"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Rabu, 18 Januari 2017

Menpar Arief Yahya Kepada 23 Calon Dubes LBBP RI: Jadi Core Economy, Menuju Destinasi Utama Dunia

 

JAKARTA – Menpar Dr Ir Arief Yahya MSc kini punya lebih banyak “tangan” untuk mempromosikan Wonderful Indonesia di mancanegara. Spirit “Indonesia Incorporated” dia jadikan tema utama dalam pembekalan buat 23 Calon Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) yang akan bertugas di 40 negara atau administrasi, Selasa, 17 Januari 2017. “Kalau kita solid, tidak ada yang bisa mengalahkan pariwisata Indonesia,” sebut Arief Yahya, pria asli Banyuwangi, Jawa Timur itu.

Mengenakan batik hijau tua, kombinasi motif merah hati, garis-garis vertical, Arief Yahya menyamakan persepsi akan Indonesia ke depan, yang menempatkan Pariwisata sebagai back bone perekonomian bangsa. “Pariwisata Indonesia memiliki banyak keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif. Pertama, 2019 Industri Pariwisata diproyeksikan menjadi penghasil devisa terbesar, USD 24 Miliar, melampaui sektor Migas, Batubara dan Minyak Kelapa Sawit. Dampak dari devisa itu langsung dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” kata Doktor yang pernah dinobatkan sebagai Marketeer of The Year 2013 oleh MarkPlus itu.

Kedua, Indonesia itu Terbaik di Regional. “Tahun 2019, Pariwisata Indonesia ditargetkan menjadi yang terbaik di kawasan regional, bahkan melampaui ASEAN. Pesaing utama kita adalah Thailand dengan devisa pariwisata lebih dari USD 40 Miliar, sedangkan negara lainnya relatif mudah dikalahkan,” jelas Arief Yahya.

Ketiga, Country Branding Wonderful Indonesia yang semula tidak masuk ranking branding di dunia, mulai tahun 2015 melesat lebih dari 100 peringkat menjadi ranking 47. Ini sudah mengalahkan country branding Truly Asia Malaysia (ranking 96) dan country branding Amazing Thailand (ranking 83). “Country branding Wonderful Indonesia ini mencerminkan Positioning dan Differentiating Pariwisata Indonesia yang semakin diperhitungkan di level dunia,” kata Arief Yahya.

Karena itu, berkali-kali Arief Yahya meminta semua pihak untuk bersatu, solid, membangun spirit “Indonesia Incorporated.” Menurutnya, negara ini hanya akan dapat memenangkan persaingan di tingkat regional dan global jika seluruh Kementerian/Lembaga bersatu padu, fokus mendukung Core Business yang telah ditetapkan Presiden RI Joko Widodo. “Maju Serentak Tentu Kita Menang,” berkali-kali Arief Yahya menyebut kata-kata sakti itu.  

Dia juga menyebutkan, Indonesia sangat berpotensi sebagai Tourism Hub Country.

Untuk menjadi Trade dan Investment Hub, akan terlalu sulit bagi Indonesia untuk mengalahkan negara lain, seperti Singapura. “Di lain pihak, Indonesia dapat dengan mudah menjadi destinasi utama pariwisata dunia, sekaligus Tourism Hub. Dengan menjadi tourism hub, yang pada prinsipnya menciptakan people-to-people relationship, maka diyakini Trade dan Investment akan ikut tumbuh dengan pesat,” paparnya.

Arief Yahya juga menjelaskan, mengapa selama ini terkesan menciptakan “rivalitas” dengan Malaysia dan Thailand. Malaysia disebut sebagai “musuh emosional” sedangkan Thailand menjadi “lawan professional.” Intinya adalah benchmark, membandingkan dengan negara lain dalam menangani Pariwisata. Juga agar berkonsentrasi dengan target juara, maka harus menciptakan lawan bertanding, agar tidak berantem sendiri.

Sebagai core economy, atau dalam korporasi sebagai core business, kata dia, itu menentukan alokasi sumber daya. Setelah ditetapkan sebagai Core Business Negara, maka alokasi sumber daya, terutama anggaran harus diprioritaskan. “Karena Pariwisata adalah penyumbang PDB, Devisa dan Lapangan Kerja yang paling mudah dan murah,” kata Arief Yahya.

Pertama, pariwisata menyumbangkan 10% PDB nasional, tertinggi di ASEAN. Pertumbuhan PDB pariwisata di atas rata-rata industri. Untuk spending USD 1 Juta, PDB 170%, dan itu tertinggi di semua industri. Kedua, soal devisa, peringkat ke-4 penyumbang devisa nasional, sebesar 9,3%. “Pertumbuhan penerimaan devisa tertinggi, yaitu 13%. Biaya marketing hanya 2% dari proyeksi devisa,” jelasnya.

Ketiga, soal devisa. Pariwisata adalah penyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan, atau 8,4%. “Lapangan kerja tumbuh 30% dalam 5 tahun, pencipta lapangan kerja termurah USD 5.000 per satu pekerjaaan,” tuturnya. (*/bersambung)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!