"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Jumat, 13 Januari 2017

ITX “Go Digitalkan” Pelaku Bisnis Pariwisata Sumsel

 

PALEMBANG – Sedikitnya 110 pelaku industry pariwisata Palembang dan Sumatera Selatan, terlihat antusias untuk segera menjadi OTA, Online Travel Agent. Mereka serius mengikuti sosialisasi “Go Digiital Be The Best” yang digelar atas kerja bareng antara Disbudpar Provinsi Sumsel dan Kementerian Pariwisata RI. “Kami dorong semua industri pariwisata di Sumsel untuk segera bergabung ke ITX, Indonesia Travel Xchange,” sambut Irene Camelyn Sinaga, Kadisbudpar Sumsel di Ballroom Santika Hotel Palembang.

Irene meyakinkan pada semua pelaku bisnis di daerahnya, agar segera bermigrasi dari travel agent manual, ke digital. Sejak lama Irene berusaha mengajak pebisnis pariwisata itu, tapi masih dianggap “angin surga” dan ujungnya disikapi sebagai “angin lalu” saja. “Kali ini saya paksakan, harus jalan! Harus go digital, kalau tidak, kita akan tertinggal dengan daerah lain dan negara lain. Atau bahkan, kue bisnis di sector ini akan direbut dan dinikmati oleh orang lain bahkan bisa jadi Negara lain!” jelasnya.

Apa yang menjadi kegalauan Irene itu sangat beralasan. Dia membaca data yang bersumber dari TripAdvisor 2016, bahwa Travel is Online! “63% travellers di seluruh dunia, saat ini melakukan search, atau look, lalu booking dan payment secara online. Tidak lagi walk in service lagi, tidak datang ke kantor pemasaran travel agent, baru membuat planning untuk berwisata, menanyakan harga-harga, dan membayar di kasir, seperti dulu lagi. Kalau kita tidak berubah, maka orang lain yang akan masuk. Trend angka 63% itu akan terus bertumbuh,” ujar Irene.

Data lain, 50% dari penjualan online travel agent (OTA) menggukan lebih dari satu device. Bisa dengan smartphone, bisa juga dengan personal computer. Lalu, 200 orang lebih per menit, para travellers meng-upload pengalaman atau testimony mereka setelah berwisata menggunakan fasilitas yang mereka “beli.” Mereka bisa langsung interaktif, jika bagus berkomentar oke, jika buruk layanannya pun langsung dapat impact-nya. Dengan cara digital ini, services menjadi nomor satu,” jelas Irene.

Persis dengan yang disampaikan Samsriyono Nugroho, Stafsus Menpar BIdang IT yang menyebutkan bahwa 49% tour operators itu terjun bebas. Ada 24 tour operator raksasa di dunia, juga hancur, anjlok dan bahkan bankrupted. “Iya, Bangkrut. Tahun 2011-2014 mereka jatuh bangkrut, termasuk Thomas Cook, salah satu tour operator terbesar di Eropa. Penyebabnya? Orang sudah berubah, bertransaksi secara digital dan online,” jelas Sam.

Samsriyono pun menterjemahkan apa yang sering dipresentasikan Menpar Arief Yahya di berbagai momentum, bahwa saat ini sudah masuk era Digital Lifestyle. “Customers sudah berubah. Mereka lebih menggunakan digital, mobile, personal dan interactive. Dalam tourism, search and share 70% menggunakan online media. Karena itu, digital media memiliki efektivitas 4x dibandingkan dengan conventional media,” kata dia.

Stafsus Menpar Bidang Komunikasi, Muh Noer Sadono juga menambahkan, bahwa media juga sedang mengalami perubahan cepat. Media social, saat ini menjadi kekuatan yang terbukti efektif dijadikan sarana berpromosi, termasuk sector pariwisata. “Menggandeng para netizen, bloggers, creator sosmed, untuk mempromosikan destinasi dan events, akan sangat kuat mempengaruhi public. Jadikan seluruh potensi netizen sebagai endorser agar orang tertarik datang ke berbagai destinasi di Sumsel,” kata Muh Noer Sadono, yang menggunakan nama akun Don Kardono di Instagram, Facebook, Twitter, Path, Line maupun WeChat.

Don mencontohkan artis Selena Gomez, dengan 106 juta followers, atau Taylor Swift dengan 96 followers, atau Beyonce 91 juta penggemar, yang sekali posting sudah di-live oleh lebih dari 8 juta viewers, dan ratusan ribu comments. “Kalau followersnya sudah comment, atau bahkan me-repost, atau nge-share, atau me-retweet, maka level kedekatan dengan pemilik akun itu kuat. Meskipun belum tentu si pemilik mengenal secara pribadi,” kata Don Kardono.

Sementara itu Claudia Ingkiriwang, Ketua Probis Indonesia Travel Xchange (ITX) memancing para industri dengan pertanyaan: “Ada yang tahu Groupon.Com di ruangan ini? Ada yang tahu Homestay.Com? Hostelbookers.Com? Kiostix.Com? Agoda.Com? Booking.Com? Traveloka.Com?” Tiga pertanyaan terakhir itu, audience baru ngeh, mereka baru tersadar dengan Online Travel Agent, yang akan disupport oleh ITX.

“Jadi, ITX bukan OTA ya? Jangan salah paham, nanti kalau ITX itu online travel agent, kami bersaing sendiri dong dengan para industry pariwisata di sini? ITX itu bukan perusahaan yang bergerak di Pariwisata, kami jamin bahwa kami bukan pesaing Anda. ITX itu 100% perusahaan IT Solution, yang membantu mempermudah proses bisnis di sector Pariwisata ini,” kata Claudia.

ITX hanyalah mesin, atau platform yang akan mempertemukan buyers dan sellers secara online. Semua proses, dari searching, booking, payment, akan dibuat online, dan peserta yang registrasi untuk bergabung dengan ITX, tidak dipungut biaya. Alias gratis. “Yang belum punya website, akan diberikan template web-nya yang sudah commerce. Lalu akan diinstal booking system dan payment mechine, yang juga free aluas tidak berbayar!” kata Claudia.

Mereka hanya membayar success fee sebesar 2,5% dari transaksi yang berhasil melalui online yang disupport oleh ITX. Angka itu sangat kecil jika dibandingkan dengan perusahan OTA lain yang men-charge lebih besar. “Ini karena kami bertujuan untuk mendigitalisasi semua perusahaan yang bergerak di sector Pariwisata ini,” kata dia.

Sosialisasi ini seperti ini sudah dilakukan di Batam Kepri, Magelang Joglosemar, Medan Sumut, Banda Aceh NAD, Jakarta, Denpasar Bali, Lombok NTB, Labuan Bajo NTT, Surabaya, Banyuwangi dan Palembang. Hingga kini, sudah sekitar 6000 an pelaku industri yang sudah bergabung se-Indonesia untuk Go Digital Be The Best, sejak dilaunching secara online di Rakornas III 2016, 15-16 September di Econvention, Ancol, Jakarta lalu.

ITX sendiri belum dilaunching secara komersial. Tetapi systemnya sudah bisa melayani dari booking sampai payment dalam satu platform. Salah satu yang membuat menarik adalah: semuanya serba free alias tidak dipungut biaya, meskipun kalau membeli tiga hal itu, web yang commerce, booking system dan payment mechine, sudah lebih dari 400 juta.

“Semua free, karena itu manfaatkan program ini sebaik-baiknya! Silakan gabung ke ITX, Anda akan mendapatkan banyak benefit yang siap untuk go digital,” ucap Claudia Ingkiriwang.

ITX memberikan channeling bagi sellers di Indonesia, atau industri Pariwisata di tanah air, untuk bisa dijual juga melalui para OTA di atas. Mereka bisa menjadi buyers buat industri kita, ke level global, agar produk-produk pariwisata Indonesia connect dengan pasar dunia. “Itulah kekuatan ITX. Kami ingin mendigitalkan perusahaan di tanah air, yang selama ini lebih banyak yang masih bermain manual,” kata Claudia.

Bagaimana syarat masuk ITX? Bagaimana menyeleksi members-nya, agar tidak sembarang orang bisa masuk dan berbisnis di pariwisata? “Prinsipnya mudah, siapkan NPWP, TDP atau Tanda Daftar Perusahaan, berbadan hukum. Boleh PT, boleh juga CV. Kami juga harus mengedukasi, agar mereka taat dengan aturan main ini. Perseorangan juga boleh. Nanti, harus mendapatkan rekomendasi atau kurasi dari paguyuban, koperasi, asosiasi, atau lembaga yang berkompeten. Jadi tidak asal orang masuk,” kata dia.

Apa saja industri yang boleh masuk? Jawabannya, apa saja yang bergerak di bidang pariwisata, atau ada kaitannya dengan services pariwisata. Hotel, resort, villa, apartment, convention center, restoran, souvenir, rent car, theme park, café dan segala macam atraksi. Juga penyelenggara event, seperti showbiz, menjual tiket konser, pertandingan olahraga, music, pertunjukan seni budaya dan lainnya. Mereka itu tergolong supplier, penyedia jasa langsung.

Dalam momentum mengumpulkan industry wisata Palembang dan Sumsel itu, Asdep Pengembangan Pemasaran Wilayah ASEAN Rizky Handayani sekaligus mengumpulkan para pebisnis, travel agent, untuk membuat lebih banyak paket. Terutama yang mentargetkan pasar ASEAN. “Kelemahan kita adalah paketnya monoton, dan anak-anak muda yang ikut Go Digital ini akan lebih banyak meng-create paket yang lebih personal, lebih atraktif dan berbeda dari yang dulu-dulu,” kata Rizky Handayani.(*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!