"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Rabu, 01 Februari 2017

Bangun Jembatan Udara, Buka Mata dengan Pariwisata

 

Tiga Ujung Tombak Program Kemenpar, Membangun “Sharing Economy” (3)
 
JAKARTA – Satu program prioritas Menpar Dr Ir Arief Yahya MSc yang sedang getol untuk pengembangan destinasi wisata adalah membangun akses. Selain memperbaiki atraksi dan mendorong private sector masuk ke amenitas. Di pembangunan akses ini, bertemu dengan 3A lagi, yakni airports, airlines, dan authority. “Itulah salah satu kunci sukses membangun destinasi pariwisata di daerah,” jelas Menpar Arief Yahya, di Jakarta. 
Bagaimana sebuah kawasan wisata bisa dikunjungi travellers jika akses menuju ke sana sangat sulit? Sedangkan, wisatawan mancanegara itu 75% terbang ke bandara terdekat, dan dari tempat landing tidak boleh lebih dari 2,5 jam jalan darat atau laut. “Maka direct flight menjadi penting. Dan koneksi antar daerah dengan bandara internasional juga vital,” jelas Arief Yahya. 
Wisman itu 40% turun ke Bali, 30% ke Soekarno Hatta Jakarta, dan 20% melalui Kepri. Mereka yang turun ke Jakarta dan Bali, sebagian besar dengan pesawat dari negaranya. Sedangkan di Kepri –Batam, Bintan, Anambas, Tanjung Balai Karimun—lebih didominasi dari penyeberangan dari Singapore. “Dari situ sudah kelihatan, 75% via udara, Karena itu kita harus memikirkan proyeksi ke depan, dengan target double, maka air connectivity-nya juga harus double dari sekarang,” ucap Mantan Dirut PT Telkom ini. 
Dia menjelaskan, saat ini 2016, seats capacity of international flights sebesar 19,5 juta, dan hanya efektif untuk mengangkut 12 juta wisman saja. Tahun 2017, dengan target fantastis 15 juta, sudah harus tersedia tambahan 4 juta seats atau tempat duduk lagi? “Untuk bisa menampung 20 juta wisman lagi di tahun 2019, diperlukan 30 juta seats atau tambahan 10,5 juta seats lagi. Karena itu, kami jadikan air connectivity ini sebagai critical success factor! Inilah yang sekarang kami urus satu per satu,” aku Marketeer of The Year 2013 ini. 
Itu juga yang menjadi alasan mengapa
Menpar Arief Yahya rajin berkunjung dan mencari solusi ke industry penerbangan, seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Air Asia, Sriwijaya Air, Tiger Air, Scoot Air, Jeju Air, Jetstar, dan lainnya. Juga sering berdialog dengan Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II, untuk mencari solusi bersama, bagaimana menambah slots dan seats. “Termasuk paling sering berkoordinasi dengan Pak Budi Karya, Menhub. Karena, di sanalah pemegang regulasi,” jelasnya. 
Itu semua menjadi concern Menpar Arief Yahya di awal tahun 2017 ini. Di balik air connectivity itu ada poin penting yang jarang diketahui public. Yakni, sharing economy! “Semakin terkoneksi dengan angkutan udara, semakin banyak wisatawan datang, semakin hidup kota-kota di banyak daerah di tanah air. Karena mereka mengangkut traveller, buyers, investors, dan semua segmen yang berpotensi mendongkrak ekonomi lokal,” kata dia. 
Ini sejakan dengan pernyataan Presiden Jokowi di depan jajarannya agar kemakmuran dapat diwujudkan secara merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Connectivity ini juga akan menaikkan peran daerah dalam menyambut bisnis pariwisata yang akan semakin hidup. 
Daerah-daerah berpotensi wisata, itu hampir semuanya problem dengan air connectivity. Dia mencontohkan Danau Toba, yang selama ini susah diakses, kecuali via Kuala Namu Medan. Perjalanan darat dari Kuala Namu ke Parapat Danau Toba masih 5 jam, dan itu membuat wisatawan boring di jalan. Akhirnya, tidak happy di tempat tujuan. “Sejak Bandara Silangit dibuka, sekarang sudah 15 ribu penumpang setiap bulan, dari tidak ada sama sekali?” jelas Arief Yahya. 
Ketika akses udara dibuka, maka arus ekonomi juga akan berkembang di sana. Investasi masuk, infrastruktur diperbaiki, ditata ulang, diatur dengan lebih bagus. Masyarakat local, sudah pasti akan mendapatkan manfaat ini. “Dan, mereka yang punya bisnis terkait dengan Pariwisata, kami sudah siapkan Digital Market Place, ITX Indonesia Travel Xchange untuk menempatkan paket-paket jualan mereka ke pasar global,” katanya. 
Karena itu, ketiga prioritas Pariwisata itu, go digital, homestay desa wisata, dan air connectivity itu berjalan seiring. Satu sama lain saling terkoneksi. “Inilah yang sering saya sebut Indonesia Incorporated.  Negara ini hanya akan dapat memenangkan persaingan di tingkat regional dan global apabila seluruh Kementerian/Lembaga yang ada bersatu padu untuk fokus mendukung Core Business yang telah ditetapkan. Maju Serentak Tentu Kita Menang.
Indonesia sebagai Tourism Hub Country,” jelas Arief Yahya. 
“Ingat, untuk Indonesia,
Pariwisata adalah
penyumbang PDB, Devisa dan Lapangan Kerja
yang paling mudah dan murah. Pariwisata menyumbangkan 10% PDB nasional, dan itu tertinggi di ASEAN. Pertumbuhan PDB pariwisata di atas rata-rata industri. Spending USD 1 Juta menaikkan PDB 170%, tertinggi di industri.,” kata Arief Yahya. 
Lalu soal devisa, saat ini pariwisata masih berada di peringkat ke-4 penyumbang devisa nasional, sebesar 9,3%.
Pertumbuhan penerimaan devisa tertinggi, yaitu 13%. Dengan biaya marketing rendah hanya 2% dari proyeksi devisa. Di tenaga kerja, Pariwisata penyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan, atau 8,4%.
Lapangan kerja tumbuh 30% dalam 5 tahun. “Pariwisata juga sustainable, berkelanjutan, karena semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan,” ucap Arief Yahya. 
Jebolah ITB Bandung, Surrey University Inggris dan Program Doktoral Unpad Bandung ini menjelaskan Country Branding Wonderful Indonesia yang semula tidak masuk ranking branding di dunia, tahun 2015 melesat lebih dari 100 peringkat menjadi ranking 47. Pamor Indornsia unggul di atas Truly Asia Malaysia (ranking 96) dan Amazing Thailand (ranking 83). Country branding Wonderful Indonesia itu mencerminkan Positioning dan Differentiating Pariwisata Indonesia. (*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!