"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Kamis, 06 April 2017

Tampilkan Gatot Kaca, Wayang Ajen Serukan Revolusi Mental

 

JAKARTA – Wayang Ajen kembali mempertontonkan ketajaman tajinya. Kali ini pertunjukan wayang yang dinaungi Kementerian Pariwisata itu kembali
unjuk kebolehan di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jalan Merdeka Barat No. 3 Jakarta Pusat, Jumat (7/4/2017). Ceritanya akan dibalut dengan seruan Revolusi Mental yang kerap disuarakan Presiden Jokowi.

Ya, wayang kontemporer yang memadukan wayang golek Sunda dan teater modern lengkap dengan multimedia itu akan kembali beraksi . Warnanya pasti beda dengan yang di Istana saat perayaan Sumpah Pemuda 28
Oktober 2016 silam. Juga tidak akan sama dengan cerita yang sepat membuat Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla tertawa
terpingkal-pingkal . “Ceritanya akan menampilkan Gatot Kaca," ujar Wawan Gunawan, nama asli ki dalang yang pernah mendapatkan apresiasi dari UNESCO 2010 itu.

Tak hanya Gatot Kaca yang disiapkan. Pria yang sudah mengibarkan karya budaya Merah Putih di 49 negara itu juga menyiapkan hal istimewa
lainnya. Hal istimewa itu nantinya akan dibalut dengan cerita Revolusi Mental. “Pertunjukan wayang, baik wayang golek, kulit dan wayang
lainnya mempunya peran dan fungsi sebagai seni tontonan dan tuntunan. Harus ada pesan moralnya. Yang penasaran silakan datang ke Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jalan Merdeka
Barat No. 3 Jakarta Pusat, 7 April 2017,” ucap Wawan Gunawan.

Wayang Revolusi Mental yang digagas Ki Dalang Wawan Ajen dan Gaura Manca Caritadipura itu adalah upaya baru dalam dialog harmonis melalui budaya. Muaranya mengarah ke Revolusi Mental. “Revolusi mental di sini disampaikan kepada publik melalui cara baru. Jurusnya dikemas melalui pertunjukan seni wayang golek khusus,” ujarnya

Yang  membuatnya beda, di pertunjukan ini akan ada transformasi pertunjukan wayang golek kekinian yang digarap secara modern.
“Lakonnya  Mental Sang Satria (mental Ksatria Gatotkaca, Red). Lakon wayang ini menggambarkan wujud nyata sifat, sikap dan prilaku Gatotkaca sebagai ksatria yang berkepribadian mempunyai prinsip dan
jiwa mandiri penuh tanggung jawab. Jiwa Gatotkaca yang solid, speed dan smart,” ujar dalang Wawan.

Pria yang juga Kepala Bidang Wisata Budaya Kemenpar itu mengaku terinspirasi ide dasar dari digaungkannya kembali gerakan revolusi
mental oleh Presiden Joko Widodo. “Jiwa bangsa yang terpenting adalah jiwa merdeka,  jiwa kebebasan untuk meraih kemajuan. Jiwa merdeka disebut Presiden Jokowi sebagai positivisme,” tuturnya.

Seperti diketahui, Gagasan revolusi mental pertama kali dilontarkan Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. Soekarno melihat revolusi nasional Indonesia saat itu sedang mandek, padahal tujuan revolusi untuk meraih kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya belum tercapai.
Hal menarik dalam pertunjukan wayang revolusi mental ini bisa disimak saat tokoh Gatotkaca mendapat wejangan dari Prabu Batara Kresna. Prabu Batara Kresna adalah tokoh yang mengemban kebajikan dan keadilan.

Dialog ini kekuatannya ada di teks. Kata-kata yang disampaikan oleh Bung Karno kembali diputar ulang. Setelah itu diekspresikan dalam
dialog wayang dengan kekuatan ekspresi dan vibrasi suara sang dalang. "Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala,” tambah sang Dalang.

Pesan selanjutnya,yang disampaikan dalam  pertunjukan untuk memahami arti penting setelah bangsa kita merdeka, sesungguhnya perjuangan itu belum, dan tak akan pernah berakhir. “Kita semua masih harus melakukan
revolusi, namun dalam arti yang berbeda. Bukan lagi mengangkat senjata, tapi membangun jiwa bangsa,” sambung dalang Wawan.

Dalam pertunjukan yang akan berlangsung dari pukul 15:00-15:15 WIB itu, Wayang Ajen mempunyai misi membangun jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku agar berorientasi pada
kemajuan dan hal-hal yang modern.Sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

“Pesan moral tersebut disampaikan lewat dialog dan monolog para panakawan Cepot dan Dawala yang disampaikan dalam humor serta guyonan yang penuh tuntunan,” ujar Wawan.

Menpar Arief Yahya selalu mengingatkan di berbagai kesempatan, lestarikan adat dan budaya lokal. Karena itulah yang akan membawa Indonesia terbang di era cultural industry atau creative industry. “Semakin dilestarikan semakin mensejahterakan,” kata Menteri Arief. (*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!