"Sepenggal hati mungkin tak bisa bercerita, tapi sepotong cerita bisa membuat hati bicara" - Andre OPA ********* "Music is everybody’s possession. It’s only publishers who think that people own it.” - John Lennon

Sabtu, 01 Juli 2017

Gawai Dayak Sintang Bakal Digelar 5-10 Juli 2017



SINTANG - Kalimantan Barat sebagai wilayah  terus berupaya meningkatkan potensi wisatanya dengan mengoptimalkan kebudayaan Dayak. Usai Kota Pontianak menggelar Pekan Gawai Dayak (PGD) ke-32 yang mendatangkan 500 tamu istimewa dari suku Indian (Amerika), Suku Maori dari New Zeawland dan masyarakat Dayak dari Malaysia, kini even crossborder tourism serupa akan digelar di Kabupaten Sintang pada 5-10 Juli 2017 di Kompleks GOR Apang Semangai, Baning Sintang.

“Pelaksanaan Gawai Dayak Tingkat Kabupaten Sintang akan kita hidupkan kembali karena mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Sintang. Kami sudah membentuk panitia pelaksana yang dipimpin oleh Hendrika Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Sintang. Dalam gawai Dayak ini kita ingin mempromosikan potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Sintang dan dalam beberapa jenis perlombaan nanti ada unsur olahraganya yang banyak dilakukan kaum muda,” terang Jefray Edward, Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Sintang, Jumat (30/6).

Di Kalimantan Barat, Suku Dayak merupakan kelompok etnis terbesar di Kabupaten Bengkayang, Landak, Sanggau, Sintang, dan Sekadau, sementara di Kabupaten Kapuas Hulu suku Dayak dan Melayu tersebar merata. Masing-masing suku Dayak yang tersebar di berbagai wilayah ini mempunyai ritual tahunan yang dilaksanakan sesudah panen, sebuah upacara sebagai ungkapan syukur atas melimpahnya panen dan perlindungan yang diberikan oleh Jubata. 

"Pelaksanaan upacara ini juga dilakukan di daerah masing-masing, dengan nama yang berbeda-beda pula. Ada yang menamainya dengan Gawai, Naik Dango', Maka' Dio', dan Pamole' Beo'," jelas Jefray. 

Upacara adat syukuran sehabis panen ini dilaksanakan oleh masyarakat Dayak dengan nama berbeda-beda. Orang Dayak Hulu menyebutnya dengan Gawai, di Kabupaten Sambas dan Bengkayang disebut Maka‘ Dio, sedangkan orang Dayak Kayaan, di Kampung Mendalam, Kabupaten Putus Sibau menyebutnya dengan Dange.

Dalam Gawai, selain acara inti yakni nyangahathn (pembacaan mantra), juga ditampilkan berbagai bentuk budaya tradisional seperti berbagai upacara adat, permainan tradisional, dan berbagai bentuk kerajinan yang juga bernuansa tradisional. 

"Penyajian berbagai unsur tradisional, selama Gawai Dayak ini, menjadikannya sebagai event yang eksotis di tengah masyarakat perkotaan yang modern," kata Jefray. 

Gawai Dayak bukanlah peristiwa budaya yang murni tradisional, baik dilihat dari tempat pelaksanaan maupun isinya. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Sintang, Hendrika yang dipercayakan untuk memimpin kepanitiaan Gawai Dayak Tingkat Kabupaten Sintang menjelaskan bahwa acara Gawai Dayak Sintang ini akan terdapat 16 jenis perlombaan

“Kami sudah siapkan 16 jenis perlombaan permainan rakyat jaman dahulu yang bisa diikuti oleh masyarakat umum Kabupaten Sintang. Kita ingin memperkenalkan dan melestarikan permainan rakyat yang sudah jarang kita mainkan” terang Hendrika.

Lanjut Hendrika, adapun 16 jenis perlombaan tersebut adalah enggrang, pangkak gasing perorangan, group band etnik, melukis perisai, menumbuk padi, busana anak, sastra lisan, memainkan sape, memasak tradisional, menyumpit perorangan dan beregu, memahat, lagu Dayak khusus anak dan dewasa, tari Dayak kreasi, pemilihan bujang dara gawai, menganyam manik, dan menangkap babi.

Selain itu panitia juga menyiapkan stand untuk masyarakat umum, pengrajin dan pelaku usaha kecil menengah untuk memasarkan produknya selama gawai. "Silakan masyarakat mendaftar ke Sekretariat Panitia di Hotel Cika Jalan JC Oevang Oeray Sintang. Pada malam penutupan akan ada penampilan Artis Iban Ricky EL,” tambah Hendrika.

Dihubungi terpisah, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esthy Reko Astuti yang didampingi Kabid Promosi Wisata Buatan, Ni Putu Gayatri menyambut baik terlaksananya even ini. 

"Gawai Dayak juga merupakan sarana pengembangan pariwisata bagi Kalimantan Barat. Gawai Dayak juga merupakan sebuah sarana pengikat hubungan kekeluargaan sesama suku Dayak, sebagai suatu tradisi yang sangat luhur, yang telah dilaksanakan secara turun temurun," ujar Esthy. 

"Sebagai bangsa yang berbudaya dan memiliki beragam warisan budaya dan tradisi, kita patut berbangga dan wajib untuk menjaga dan melestarikannya," lanjutnya. 

Kemenpar memang terus mencari ruang untuk menangkap peluang baru di titik-titik lintas batas dengan negara tetangga. Fokusnya tentu saja mengarah ke wilayah terluar di Kalimantan Barat. Spot yang dipilih pasti wilayah bersinggungan dengan Malaysia. Dari mulai Sambas (Paloh dan Sajingan Barat), Bengkayang (Siding dan Jagoi Babang), Sintang (Ketunggu Hulu dan Ketunggu Tengah), Kapuas Hulu (Puring Kencana) dan Sanggau (Entikong dan Sekayam), semua dipetakan satu per satu.

Menpar Arief Yahya yakin, akan bermunculan banyak peluang bisnis baru di wilayah perbatasan. Perbatasan tidak lagi sepi, tidak lagi dianggap sebagai daerah pinggiran. Tetapi justru menjadi wilayah terdepan Indonesia.

“Karena itu, menggerakkan perekonomian masyarakat di perbatasan dengan Crossborder Festival itu akan semakin konkret. Apalagi ada pengusaha lokal dari daerah sana yang bergerak, itu akan sangat kuat multiplying effect-nya. Di Pariwisata itu setiap investasi yang ditanamkan, akan berdampak 170 persen buat masyarakat di sekitar itu,” kata Arief Yahya.(*)
by Facebook Comment

Create your own banner at mybannermaker.com!