"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Rabu, 22 Februari 2017

Artis-artis Korea Promosikan Hutan Sumatera Melalui TV Show

 

JAKARTA – Inilah cara cerdas mempromosikan destinasi wisata adventure Indonesia ke Korea Selatan. Setelah sukses bermain film di Manado, artis-artis kenamaan Negeri Ginseng itu bakal mengulang heboh di Hutan Sumatera. “Kami senang, semakin banyak film Korea yang menggunakan setting tempat di Indonesia. Semoga filmnya ngeboom di sana, sehingga semakin banyak orang Korsel yang penasaran dan berwisata ke Indonesia,” kata Arief Yahya, Menpar RI di Jakarta.

Eksotisme dan Keindahan alam Indonesia memang memikat hati industry pertelevisian Korea Selatan. Tim produksi acara reality show Law of the Jungle yang ditayangkan stasiun televisi SBS Korsel memutuskan untuk syuting di Pulau Sumatera untuk beberapa episode.

"Ini adalah kesekian kalinya Law of The Jungle mengambil lokasi syuting di Tanah Air. Sebelumnya, 2014 syuting di Borneo Kalimantan, lalu Sulawesi Utara 2016 untuk beberapa episode. Di Sumatera mereka akan mengambil lokasi di salah satu hutan yang ada di Sumatera Utara dan Sumatera Barat," ungkap Asisten Deputi Pengembangan Pasar Asia Pasifik Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Vinsensius Jemadu.

Law of the Jungle edisi Sumatera kabarnya akan dibintangi oleh Sungjae dan Peniel dari Born to Beat (BTOB), Shin Won Ho Cross Gene, aktris Jo Bo Ah serta aktor Kwak Si Yang. Syuting di Sumatera akan dilakukan di Februari ini. Produksi acara yang difilmkan di Sulawesi Utara sudah ditayangkan pada bulan November 2016 lalu. Peserta reality show Law of the Jungle pada waktu itu berasal dari kelompok K-Pop Infinite Sungyeol, WJSN Sungso, BTS Jin serta aktor Kim Min Seok dan Gong Myung.

Otoritas lokal Indonesia menyambut syuting seperti itu bisa membantu meningkatkan pariwisata di daerah atau membantu mempromosikan pantai yang indah di Sulawesi Utara. "Memang obyek wisata yang bisa kita tawarkan tidak hanya wisata liburan saja. Karena banyak juga wisatawan mancanegara yang senang akan kegiatan petualang yang menantang. Dan hutan atau pegunungan yang ada di Indonesia cocok buat mereka ini," ujar Vinsen.

Menurut dia, Kemenpar bakal memboyong sederet artis di bawah bendera Seoul Broadcasting System untuk kembali syuting di tiga destinasi unggulan Indonesia lainnya. Ketiga destinasi wisata itu Danau Toba (Sumatera Utara), Pulau Komodo (Nusa Tenggara Timur), dan Mandeh (Sumatera Barat) dalam waktu dekat ini.

“Kami sudah melakukan pembicaraan dengan pihak Seoul Broadcasting System agar syuting sinetron maupun reality show-nya. Semoga bisa terealisasi dan berdampak hebat untuk ketiga daerah tersebut dan pariwisata Indonesia. Dan kami sudah sukses memulainya dengan Law of the Jungle ini," ungkap VJ.

Law of the Jungle sendiri merupakan reality show yang membawa sejumlah selebritis Korsel berkunjung ke pedalaman. Mereka ditantang untuk bertahan hidup di dalam hutan dan mendapat pengalaman bersosialisasi dengan penduduk setempat. Law of The Jungle pertama kali tayang Oktober 2011 silam. Acara ini sudah mengunjungi pedalaman di berbagai negara seperti Madagaskar, Amazon & Galapagos, Savanna, dan banyak lainnya.

Yang menarik, bukan hanya melihat keteguhan para selebritis dalam mencoba setiap tantangan, tapi juga mengetahui sedikit tentang keberadaan masyarakat yang hidup di sana. Di episode Borneo Kalimantan misalnya, di sini terdapat Suku Bajau, atau biasa disebut kaum gipsy laut, masyarakat yang tinggal di rumah-rumah kayu di atas permukaan air laut. Suku Bajau Laut ada suku asli Filipina yang beberapa penduduknya menyebar di tiga negara Indonesia, Malaysia dan Filipina.

Dengan syuting yang melibatkan artis-artis Korea ini, Vincent optimis akan mempengaruhi masyarakat Korea untuk turut mengunjungi Indonesia. Tidak hanya hutan atau alam yang digunakan lokasi syuting reality show Law of the Jungle saja, melainkan destinasi-destinasi wisata lainnya yang ada di Indonesia.

"Tren wisatawan Korsel sebenarnya peluang yang sangat besar bagi Indonesia, oleh karena itu Kemenpar akan terus mensusun strategi atau kiat untuk meningkatkan wisman Korsel ke Indonesia," pungkas VJ.

Berdasarkan data Kemenpar, pasar utama wisman di Indonesia didominasi oleh 10 negara dengan kontribusi Asean mencapai 39,76%. Sisanya diikuti oleh China, Jepang, Korsel, dan Amerika Serikat. Korsel selama ini termasuk salah satu dari 10 kontributor wisman terbesar ke Indonesia. Jumlah kunjungan wisatawan Korsel ke Indonesia pada 2015 meningkat menjadi 338.671 orang atau naik 3% dibanding 2014 yang sebesar 328.122 orang. Sedangkan sepanjang Januari-September 2016, jumlah wisman dari Korsel sebesar 263.265.(*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!