperti booking system dan payment engine. “ITX akan support dengan website template yang sudah ready commerce, booking system dan payment gateway dengan free alias gratis,” jelas Claudia.

Wajah para pebisnis pariwisata Banyuwangi itu pun semakin serius. Yang baru punya website, tapi belum ada fasilitas book dan pay dalam satu platform, itu masih belum masuk kategori go digital. Mereka baru berpromosi atau marketing secara online, tetapi transaksi bisnisnya masih offline. Go Digital, mensyaratkan semua tahapan dari look, book, pay sudah terhubung secara online, bisa dengan diproses dengan smartphone, bisa juga dengan personal computer.

Ketika tahapan look atau search, book dan pay sudah bisa dilakukan secara online, maka sudah layak disebut go digital. Itulah sebabnya, Kemenpar membangun Digital Market Place, khusus industry pariwisata yang mempertemukan sellers dan buyers ke dalam satu platform atau mall digital. “Kalau untuk booking masih harus telepon, pembayaran masih transfer atau antre di teller bank, itu belum bisa disebut digital. Mungkin promosinya sudah digital, tapi transaksi bisnisnya masih manual? Tugas kami membantu mendigitalisasi industri wisata, dari booking awal, sampai transaksi pembayaran,” katanya.

Menpar Arief Yahya, sejak Rakornas III tahun 2016 di Econvention, Ancol, Jakarta, September 2016 lalu sudah meluncurkan Go Digital Be The Best. Dia meyakini bahwa target Presiden Joko Widodo dengan 20 juta wisman di 2016 itu bukan sembarang target. Target yang luar biasa, harus double, dari 9,3 juta wisman 2014 ke 20 juta tahun 2019. “Hasil yang luar biasa, hanya bisa dicapai dengan cara yang tidak biasa! Dan Go Digital ini adalah salah satu cara tidak biasa yang bisa dipakai untuk mengejar target luar biasa itu,” kata Arief Yahya yang juga asli Banyuwangi, Jatim itu.

Arief Yahya menyebut more digital, more global. More digital more personal. More digital more professional. Dalam selling, Kemenpar memilih untuk membangun Digital Market Place, yang sudah dipelajari dengan matang, dan ITX diendors untuk membangun platform tersebut.

Seperti diketahui, Banyuwangi menjadi hebat sektor pariwisatanya, karena faktor CEO-nya, Bupati Abdullah Azwar Anas yang sangat concern menempatkan core economy daerahnya di sektor pariwisata. Masyarakatnya semakin sadar bahwa pariwisata adalah pilihan yang terbaik, dan sudah mulai terasa dampak ekonominya. Dengan Go Digital, maka potensi Banyuwangi bisa lebih cepat, lebih besar, dengan target market yang lebih mendunia. 

Acara yang dilangsungkan di aula Telkom Banyuwangi ini ada tiga nara sumber. Yakni Samsriyono Nugroho Stafsus Menpar Bidang IT yang memberi gambaran besar Go Digital Kemenpar. Lalu Don Kardono, Stafsus Menpar Bidang Komunikasi Publik, yang mengangkat Sosmed Marketing Pariwisata. Bagaimana impact menggunakan media social seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Weibo, WeChat, Line, dan lainnya untuk mempromosikan destinasi maupun events. Dan, Claudia Ingkiriwang, Ketua Probis Indonesia Travel Xchange (ITX) yang diendors Kemenpar untuk membangun platform go digital.

Ada yang bertanya, kalau UMKM seperti Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata, red), boleh gabung ITX apa tidak? “Boleh banget! Justru kami ingin semua industri kecil, mikro dan menengan, yang bergerak di sector Pariwisata ikut gabung, dan free. Unsurnya 3A, industri Atraksi, Akses dan Amenitas, semua harus ada. Atraksi misalnya pengelola theme park, tempat wisata, taman bermain, dan lainnya. Akses, seperti rent car (persewaan mobil), diskon ticketing airlines, diskon khusus kapal penyeberangan, dan lainnya. Amenitas seperti hotel, resort, homestay, dan glamping, dan lainnya,” tutur dia.

“Pertama, Pokdarwis itu harus punya AD/ART. Kedua, yang mendaftar adalah pengurusnya, untuk semua anggotanya. Nanti, pengurusnya yang diberi booking dan payment system, dan website yang ready commerce. Anggotanya sebagai produk,” lanjut Claudia.

Pertanyaan lain, bagaimana kalau pelaku bisnisnya punya beberapa usaha? Yang bergerak di 3 kategori industry: Akses, Amenitas, Atraksi itu? Sebaiknya diintegrasikan dalam satu web? Atau dipecah-pecah dalam banyak website? “Agar memudahkan customers, sebaiknya cukup satu website, tetapi dikelola dengan professional,” kata dia.

Kalau PT atau CV atas nama perseorangan? Lalu yang menjalankan bisnisnya orang lain, boleh tidak? Misalnya anak atau keluarganya? “Boleh saja. Yang penting penanggung jawabnya jelas, siapa yang handle, siapa yang registrasi, dan yang menjalankan bisnis itu memiliki komitmen dalam services. Karena dalam bisnis services seperti pariwisata ini, kepercayaan itu harus dijaga dan mahal harganya,” jawab Claudia.

Bagaimana jika lokasi bisnis outbond-nya ada di atas gunung? Yang tidak ada wifi? Atau di tengah hutan dan sawah yang tidak memiliki jaringan komunikasi? Jauh dari infrastruktur telekomunikasi? Claudia pun harus menahan tawa. “Lokasi outbond, atau atraksi apapun yang dipaketkan dan dipasarkan bisa dimana saja. Bisa di atas gunung, di dasar jurang, di tengah pulau terpencil, yang tidak ada aksesnya. Tetapi, admin-nya kan tetap di bawah? Adminnya harus terkoneksi secara online,” jawabnya.

Nah, ada pertanyaan yang bagus lagi, bagaimana kalau mau ganti-ganti isi atau content webnya? Bisakah ganti sendiri? Atau bisa melalui ITX? Atau harus dengan web developer? “Ganti-ganti, boleh dan bisa banget. Silakan. Memang harus sering-sering di up date, dengan paket-paket baru yang dinamis! Proses penggantian itu bisa dilakukan sendiri, karena CMS atau content management system-nya akan kita berikan secara gratis juga!” jelas Claudia.(*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!