"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Kamis, 23 Februari 2017

Punya 99 Homestay, Destinasi Belitung Makin Sadar Wisata

 

JAKARTA – Komitmen Menpar Arief Yahya untuk membina masyarakat agar sadar wisata, terus dilakukan. Bukan hanya infrastruktur fisik yang digarap, tetapi soft skill masyarakat, keramah tamahan, culture menerima tamu, kebersihan, kerapian, kesehatan lingkungan juga terus disentuh. “Kini giliran masyarakat Belitung, yang kami ajari hospitality,” kata Asdep Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat, Deputi Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata, Kemenpar, Oneng Setya Harini.

Mereka mengumpulkan masyarakat Belitung, dan menggelar sosialisasi bertajuk “Pentingnya Homestay dan Sadar Wisata” di Destinasi Pariwisata, di Hotel Bahamas, Belitung, pada 21 Februari 2017. Acara ini diikuti oleh para penggiat wisata, pemilik home stay, kepala desa, dan BPD. Kegiatan ini dilakukan selama empat hari, sejak 21 Februari. Peserta dan tema pembahasan bervariasi setiap harinya.

“Di 10 Top Destinasi terus kami gerakkan masyarakat untuk memiliki homestay, dan diajarkan hospitality. Ini penting, agar masyarakat juga mendapatkan manfaat secara ekonomi dari pengembangan destinasi. Homestay itu harus dikelola dengan baik, oleh ibu-ibu di kampung-kampung yang berdekatan dengan destinasi wisata. Homestay sendiri bisa menjadi destinasi bagi wisatawan,” kata Oneng.

Oneng juga menjelaskan, bahwa pengembangan homestay yang diminta Menpar Arief Yahya itu adalah cara untuk memenuhi amenitas, yang kapasitas akomodasinya harus diperbanyak, untuk target wisman yang semakin besar, 20 juta tahun 2019. Dengan hotel dan resort yang ada, tidak akan mencukupi. “Maka homestay dikembangkan oleh Pak Menpar Arief Yahya, selain untuk memenuhi capacity, juga sebagai sharing economy,” sebut Oneng.

Sosialisasi dibuka oleh Wakil Bupati Belitung Erwandi A Rani. Kemenpar diwakili Kabid Internalisasi dan Pengembangan Sadar Wisata Kemenpar RI Yabes L Tosia.  Erwandi A Rani mengapresiasi langkah Kemenpar yang terus memberikan kesempatan bagi masyarakat Belitung untuk belajar mengelola homestay. Dia pun berharap, kesempatan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat Belitung.

"Peserta jangan segan bertanya dengan pakarnya ini, tentang pengolalaan homestay dan pokdarwis. Harus tahu apa upaya supaya home stay laku dan bisa bersaing dengan hotel. Jangan sampai berbulan-bulan enggak ada orang yang datang," kata Erwandi.

Ditambahkan dia, Kabupaten Belitung terkenal dengan keindahan lautnya. Saat ini, sudah terdapat 99 homestay di kawasan itu yang tersebar di wilayah Sijuk, Membalok, dan Selatnasik. Pendirian homestay ini akan terus bertambah lagi.

"Homestay punya segmentnya sendiri, mungkin wisatawan yang keuangannya minim bisa ke homestay dan homestay kan jarak ke objeknya tidak jauh. Mereka yang ingin berbaur dan mengenal masyarakat lokal juga bisa memilih home stay," tambahnya.

Menurutnya, kehadiran homestay selain untuk mengembangkan pariwisata, juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Dia berharap, masyarakat jeli dan siap untuk melihat peluang ini. "Homestay ini kita memback up daerah-daerah seputaran pariwisata yang jauh dari Tanjungpandan seperti di Sijuk, Membalong. Kalau Sijuk biasanya Tanjung Tinggi. Harapan kami wisatawan yang ke objek wisata gak perlu ke Tanjungpandan untuk menginap, tapi bisa ke homestay," jelasnya.

Sementara itu, Yabes L Tosia mengatakan, Belitung merupakan lokasi strategis untuk pengembangan homestay. Pasalnya, destinasi wisata yang berada di wilayah ini semakin banyak. "Mau tidak mau kita pelaku pariwisata, pemerintah, maupun swasta bersama-sama mendukung program kebijakan pemerintah. Saatnya untuk kerja keras lagi mengembangkan pariwisata yang dinamis ini," papar Yabes.

Dalam sosialisasi itu, Yabes menekankan tentang pentingnya pengelolaan toilet, pengelolaan sampah pada homestay. Toilet merupakan hal penting yang sering kali diabaikan. Untuk itu, penekanan kepada kebersihan dan kenyamanan toilet menjadi sangat penting bagi homestay.

"Pariwisata ini dinamis, dan Belitung dengan potensi wisatanya harus bisa mengikuti perkembangan itu. Saat ini kan homestay jadi pilihan wisatawan, karena mereka tak hanya mau mengenal destinasi, tapi mereka juga mau mengenal budaya dan kearifan lokal secara langsung. Inilah yang menjadi salah satu keunggulan dari homestay," ungkapnya.

Salah seorang peserta sosialisasi, Jumhadi mengatakan, sudah sejak 2012 dirinya menjadikan rumahnya sebagai home stay yang terletak di Desa Tanjung Tinggi, Kecamatan Sijuk, Belitung. Nama homestaynya adalah Panji dan Vadila. Hingga kini, rumahnya sudah didaangi wisatawan dari 23 negara.

"Ada tiga kamar di rumah yang kami jadikan home stay. Saya dan keluarga juga tinggal bersama dengan tamu. Karena kami enggak hanya jual kamar, tapi tamu juga bagian dari keluarga kami," ungkap Jumhadi.

Jumhadi menceritakan, awalnya dirinya sempat terkendala dengan bahasa saat kedatangan tamu dari mancanegara. Namun seiring waktu, ditambah keinginan yang kuat, dia mulai mempelajari bahasa asing, dan bisa berkomunikasi dengan lancar bersama wisatawan itu.

"Kalau awal buka dulu kebanyakan wisman yang menginap ada yang dari Jerman, Amerika, Inggris, banyak lah. Tapi kesini-kesini juga banyak wisatawan nusantara yang menginap," jelasnya.

Menjalankan bisnis homestay cukup menjanjikan, dan sangat membantu ekonomi keluarga Jumhadi. Hingga Agustus nanti, kamarnya sudah penuh dibooking. Dia bahkan berencana akan menambah kamar lagi di rumahnya untuk dijadikan homestay.

"Kalau lamanya variatif. Ada yang tiga malam, ada yang satu minggu. Kalau kamar minta Rp175.000/malam itu termasuk sarapan pagi. Saya biasa promosi homestay dengan media sosial, dan dari mulut ke mulut," tukasnya.(*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!