"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Minggu, 15 Januari 2017

Solo Gelar Grebeg Sudiro dan Festival Imlek di Pasar Gedhe

 

SOLO – Sulit terbantahkan, Solo adalah Kota Budaya. Kota kelahiran Presiden Jokowi yang kental dengan cultural value itu adalah salah satu pusat kerajaan zaman dulu. Salah satu kekuatan wisata yang berbasis budaya adalah kuliner. Tanggal 17-27 Januari 2017 nanti, bakal ada Grebeg Sudiro dan Imlek Festival yang sarat dengan aneka kuliner di sana. Dua-duanya, siap menyapa wisatawan di Kawasan Pasar Gedhe, Kota Surakarta.

“Barongsai, liong, pakaian tradisional, adat keraton, sampai kesenian kontemporer, bisa disaksikan akhir Januari 2017. Yang suka kuliner juga akan ada banyak suguhan lezat yang bisa dinikmati,” ucap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo Eny Tiyasni Susana, Sabtu (14/1).

Eny mempersilakan untuk datang langsung dan buktikan sendiri. Perpaduan budaya yang keren dan kuliner yang lezat siap digelar di sepanjang Jalan Sudiroprajan dan berhenti di depan Klenteng Tien Kok Sie, di depan Pasar Gedhe. “Kekuatan Solo sebagai Kota Pariwisata adalah karya budayanya. Dan kuliner adalah salah satu produknya. Silahkan datang dan buktikan sendiri,” pungkas wanita yang biasa mengenakan batik itu.

Dari paparannya, saat ini wajah Kota Solo sudah mulai dihias beragam ornament khas Imlek. Sejak Selasa (10/1), bola lampion merah sudah mulai menghiasi area sekitar Pasar Gede Hardjonagoro, Solo. Gapura besar yang menandai pusat perayaan tahun baru Imlek di Kota Bengawan tersebut juga telah berdiri. “Solo Imlek Festival dimulai pada 17 Januari. Nanti akan ada 5.000 lampion yang melayang di atas jalanan dari ujung Gladak hingga simpang empat Warung Pelem atau Optik Melawai. Pendar apik lampunya bisa menjadi latar belakang foto yang menarik. Silahkan posting di media sosial dengan hashtag #SoloImlekFestival2017,” ucapnya.

Ketua Panitia Bersama SIF, Sumartono Hadinoto, ikut buka suara. Dari paparannya, tak hanya kemeriahan yang akan ditampilkan. Aksi sosial dan pluralisme juga ikut ditampilkan. “Selain acara-acara tadi, pada 21 Januari kami juga menggelar donor darah yang dilanjutkan Festival Grebeg Sudiro pada 22 Januari,” terangnya.

Bagi yang belum tahu  Grebeg Sudiro, ini adalah perayaan perpaduan atraksi budaya dari masyarakat Tionghoa-Jawa, yang ditandai arak-arakan gunungan. Setiap tahunnya agenda ini selalu dibanjiri ribuan orang. Semua berbaur menjadi satu menikmati dan merayakan even yang mempertontonkan entitas dua budaya, Jawa dan Tionghoa. “Selain lampion, patung 12 zodiac Tionghoa tetap dihadirkan di sepanjang Koridor Jenderal Sudirman, ditambah enam lampion ayam sesuai shio tahun ini yakni ayam api, kemudian patung panda dan dewa uang,” kata dia.

Seluruh perayaan tersebut bakal ditutup dengan lampion terbang dan pesta kembang api pada 27 Januari malam. Saat acara berlangsung, panitia berencana menjadikan area Pasar Gede sebagai kawasan car free night (CFN) berkoordinasi dengan Pemkot Solo.

“Kami bekerja sama dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), dan Indonesia Marketing Assosiation (IMA) membuka tiga paket promosi dalam rangka SIF. Termasuk pre-event dan pasca-event. Kami berharap acara ini terus berlangsung sebagai akulturasi budaya, pluralisme, dan toleransi yang luar biasa,” kata Sumartono.

Menpar Arief Yahya menyebut Solo adalah salah satu kota dengan calender of events yang lengkap dalam satu tahun. Hampir setiap Minggu, selama 52 Minggu dalam setahun, Solo sudah penuh dengan berbagai event. “Daya tarik eventnya cukup kuat baik untuk market wisatawan nusantara maupun mancanegara,” ungkap Menteri Pariwisata Arief Yahya, di Jakarta. (*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!