"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Senin, 06 Februari 2017

Menpar Arief Yahya Luncurkan Banyuwangi Calender of Events 2017

 

Banyuwangi Pantas Dijuluki The Best Festival City

JAKARTA – Malam peluncuran Banyuwangi Calender of Event 2017, Jumat malam, 3 Februari 2017 ini terasa istimewa. Bukan lantaran Menpar Dr Ir Arief Yahya MSc yang melaunching agenda kegiatan setahun itu adalah putra daerah, alias asli Banyuwangi. Juga bukan karena dilakukan di Balairung, Gedung Sapta Pesona, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakpus.

Ada hal baru yang cukup bermakna! Menpar Arief Yahya memberi julukan buat kota tempat dia dilahirkan itu, yakni: “Banyuwangi, The Best Festival City!” Penghargaan atas reputasi Banyuwangi yang konsisten menjaga selalu ada event setiap minggu, bahkan lebih dari satu. Sepanjang tahun 2017 ini bakal ditabuh 72 genderang events. Padahal, setahun itu hanya 52 minggu.

Jumlah 72 events itu terhitung yang paling banyak, paling sering dan paling konsisten di tanah air sejak 2012. “Sukses Banyuwangi! Ini pasti berawal dari CEO commitmen! Keseriusan kepala daerahnya! Jempol buat Bupati Banywangi Abdullah Azwar Anas!” sebut menpar yang mantan Dirut PT Telkom itu saat melaunching Banyuwangi Calender of Events 2017 itu.

Pointnya utamanya, Arief Yahya ingin memberikan satu contoh yang nyata bagaimana mentransformasi daerah menjadi pariwisata. Banyuwangi adalah contoh yang perfect, dan bisa dipelajari. Dia sukses meyakinkan masyarakat dan semua stakeholder, untuk bermetamorfosis dari core business atau portfolio daerahnya. Dari agriculture yang bertumpu pada pertanian ke sector pariwisata yang mengedepankan creative industry.

Pointnya, kata Arief Yahya, semua daerah bisa melakukannya, asal CEO-nya serius, dan bersungguh-sungguh. “Ingat, tugas utama seorang pemimpin itu dua hal. Menentukan arah dan mengalokasikan sumber daya. Baik sumber daya manusia maupun budgetingnya. Silakan bertanya pada diri sendiri, sudah betulkah pilihan portofolio bisnis untuk daerah Anda?” tanyanya. 

Sudahkah Pariwisata dijadikan core business bagi daerah Anda? ---Sekedar info, Presiden Joko Widodo mengisyaratkan bahwa pariwisata akan menjadi core economy Indonesia--. Jika sudah memutuskan untuk pariwisata jadi andalan, pertanyaan berikutnya, sudahkah Kadispar-nya ditunjuk orang terbaik yang punya kompetensi? Lalu, sudahkan dinas-dinas yang lain mensupport dispar-nya? Dan, terakhir, sudahkah keseriusan itu tercermin dalam postur APBD? Budget pariwisatanya seberapa signifikan? 

“Terima kasih Banyuwangi, sudah memberi best practice, untuk memudahkan daerah lain belajar membangun portofolio bisnis di pariwisata. Saya yakin, ketika mengawalinya dulu juga tidak mudah. Tetapi, ketika semakin lama semakin terbukti, dan secara ekonomi bisa dirasakan masyarakat, menyebar sampai ke daerah-daerah, maka mereka pun mensupport kebijakan kepariwisataan itu,” jelas Arief Yahya.

Banyuwangi adalah kebanggaan pariwisata. Daerah yang bisa dijadikan akademi, tempat belajar, bagaimana pariwisata menjadi generator pembangkit ekonomi masyarakat yang sustainable. Dari angka-angka, gini ratio turun, pertumbuhan ekonomi naik, pengangguran turun drastic, investasi naik, perputaran uang menanjak, dan merata, karena tumbuh bersama.

Arief Yahya dan Bupati Azwar Anas, di malam peluncuran itu mengenakan baju khas Banyuwangi, warna hitam-hitamm dengan udeng atau ikat kepala Jawa Timuran. Beberapa pejabat Kemenpar juga hadir, seperti Sesmenpar Ukus Kuswara, Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuty, Ketua Pokja Percepatan 10 Top Destinasi Hiramsyah Sambudy Thaib, dan pejabat dari Kabupaten Banyuwangi.

Menpar Arief Yahya juga mengapresiasi diluncurkannya Banyuwangi Festival 2017 itu. Banyuwangi Festival (B-Fest) masuk dalam kalender event pariwisata nasional yang tahun ini menyiapkan lebih dari 100 kegiatan festival di berbagai daerah di tanah air. B-Fest juga sebagai atraksi pemikat untuk 15 juta wisman dan menggerakkan 265 wisnus tahun ini. 

B-Fest sendiri digelar sejak 2012 dan gencar dipromosikan di media digital. Ini yang  menjadikan Banyuwangi menjadi destinasi paling populer di tanah air, sehingga trend kunjungan wisman dan wisnus ke daerah ini terus meningkat. “Sampai November 2016 kunjungan wisman ke Banyuwangi mencapai 75 ribu sekitar 30% mengunjungi Gunung Ijen, sedangkan wisnus sebanyak 2,7 juta atau jauh melampaui target yang ditetapkan. Keberhasilan ini antara lain karena strategi menggunakan digital tourism,” kata Arief Yahya.

Kunjungan wisatawan ke Banyuwangi juga karena ditunjang dengan aksesibilitas transportasi udara (selain transportasi lewat darat bus dan kereta api  maupun melalui jalur laut) yang terus membaik. “Sejak ada penerbangan langsung dari Surabaya – Banyuwangi melalui Bandara Blimbingsari (PP) dan Denpasar – Banyuwangi PP pada 2014, kunjungan wisman dan wisnus ke Banyuwangi melonjak tajam,” kata Arief Yahya.

Kunci sukses pariwisata Banyuwangi, salah satunya karena berhasil menerapkan digital tourism, konektivitas udara, menyusul homestay (pondok wisata), yang ketiganya menjadi concern Kemenpar 2017 ini. “Ketiganya merupakan program prioritas Kemenpar,” ungkapnya.   

Bupati Banyuwangi Abudllah Azwar Anas menyebut, penyelenggaraan B-Fest tidak hanya untuk mempromosikan pariwisata, namun juga untuk memaksimalkan potensi daerah dan memberikan semangat ke masyarakat untuk bersama-sama membangun daerah serta sebagai wadah dalam menampung potensi kreativitas anak muda. “B-Fest kami hadirkan tiap tahun ibarat rangkuman bagi segenap potensi Banyuwangi, mulai seni dan budaya, kekayaan alam, dan kreativitas rakyat. Termasuk event dan kreasi baru juga akan kami sajikan. Tahun ini bakal lebih kaya kandungan budaya dan potensi kreativitas masyarakat," kata Azwar Anas.

Dari 72 gelaran event B-Fest 2017 akan disajikan event besar yang telah menjadi ikon daerah seperti Internasional Tour de Banyuwangi Ijen (27-30 September 2017), Banyuwangi Ethno Carnival (11 November 2017), Festival Gandrung Sewu (8 Oktober 2017), Banyuwangi Beach Jazz Festival (2 September 2017), dan Jazz Ijen (6-7 Oktober 2017), selain event anyar yang akan menjadi magnet baru antara lain; Banyuwangi Sail Yacht Festival (15 September 2017) dan Festival Bambu (12-13 Mei 2017).

Azwar Anas menjelaskan, mengawali kegiatan telah digelar Festival Sedekah Oksigen dan Festival Jeding Rijig (toilet bersih) yang berlangsung di Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi pada 25 Januari 2017 yang lalu, "Tahun ini kami juga menggelar event baru  Festival Sastra (26 -30 April 2017) dan Festival Teknologi Inovatif (19-22 Juli 2017). Tujuannya tak lain untuk merangsang minat anak muda pada sastra dan inovasi teknologi. Kalau difestivalkan, tumbuh perhatian pada dua bidang tersebut,"  kata  Anas.

Azwar Anas mengatakan, B-Fest 2017 kali ini akan menjadi ajang istimewa bagi industri fesyen daerah karena ada 5 event untuk memamerkan potensi desainer daerah  mulai dari ajang Indonesia Fashion Week (4 Februari 2017), Green & Recycle Fashion Week (25 Maret 2017), Kebaya Festival (22 April 2017), Banyuwangi Batik Festival (29 Juli 2017), dan Banyuwangi Fashion Festival (14 Oktober 2017). “Kami ingin para pelaku industri fesyen Banyuwangi semakin maju, mampu meningkatkan kualitas produknya sekaligus memperluas jangkauan pasarnya,” kata  Anas.

B-Fest 2017 juga makin semarak dengan hadirnya event-event baru yang menjadi wadah bagi kreativitas anak muda dan mendorong sektor ekonomi kreatif.  Seperti Festival Video Kreatif (26 Juli 2017) yang menampilkan potensi tiap desa dan Festival Dandang Sewu (4-5 Agustus 2017) yang menyajikan kreasi di sentra produksi alat masak. “Kami ingin Banyuwangi Festival menjadi wadah bagi pemberdayaan anak muda dan ekonomi masyarakat,” cetusnya.

Sejumlah tradisi asli Banyuwangi juga difestivalkan antara lain Barong Ider Bumi (26 Juni 2017), Seblang (30 Juni & 5 September 2017), Tumpeng Sewu (24 Agustus 2017), Kebo-keboan (14 September & 1 Oktober 2017), hingga Petik Laut (4 & 23 Oktober 2017). ”Kami juga menggelar Agro Expo (13-20 Mei 2017), Festival Durian (20 Mei 2017) dan Fish Market (3 Oktober 2017) untuk menguatkan dan mempromosikan produk pertanian serta perikanan. Misalnya, bakal ditampilkan durian merah yang menjadi buah khas Banyuwangi,” ujar Anas.  Selain itu festival Barong Ider Bumi (26 Juni 2017), Seblang (30 Juni & 5 September 2017), Tumpeng Sewu (24 Agustus 2017), Kebo-keboan (14 September & 1 Oktober 2017), hingga Petik Laut (4 & 23 Oktober 2017).

”Kami juga menggelar Agro Expo (13-20 Mei 2017), Festival Durian (20 Mei 2017) dan Fish Market (3 Oktober 2017) untuk menguatkan dan mempromosikan produk pertanian serta perikanan. Misalnya, bakal ditampilkan durian merah yang menjadi buah khas Banyuwangi,” ujar Anas, yang oleh Menpar Arief Yahya disebutkan bahwa sensasi pariwisata atas pertanian dan perkebunan itu jauh lebih berharga, dan mahal dibandingkan dengan sekedar pertanian saja.

Festival Kuliner? Ini salah salah satu kelebihan Banyuwangi. Tema yang diangkat adalah ‘pecel pithik’ salah satu kuliner khas masyarakat Suku Osing Banyuwangi. Pithik itu artinya ayam, sama dengan bahasa Jawa. Pecel Pithik adalah pecel dengan lauk ayam. Ini juga diharapkan makin dikenal wisatawan saat bertamasya rasa di depot-depot Banyuwangi. 

Sport tourism, andalannya adalah International Tour de Banyuwangi Ijen (27-30 September 2017) juga  ada Banyuwangi International Ijen Green Run (23 Juli 2017), Banyuwangi International BMX (22-23 April 2017)  dan Kite and Wind Surfing Competition di Pulau Tabuhan (26-27 Agustus 2017). (*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!