"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Kamis, 30 Maret 2017

Menteri Pariwisata Arief Yahya Putuskan Soto Jadi Branding Makanan Nasional

JAKARTA – Ada terobosan kuat yang dilontarkan Menpar Arief Yahya di acara promosi kuliner Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Rabu 29 Maret 2017. Bertempat di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, menteri pilihan Presiden Joko Widodo yang berasal dari Banyuwangi itu mengumumkan bahwa Soto menjadi branding makanan nasional.

“Sebetulnya kuliner Indonesia banyak yang lezat. Tapi terlampau banyak, sehingga tidak berani ambil keputusan. Saya putuskan saja, mohon diterima, yakni Soto sebagai branding makanan nasional," kata Menpar Arief Yahya saat memberi sambutan di acara Dialog Gastronomi Nasional ke-2, di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Rabu 29 Maret 2017.

Sejumlah tokoh penting yang hadir terlihat sepakat dengan sang menteri. Dari mulai Sekertaris Kemenpar Ukus Kuswara, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti, Stafsus Menpar Bidang Komunikasi, Don Kardono, Ketua Akademi Gastronomi Indonesia (AGI) Vita Datau Mesakh, terlihat ikut mengamini. Pakar Kuliner Indonesia, William Wongso bersama dan peserta siswa SMK Pariwisata dan Sekolah Tinggi Pariwisata Jakarta (STP), juga ada di barisan yang sama. Semua seakan sepakat bahwa soto identik dengan Indonesia.

Sebelum acara berlangsung, Indonesia memang belum punya branding makanan nasional. Sementara negara lain, sudah punya kuliner khas yang sudah banyak dikenal di berbagai penjuru dunia. Sebut saja Vietman dengan pho-nya, Thailand punya tom yam, Jepang dengan sushi, Korsel identik dengan kimchi, Turki dengan Kabab, dan masih banyak lagi.

Menpar pun tak ingin kalah dengan negara-negara tadi. Dia ingin, Indonesia juga bisa sukses berpromosi dengan lidah dan rasa. Tak kalah dengan Thailand yang sukses mengembangkan Restoran Thai yang merambah lebih dari 6.000 gerai di dunia. “Kita bisa mereplikasi cara Amerika Serikat dalam mengkreasi, menginkubasi, dan mengkomersialisasi sesuatu," kata Arief sangat meyakinkan.

Kebetulan, soto sudah merakyat. Rasanya pun sangat lezat. Dari mulai rakyat jelata hingga Presiden Jokowi tak ada yang tidak mengenal soto. Prosesnya cepat, mudah dan sangat mungkin bisa distandarisasi, dengan bumbu-bumbu yang sama. Dan jenisnya pun banyak. Ada 25 jenis soto yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Soto itu mudah membuatnya, merakyat dan rasanya memang oke,” kata Arief Yahya yang juga hobi kuliner di daerah-daerah itu.

Selain itu, kuliner Soto juga telah masuk daftar 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia (IKTI). Makanannya juga bisa dinikmati di segala suasana, mulai sarapan, makan siang sampai makan malam. “Dua-duanya mudah dibuat, mudah dimasak, siapa saja bisa asal mau. Sehingga kalau mau dikembangkan ke luar negeri Soto itu bisa menyaingi Tom Yam di restoran-restoran Thailand,” kata Arief Yahya.

Vita Datau Messakh, Ketua Akademi Gastronomi Indonesia juga sepakat untuk mendorong Soto sebagai kuliner nomor satu di dunia. Kelezatannya tidak perlu diragukan lagi. Bumbu yang terdapat dalam Soto juga membuat cita rasanya semakin khas dan kuat.

"Soto sudah tampil di World Halal Tourism Award 2016 di Abu Dhabi, Uni Emirate Arab. Sudah terbukti bisa menyaingi kuliner asal Malaysia, Abu Dhabi, Palestina dan Turki yang sama-sama menjadi nominator di World Halal Tourism Award 2016,” tukasnya.

Pada ajang sport tourism internasional Tour de Singkarak yang diadakan Agustus lalu, soto juga menjadi santapan pembuka Festival Kuliner Soto serta Sate Nusantara di TdS 2016. Banyak pembalap dunia yang menyukai kedua hidangan tersebut. Peserta dari Iran, Malaysia, Filipina, Hongkong hingga Jepang, mengakui kelezatan Soto. (*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!