"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Rabu, 07 Juni 2017

Qatar Airways Diboikot, Begini Solusi Menpar Arief Yahya untuk Wisman

 

JAKARTA - Diboikotnya maskapai Qatar Airways oleh beberapa negara di Timur Tengah, langsung dihitung oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya. Tim Crisis Center Kemenpar pun terus memantau perkembangan demi perkembangan, lalu mencari solusi terbaik untuk menjaga agar wisman yang datang dari Timur Tengah, khususnya via Doha, tidak sampai goyah.

Arief Yahya memang memprediksi, dampaknya sangat serius bagi wisman yang akan berkunjung ke Indonesia. Seperti diketahui, Qatar Airways adalah maskapai full service terbaik, yang banyak membawa wisman termasuk yang berasal dari Eropa ke Indonesia. “Karena itu, kami terus menghitung segala kemungkinan yang terjadi,” ungkap Menteri Arief Yahya yang pernah dinobatkan sebagai Marketeer of The Year 2013 oleh MarkPlus itu.

Menteri Pariwisata yang berasal dari Banyuwangi itu mengatakan kemungkinan jumlah penumpang pesawat itu yang akan hilang sekitar 100 ribu per tahun (mengacu data 2016). Nah, 70 persennya merupakan wisatawan mancanegara (wisman).

"Impact-nya katakanlah setahun ini 7 bulan (pemboikotan) sekitar 50 ribu wisman (akan hilang), karena Qatar Airways diboikot. Maskapai ini tidak bisa terbang ke mana-mana," ujar Arief Yahya ditemui di kompleks Istana Negara, Selasa (6/6).

Angka tersebut, lanjut Arief, merupakan wisman yang biasanya menggunakan jasa penerbangan maskapai milik Qatar Airways itu. Terutama dari negara-negara yang memberlakukan pemboikotan.

Lantas apa solusinya? "Akan kami pindahkan, yang tadinya naik Qatar, dipindah ke Emirates dan Etihad," jelas dia.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan mengalihkan lisensi penerbangan milik Qatar kepada Emirates maupun Etihad. Termasuk maskapai negara lain di Timur Tengah.

"Saya sudah minta ke kemenhub nanti untuk memindahkan itu. Apa boleh buat, wong nggak bisa terbang? Kalau enggak, kita rugi 100 ribu. Itu angka yang besar sekali. Kami juga kehilangan opportunity, yang seharusnya mulai bulan ini Qatar dan Emirates mau menambah jumlah pesawat yang terbang ke Indonesia," tambah mantan dirut Telkom itu.

Begitu krisis di Qatar, Menpar Arief Yahya langsung berkoordinasi dengan koleganya Menhub Budi Karya Sumadi. Dua menteri ini memang sangat cair dalam berkolaborasi, karena sesama berlatar belakang professional, sama-sama bekerja dari back ground yang sama. Bergerak di sector swasta, sehingga memungkinkan untuk bekerja lebih cepat, lebih antisipatif dan lebih sensitif melihat dinamika bisnis.

“Jadi gini, Kita prihatin dengan keputusan soal Qatar oleh Negara-negara Timur Tengah itu. Tapi apapun, kita harus memberikan substitusi bagi pergerakan masyarakat sebagai customers pengguna jasa penerbangan. Kita sudah bisa menyelesaikannya,” jawab Menhub Budi Karya.

Menurut BKS, sapaan Menhub Budi Karya itu, beberapa yang dari Jakarta untuk tujuan umrah, sudah ditampung oleh Garuda Indonesia dan Saudi Arabia Airlines. Sebaliknya, yang dari Saudi ke Indonesia, dilayani oleh Garuda Indonesia, Saudi Airlines dan Turki Air.

“Berkaitan dengan angkutan wisatawan, saya setuju dengan sahabat saya Pak Menpar Arief Yahya. Pada dasarnya, banyak penerbangan yang ingin masuk ke Indonesia. Ini bukan berarti Qatar tidak perlu lagi, bukan ya. Saya hanya ingin mengatakan, substitusi terhadap aksesibilitas udara itu banyak sekali. Ada Emirates, Turki, Saudi, Etihat, dan juga Garuda Indonesia sendiri. Kami akan segera koordinasi, agar tidak kehilangan opportunity,” kata Budi Karya Sadikin.   (*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!