"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Minggu, 05 Februari 2017

Angklung Bambu Guncang One World Festival di Osaka

 

OSAKA – Melihat orang Indonesia bermain alat musik tradisional seperti Arumba dengan komposisi, angklung, bass bambu ataupun gambang sudah merupakan hal biasa. Namun apa jadinya kalau yang bermain angklung Arumba yang khas Indonesia adalah orang asing? Orang asli Osaka, Jepang?
Nah, pemandangan seperti itu bisa disaksikan di One World Festival di Osaka, Jepang. Di hadapan ribuan orang yang memadati Kansai TV Ogimachi Square, tujuh wanita berkebaya mampu mempertunjukkan aksi keren. Dari Bengawan Solo, Rayuan Pulau Kelapa, Indonesia Pusaka, Jinggle Disneyland, hingga lagu-lagu Jepang, dibawakan dengan sangat
baik.Yang mencengangkan, yakni para pemainnya. Mereka bukan orang Indonesia. Yang tampil, justru orang Osaka tulen. Semuanya Jepang tulen!
“Nama grupnya Pasir Bintang. Mereka sering kami libatkan dalam tiap event yang berbau Indonesia,” terang Konjen Konjen RI Osaka Wisnu Edi Pratignyo, Sabtu (4/2).
Menggandeng orang Jepang bermain angklung Arumba khas Indonesia di Osaka? Di markasnya Kansai TV yang notabene merupakan salah satu televisi besar di Jepang? Bujetnya pasti mahal. Anggaran yang
disiapkan pasti tidak sedikit. Apalagi, semua alat musik bambunya dibawa dari Indonesia. “Justru biayanya sangat irit. Semua alat
musiknya mereka sendiri yang bawa dari Indonesia. KJRI hanya memberikan transport dari rumah masing-masing di Osaka ke Kansai TV Ogimachi Square. Kostum juga mereka sendiri yang menyiapkan. Untuk Indonesia, mereka memang nggak perhitungan. Ini yang bikin saya salut,” tambah Konjen Wisnu.
Perkenalan grup Pasir Bintang dengan angklung Arumba ini ternyata sudah dimulai sejak 1996. Saat itu, founder angklung Arumba, Fujino Takami, yang belajar langsung ke Budi Rahma, seorang seniman angklung di Indonesia. Belajarnya pun di Indonesia. Siapa sangka, perkenalannya dengan angklung berlanjut hingga kini. Tak sekadar memainkan, Fujino Takami juga berusaha menjaga kelestarian alat musik multitonal khas
Indonesia dari Negeri Sakura.
”Sejak mendengar pertama kali alunan angklung di Indonesia saya langsung jatuh cinta. Angklung adalah alat musik ini yang menyatukan banyak orang. Suaranya juga sangat indah dan merepresentasikan
Indonesia,” terang founder Pasir Bintang, Fujino Takami.
Berlebihan? Rasanya tidak. Bukti nyatanya sudah pernah diukir pada 9 Juli 2011. Saat itu, Indonesia berhasil menggalang pembuatan rekor dunia "Guinness World Records" permainan angklung dengan peserta
multibangsa terbanyak. Ada lebih dari 5.000 orang ikut memainkan lagu "We Are the World" di taman National Mall - Washington Monument, Amerika Serikat.
Pada peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika (KAA) 2015, rekor dunia tadi kembali dipecahkan di Bandung. Di hadapan sejumlah pemimpjn dunia, rekor dunia angklung dimainkan 20.000 orang di Stadion Siliwangi, Bandung). Pada acara "Angklung for the World" tersebut dibawakan berbagai genre lagu dari mulai lagu kebangsaan hingga lagu Barat. “Angklung itu alat musik tradisional yang sangat fleksibel karena dapat mengikuti perkembangan musik dunia. Dari lagu Indonesia, barat, sampai Jepang bisa dimainkan dengan angklung,” tambah ibu dua
anak itu.
Karenanya sejak belajar dari Budi Rahma, seorang seniman angklung dari Indonesia pada 1996 silam. alumnus Osaka Kyoiku University tak pernah berhenti mengagumi alat musik dari bambu itu. Bahkan dia tak segan membawa Arumba (Alunan Rumpun Bambu, red), dari Indonesia ke Osaka. Semua dilakukan dengan biaya sendiri. Angklung, gambang, dan bass
lodong dari Indonesia itu kini selalu dibawa Fujino saat tampil di berbagai penjuru Jepang.  
Cara masuk Wonderful Indonesia di pasar Jepang itu menggunakan pendekatan budaya. Itulah yang oleh Menpar Arief Yahya disebut dengan diplomasi budaya. Soft campaigne pariwisata Indonesia itu hanyalah cara mengetuk pintu Jepang agar semakin besar yang masuk Indonesia 2017 ini. "Kami selalu menggunakan convergent media, ada upline ada below the line. Berbagai media untuk satu tujuan, mendatangkan wisman," jelasnya. (*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!