"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Senin, 12 Juni 2017

Sah, Kopi Gayo Kantongi Pengakuan Uni Eropa

 

JAKARTA - Kopi bakal semakin melekat dengan citra Indonesia di mancanegara. Meski bukan tanaman asli Indonesia, tapi kopi yang ditanam di wilayah Nusantara ternyata punya cita rasa tersendiri yang sangat khas. 

Kopi Jawa sudah jauh-jauh sebelumnya kondang. Sedangkan Kopi Bali juga mulai ngetop. 

Tapi yang terkini, ada kopi gayo yang ditanam di Nagroe Aceh Darussalam yang juga mendunia. Negara-negara di Eropa pun mengakui kopi dari wilayah Aceh Tengah itu dalam daftar Indikasi Geografis.

Jumat pekan lalu (9/6), Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna H Laoly bertemu dengan Duta Besar Uni Eropa untuk Republik Indonesia (RI) Vincent Guerend di Jakarta. Pada pertemuan itu, Dubes Guerend menyampaikan ucapan selamat kepada pemerintah Indonesia karena kopi gayo telah resmi terdaftar sebagai Indikasi Geografis di Eropa.

Lantas apa makna Indikasi Geografis? Merujuk definisi dari Badan Litbang Kementerian Pertanian, Indikasi Geografis adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena faktor lingkungan geografis -termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut- memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan.

Yasonna mengatakan, penerbitan sertifikat Indikasi Geografis untuk kopi gayo menjadi bukti eratnya kerja sama Indonesia dengan Eropa. “Terima kasih atas kerja sama  yang telah terjalin produk Indikasi Geografis Indonesia dengan Uni Eropa,” ujar Yasonna, Sabtu (10/6). 

Lebih lanjut Yasonna mengatakan, Dubes Guerend pada kesempatan itu juga menyampaikan juga rasa terima kasihnya atas kerja sama yang telah terjalin selama ini dengan Indonesia, termasuk dalam hal Indikasi Geografis. Dubes Guerendt pun menyampaikan ucapan selamat kepada Indonesia karena kopi gayo telah terdaftar dalam Indikasi Geografis Uni Eropa. 

“Semoga hal itu dapat memacu industri menengah yang ada di Indonesia untuk berkembang,” ujar Yasonna menirukan ucapan Dubes  Guerend.

Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) jauh-jauh hari sebelumnya juga sudah bergerak cekatan. Dalam rangka Hari Kekayaan Intelektual Sedunia 2017 beberapa waktu lalu, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenkumham menyerahkan sertifikat merek kolektif Kopi Arabika Gayo.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengucapkan selamat buat Aceh dengan kopi gayo-nya. Setiap daerah di tanah air menghasilkan kopi dengan aroma dan teste yang beragam. Ketinggian, kadar air, curah hujan, dan unsur hara menciptakan jenis dan sensasi rasa kopi yang berbeda. "Kita banyak ragam kopi, dan kopi itu minuman selera dunia. Karena itu keragaman kopi itu bisa menjadi satu pintu masuk promosi pariwisata Indonesia," kata Arief Yahya. 

Aceh, menurut Arief Yahya bisa menjadi destinasi beverage, dengan produk unggulan kopi. Kedai kopi di Aceh sangat ramai setiap malam sampai larut pagi. Kopi gayo sangat eksis di masing-masing kedai itu. 

"Tahun lalu, 2016 ada Festival kopi internasional atau International Banda Aceh Coffee Festival 2016 di Kota Banda Aceh selama tiga hari, mulai 12 Mei. Festival itu  digelar di Lapangan Blang Padang, Kota Banda Aceh. Festival itu bisa menjadi atraksi tersendiri untuk menarik wisatawan ke Aceh," kata Arief yang melihat keunikan cara orang Aceh membuat kopi tarik itu. 
(*****)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!