"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Rabu, 18 Januari 2017

Fokus ke Penjualan, Kemenpar Bawa 40 Industri di Travex ATF 2017 Singapura

 

JAKARTA - Menpar Dr Ir Arief Yahya MSc berkeyakinan, industri tourism itu mirip dengan telekomunikasi dan transportasi. Proximity atau kedekatan itu sangat menentukan skukses tidaknya sebuah program. Bisa kedekatan geografis atau jarak, juga bisa kedekatan budaya atau kultural. "ASEAN itu ya dekat di jarak, juga akrab di budaya," kata Arief Yahya, yang mantan Dirut PT Telkom Indonesia itu. 
Karena itu, AY --panggilan Arief Yahya-- melihat ASEAN adalah market potensial. Asia Tenggara, pasar yang amat seksi untuk Pariwisata Indonesia. Untuk itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tidak mau kehilangan momentum untuk mengoptimalkan market  egara tetangga itu. Salah satunya di event Travel Exchange ASEAN Tourism Forum (Travex ATF) 2017 di Singapura, yang digelar pada tanggal 18 – 20 Januari 2017 di Marina Bay Sands, Singapura. 
Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) I Gde Pitana didampingi Asisten Deputi Pengembangan Pasar Asia Tenggara Kemenpar Rizki Handayani mengatakan, pada event yang setiap tahun penyelenggaraannya berganti tuan rumah diantara negaranegara anggota ASEAN ini, adalah upaya untuk melanjutkan program Kemenpar mempromosikan Wonderful Indonesia. 
”Kemenpar rutin mengikuti Travex ATF dan keikutsertaan kali ini adalah untuk mempromosikan sekaligus mempertahankan eksistensi pariwisata Indonesia di dunia khususnya kawasan ASEAN,” ujar Pitana.
Rizki memaparkan, pada partisipasi tahun ini Indonesia menampilkan paviliun seluas 305 m2 (40 booth) dengan menonjolkan tekstil nusantara dan coral triangle. Peserta yang bergabung dengan booth Indonesia terdiri dari 40 industri pariwisata Indonesia (TA/TO, Hoteliers, dan Atraksi) yang berasal dari 10 destinasi provinsi, yaitu: 
Bali (26), Jakarta (3), Jawa Tengah (1) Nusa Tenggara Timur (2), Jawa Timur (1), Sulawesi Utara (1), Kepulauan Riau (3), Jawa Barat (1), Nusa Tenggara Barat(1), dan Papua Barat (1). 
"Kami membawa delegasi yang akan aktif berpartisipasi terdiri dari 40 industri full delegate dari destinasi-destinasi unggulan di Indonesia. Mereka akan membawa paket-paket wisata yang tentunya sudah siap untuk ditawarkan kepada para buyers," kata Pitana yang juga diamini Rizki. 
Kata Rizki, Industri tour & travel, Industri atraksi, hotel, resort, dan DMO akan intens melakukan promosi dan melakukan pertemuan bisnis dengan para buyers yang datang dari seluruh dunia. Selain sebagai ajang mempromosikan Wonderful Indonesia, Travex ATF 2017 diharapkan bisa menghasilkan transaksi bisnis paket wisata dalam upaya mendatangkan wisatawan mancanegara skala besar ke Indonesia. 
Lebih lanjut Rizki menambahkan, keikutsertaan Kemenpar juga mendukung dasar tema ATF 2017 yaitu “Shaping Our Tourism Journey Together” sekaligus juga merayakan ulang tahun ASEAN yang ke-50 dengan mengkampanyekan ‘Visit ASEAN@50: Golden Celebrations.
”Dimana tentunya ini menegaskan bahwa Indonesia memandang penting kerja sama negara-negara ASEAN dalam industri pariwisata. Diharapkan dari kerjasama ini menciptakan dan meningkatkan kesadaran bahwa ASEAN sebagai kawasan tujuan wisatawan yang kompetitif di Asia Pasifik,” beber Rizki. 
Untuk mendukung pelaksanaan Travex ATF 2017, imbuh Rizki, Kemenpar bekerjasama dengan Travel Weekly Asia untuk pemasangan advertisement selama 3 (tiga) hari pelaksanaan Travex ATF 2017 berupa 3x double page spread serta interview Menteri Pariwisata terkait strategi marketing pariwisata Indonesia tahun 2017 serta 10 destinasi prioritas sebagai Bali baru. 
Sebagai salah satu NTO (National Tourism Organization), Kemenpar juga akan melaksanakan media briefing pada tanggal 19 Januari 2016 pukul 14.00 – 14.45 yang akan dihadiri oleh media yang akan diundang oleh organizing committee ATF 2017. Selain itu, Kemenpar juga akan menghadiri ASEANTA Board Meeting yang akan dilaksanakan pada tanggal 18 Januari 2017 pukul 9.30 - 17.00 di Orchard Room, Excelsior Tower Level L, Peninsula Excelsior Hotel Singapore, melanjutkan ASEANTA Board Meeting pada tanggal 27 November 2016 di Lotte Seoul Hotel, ROK. ASEANTA Board Meeting diantaranya akan membahas Visit ASEAN@50, President ASEANTA, dan ASEANTA Excellence Awards 2017. 
Kiki juga memandang Travex ATF 2017 di Singapura merupakan tempat yang sangat potensial untuk melanjutkan program promosi Kemenpar yang sebelumnya fokus pada branding dan advertising karena merupakan pameran business to business yang memungkinkan para pelaku industri di Indonesia memperluas jejaring pasar mereka dan menawarkan paket-paket wisata Indonesia. 
"Promosi yang selama ini bertitik berat di branding dan advertising, mulai bergeser ke selling. Branding sudah dilakukan gencar di tahun pertama, Advertising digeber tahun kedua. Tahun ketiga sudah harus selling to the point.” Jelas Pitana yang juga diamini Kiki.
Seperti diketahui,, Menpar Arief Yahya menjelaskan tiga poin penting - Go Digital, Air Connectivity, dan Homestay Desa Wisata menjadi pegangan Kemenpar untuk melangkah di kuartal pertama 2017. Tiga hal itu akan diselaraskan dengan kapasitas destinasi di 3 greaters (Bali, Jakarta, Kepri) serta 10 top branding dan 10 top destinasi sebagai Bali Baru. Untuk 2017, pemerintah sudah mematok target kontribusi Pariwisata terhadap perekonomian (PDB) nasional sebesar 13%. Sementara devisa yang dihasilkan sebesar Rp 200 triliun. Penyerapan tenaga kerja dipatok 12 juta, jumlah kunjungan wisman 15 juta dan pergerakan wisnus 265 juta, serta indeks daya saing (WEF) berada di ranking 40, dari posisi saat ini di ranking 50 dunia. Menpar Arief Yahya juga memandang Travex ATF yang diselenggarakan di Singapura merupakan momentum yang paling potensial untuk menjaring lebih banyak wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia terutama wisman dari Singapura. "Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) Singapura ke Indonesia selama ini adalah yang terbesar, nomor satu dibandingkan negara-negara lain," kata Menpar. 
Kerja sama pariwisata Indonesia dengan Singapura sudah terjalin dan baru saja menghasilkan Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman Kerja Sama Bidang Pariwisata antar kedua negara yang ditantangani pada November 2016 lalu. Lingkup kerja sama MoU ini adalah promosi dan pemasaran bersama, kapal pesiar (cruise), dan MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition). “Singapura tidak hanya sebagai hub transportasi udara internasional dan pintu gerbang pariwisata, tetapi juga menjadi hub pasar MICE. Ada puluhan ribu perusahaan asing, baik dari Eropa, Amerika, Asia dan Australia yang memiliki kantor perwakilan di Singapura.” 
Menpar menghitung jumlah wisman asal Singapura ke Indonesia 2016 sekitar 1,5 juta orang. Pada 2017, Kemenpar menargetkan mampu menjaring wisman Singapura sebesar 2,275,000 wisman. Selain itu, program Cross Border Tourism yang sukses diselenggarakan di tahun 2016 juga akan diperkuat dan kembali menjadi strategi untuk menangkap peluang baru di titik-titik lintas batas dengan negara tetangga termasuk Singapura dan Malaysia. Aruk, Kab Sambas, dan Kalbar yang berbatasan dengan Malaysia serta Kepri yang meliputi Bintan, Batam, Anambas, Tanjung Balai Karimun akan terus dicarikan program festival yang bisa menghadirkan wisatawan mancanegara. Saat ini nyawa aktivitas di perbatasan adalah pegelaran musik, festival kuliner, dan festival kesenian. Ke depannya bisa berkembang ke semua bisnis yang dibutuhkan. “Akan ada lebih banyak akses yang dibangun menuju ke perbatasan, termasuk bisnis transportasi dan pengiriman cargo yang ada di dalamnya. Perbatasan tidak lagi sepi, tidak lagi dianggap sebagai daerah pinggiran. Tetapi justru menjadi wilayah terdepan di tanah air,” ungkap Arief Yahya.(*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!