"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Sabtu, 01 April 2017

Malaysia dan Singapura Ramaikan Pelangi Travel Mart 2017

 
 
BANGKA BELITUNG – Travel agent dari dua negara tetangga, Singapura dan Malaysia, dipastikan akan menjadi peserta Pelangi Travel Mart 2017 pada 9-12 Mei mendatang. Selain Singapura dan Malaysia, event kreasi DPD Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Bangka Belitung itu juga akan diikuti travel agent dari lokal dan nasional.
 
"Pelangi Travel Mart 2017 menargetkan 50 seller dan 100 buyer. Saat ini sudah ada 70 peserta yang mendaftarkan diri. Untuk seller masih difokuskan ke stakeholder lokal seperti hotel, toko oleh-oleh, dan rumah makan. Rencananya akan diikuti travel agent dari Malaysia dan Singapura. Dan bila tidak ada halangan, beberapa negara tetangga juga ikut. Mereka datang dengan niat menjual paket untuk mempromosikan Babel," kata ketua ASPPI Babel, Agus Pahlevi, Sabtu (1/4/2017).
 
Selain hard selling, kegiatan ini juga akan diisi dengan kunjungan ke destinasi wisata di tiga kabupaten/kota. Bangka Selatan, Pulau Lepar, Bangka Tengah, Namang, dan Kota Pangkalpinang, dijadikan pilihan untuk city tour. Selain mengenalkan wisata bahari, Pelangi Travel Mart juga akan menyajikan atraksi budaya seperti Barongsai, Dambus, tari-tarian tradisional, dan Hadroh.
 
"Tetap wisata bahari yang kita tonjolkan, karena ini memang sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Tapi kita coba tampilkan atraksi budaya, jadi mereka tahu Babel itu tidak cuma pantai dan laut. Kami mulai dari Pulau Lepar, jadi nanti orang dari Belitung ke Bangka bisa berwisata ke pulau-pulau yang ada penduduknya," ujar Agus.
 
Agus mengungkapkan, Lepar merupakan centra wisata unggulan di Bangka Selatan (Basel). Masyarakatnya memiliki potensi yang luar biasa untuk mengembangkan pariwisata kemasyarakatan. Dan kebetulan, Lepar juga memiliki atraksi budaya rutin seperti Muang Jong.
 
"Dari Pulau Lepar, baru menuju ke pulau sekitarnya, ada Pulau Kelapan dan Pulau Mercusuar. Selain itu, juga ada desa wisata Tukak, yaitu desa wisata daur ulang selain barang bekas. Di sana sekarang juga sedang mengembangkan wisata mangrove, pusat kota Toboalianya, Benteng Toboali, Batu Belimbing dan klenteng," beber Agus.
 
Selain bekerjasama dengan Pemprov Bangka Belitung, Pelangi Travel Mart 2017 juga didukung Kementerian Pariwisata, Perhimpunan Hotel Seluruh Indonesia (PHRI), dan Himpunan Pramuwista Indonesia (HPI).
 
Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esthy Reko Astuty mengatakan, mempromosikan obyek wisata baru yang menarik di tanah air antara lain melalui pameran yang digelar dalam Pelangi Travel Mart 2017, patut diberi apresiasi dan dukungan karena sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pergerakan wisatawan mancanegara.
 
“Wisnus menjadi kekuatan pariwisata Indonesia karena kontribusinya berupa pengeluaran mereka sangat menentukan pendapatan devisa negara. Dan ini jadi makin menarik lantaran menawarkan paket wisata di seluruh penjuru Bangka Belitung. Para pelaku usaha jasa wisata yang rata-rata anak muda dan berani mengambil resiko membuka destinasi baru yang belum dikenal. Mereka gencar mempromosikan paket wisata melalui media online atau internet,” pungkas Esthy.
 
Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut positif akan penyelenggaraan travel mart itu. Dia mengapresiasi keberanian anak-anak muda untuk membuka destinasi baru yang belum dikenal. "Saran saya, segera bergabung ke ITX Indonesia Tourism Xchange, digital market place yang diendors oleh Kemenpar, agar pelaku bisnis pariwisata kita di seluruh Indonesia ini bermain di online," ungkap Menteri Arief. 

Arief Yahya bahkan di Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kepariwisataan mengulang kembali, bahwa travel agent konvensional akan semakin berat. Karena customers sudah berubah. Mereka 70% sudah online digital, mereka sudah look, book, pay, menggunakan cara digital. "Dulu ada 124.000 wartel di Indonesia, ketika era digital hadir, mereka langsung menghilang, karena lifestye customers nya dalam berkomunikasi juga berubah," ujar Arief Yahya. (*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!