"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Selasa, 21 Februari 2017

Menpar Arief Yahya Puji Keseriusan Menhub Budi Karya Bangun Akses Udara

 

JAKARTA – Menpar Arief Yahya lagi-lagi memuji keseriusan dan komitmen Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Baru sehari membuka akses Wakatobi di Bandara Matahora, Wangi-Wangi bersama direksi Garuda Indonesia dan Perusahaan Feri Indonesia ASDP, Budi Karya hadir menunjukkan supportnya pada Kemenpar. Senin, 20 Februari 2017, Mantan Dirut PT Angkasa Pura II itu menjadi keynote speaker

Dalam Rakor Lintas Sektor Program Transport-Toursim Stimulus Package di Balairung Soesilo Sudarman, Gedung Kementerian Pariwisata.

“Terima kasih Pak BKS (Baca: Budi Karya Sumadi, Menhub, red). Saya merasa punya sahabat, bukan hanya secara personal, tetapi juga dalam membangun kinerja kepariwisataan di pemerintahan Presiden Joko Widodo. Saya terharu dan tersanjung mendengar langsung, bahwa target 15 juta wisman Kemenpar sama dengan target Kemehub untuk menyediakan aksesibilitasnya! Luar biasa,” aku Menpar Arief Yahya di Jakarta.

Target wisman 2017 dengan 15 juta itu, menurut Arief Yahya, berarti seat capacity atau jumlah tempat duduk penerbangan yang ke tanah air masih minus 4 juta. Kapasitas sekarang, hanya cukup untuk 12 juta tahun 2016. Masih ada kekurangan kursi 4 juta, yang 75%-nya atau 3 jutanya harus dipenuhi dari air connectivity. Karena 75% wisman masuk ke tanah air dengan menumpang pesawat. Sisanya, dengan penyeberangan ferry, dan pos lintas batas atau crossborder.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pun menjanjikan, soal kekurangan seats itu sudah masuk dalam planning-nya. “Saya akan membantu memberikan kemudahan akses, kenyamanan dan keamanan,” jelas Menhub Budi Karya.

Di 2017 ini, Menhub Budi Karya Sumadi memang makin tune in dengan Menpar Arief Yahya. Rumus 3A yang dipopulerkan dengan Akses, Atraksi, Amenitas oleh Arief Yahya itu langsung direspon Menhub. Spiritnya sama, Indonesia Incorporated. Dia ingin memperkuat konektivitas udara untuk memperkuat pariwisata menemukan targetnya.

Kebetulan, aksesibilitas udara adalah PR pertama yang ingin dituntaskan Menpar Arief Yahya di 2017, selain Go Digital dan Homestay Desa Wisata. Sebagai Negara kepulauan, jembatan udara memang paling krusial. Apalagi, jarak antardestinasi di Indonesia itu lumayan jauh. Sehingga kadang banyak keluhan, biaya transportasi Jakarta-Manado, Jakarta-Bali, Jakarta-Lombok, Jakarta-Labuan Bajo, Jakarta-Ambon, Jakarta-Raja Ampat sering kali lebih mahal dari Jakarta-Singapore, Jakarta-Kuala Lumpur, atau bahkan Jakarta-Bangkok.

Problem lagi, yang masuk ke Bali atau Jakarta itu banyak yang tidak terbang langsung, melainkan transit di Singapore, Kuala Lumpur, Bangkok, dan lainnya. “Ini sedang dibenahi. Kami sudah mengambangkan sejumlah bandara untuk mendukung pariwisata misalnya Bandara H AS. Hanandjoeddin – Tanjung Pandan, Belitung, yang telah menjadi bandara internasional. Setelah itu pengembangan Bandar Udara Sibisa - Parapat dalam rangka mendukung kunjungan wisatawan ke Danau Toba. Ada juga Bandara Internasional Yogyakarta Baru yang akan segera dimulai pembangunannya,” tambah Menhub.

Gerak cepat Menhub juga terlihat di Bandara Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah. Pada 2018 ini, bandara di Jawa Tengah itu sudah dinyatakan siap beroperasi. “Bandara Supadio Pontianak juga siap diresmikan tahun ini dan Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya di akhir tahun ini,” ucapnya.

Setelah itu, ada Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin yang akan selesai pada 2018, pengembangan Bandara Abdul Saleh Malang dalam rangka mendukung kunjungan wisatawan ke Bromo-Tengger-Semeru, serta pengembangan Bandara Pitu Morotai dalam rangka mendukung kunjungan wisatawan ke Morotai. “Konektivitas udara ke pasar-pasar utama wisman harus terbuka. Dan itu bentuk rillnya,” terang Menhub.

Yang membuat Mehub happy, pengembangan sejumlah bandara tadi tidak dikerjakan sendirian. Semangat Indonesia Incorporated jadi panglimanya. Dalam pengembangan bandara, sejumlah pemerintah daerah seperti Banyuwangi, Papua, dan Jawa Barat. “Itu sangat membantu karena dana Kementerian Perhubungan yang terbatas dapat digunakan di pembangunan lainnya,” ucap Menhub Budi Karya.

Lantas mengapa bandara di kantong-kantong pasar utama wisman harus dikembangkan? Di-upgrade fasilitasnya? Dibuat nyaman dengan standar global? “Karena akses adalah satu faktor krusial penunjang pariwisata. Panorama di destinasi unggulan yang begitu indah, tak ada artinya jika para wisman sulit datang ke sana,” beber Menhub.

Dan kebetulan, tren jumlah penumpang udara terus meningkat. Di 2016 saja, jumlahnya sudah mencapai 89,3 juta untuk domestik dan 23,4 juta untuk internasional. “Saya minta pemerintah daerah bersama seluruh stakeholder terkait untuk berkomunikasi dengan baik agar dapat memberikan level of service yang baik. Di awal tahun 2019, semua bandara diharapkan sudah selesai dan semoga tidak ada lagi kemacetan,” jelas Menhub.

Dengan peningkatan jumlah penumpang tadi, kerjasama dengan airlines pun diperlukan. Dan Menhub juga siap mendukungnya dengan memberikan penawaran slot ke maskapai. Caranya, dengan memberikan arahan kepada PT Angkasa Pura untuk memberikan stimulus kepada maskapai asing yang baru melayani penerbangan ke Indonesia dengan memberikan landing fee yang gratis. “Itgu sudah dilakukan tapi masih kurang menarik. Berarti apa yang kurang menarik? Kotanya atau paket wisatanya? Itu yang harus dicari,” kata Menhub.

Bagaimana dengan bandara besar seperti Soekarno Hatta? Pendekatannya ternyata lebih dahsyat lagi. Dengan 2 runway saat ini, Soekarno Hatta mampu melayani 86 slot dalam 1 jam.  Dan kuoata itu dinilai belum cukup. Masih akan ditgambah lagi. Setelah pembangunan runway, akan ada 3 runway di bandara tersebut sehingga dapat melayani 110 slot. “Ini ruang yang besar agar maskapai asing dapat masuk ke Jakarta,” jelas Menhub. (*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!